Kehidupan Glamor di Shanghai

  • Mobil-mobil mewah di jalanan utama Shanghai. Mayoritas pemiliknya adalah pengusaha muda.

    Mobil-mobil mewah di jalanan utama Shanghai. Mayoritas pemiliknya adalah pengusaha muda.

  • Panorama senja kota Shanghai.

    Panorama senja kota Shanghai.

  • Merek-merek fesyen ternama dunia jadi favorit di Shanghai.

    Merek-merek fesyen ternama dunia jadi favorit di Shanghai.

  • Bar Rogue yang jadi salah satu spot hangout para jutawan.

    Bar Rogue yang jadi salah satu spot hangout para jutawan.

  • Pengusaha Steven Zhu bersama istri dan putranya di kediamannya.

    Pengusaha Steven Zhu bersama istri dan putranya di kediamannya.

  • Jeff Huang, salah satu pengusaha muda lokal.

    Jeff Huang, salah satu pengusaha muda lokal.

  • Pengusaha properti Dai Jun alias Denny di kediamannya yang mewah.

    Pengusaha properti Dai Jun alias Denny di kediamannya yang mewah.

Click image to view full size

Didorong gaya hidup flamboyan generasi baru pengusaha muda, Shanghai tampil kian glamor, kian berkilau. Dunia menjulukinya “New York dari Timur.” Mitologi lokal menyebutnya “Kepala Naga.” Bagaimana sebenarnya kota ini menerjemahkan kemewahan?

Teks dan foto oleh Alessandro Gandolfi

Kisah Thalos dimulai dari berdagang Playboy dan Penthouse di sekolah. Dia mendapatkan pasokan majalah pria dewasa itu dari sepupunya yang menetap di Kanada. Di usia 18 tahun, Thalos beralih ke bisnis baru: menjajakan kartu keanggotaan sebuah pusat kebugaran. Setelah itu: mengimpor cerutu dari Amerika, kemudian menjualnya di kasino-kasino di Makau.

Jejak panjang itu mengantarkannya ke dunia yang bergelimang kemewahan. Thalos kini merupakan pemegang tunggal hak pemasaran kaviar Black Pearl, perhiasan Theo Fennell, serta wiski Macallan. Lembar-lembar yuan yang diraupnya kemudian diinvestasikan di beragam bidang, contohnya pertambangan dan keuangan. Pada 2013, perusahaan-perusahaan miliknya meraup omzet sekitar $700 juta dan mempekerjakan 3.000 orang.

Pencapaian impresif untuk pria berusia 33 tahun yang lahir dalam kondisi sangat miskin di sebuah desa yang terpisah 40 kilometer dari Shanghai. “Keputusan terbaik yang pernah saya ambil adalah mempelajari bahasa Inggris,” katanya di samping meja catur bernilai $3 juta yang dihiasi serpihan emas murni. “Di Tiongkok, orang-orang yang terjun ke bisnis dengan motif politik pasti berakhir dengan kekecewaan. Mereka dinosaurus, tak mampu beradaptasi. Sementara kami niagawan yang sejati. Kami luwes dan kosmopolitan.”

Nama sebenarnya bukanlah Thalos. (Banyak orang di Tiongkok mengadopsi nama Barat atau kebarat-baratan.) Dia memiliki istri asal Ukraina, seorang anak, dan sebuah pesawat jet yang siap lepas landas kapan saja. Thalos menampilkan karakter ambisius yang khas dari seseorang yang pernah menderita, walau di momen yang lain bisa bersikap rendah hati layaknya seorang biksu Zen, seperti sosok yang lazim dia dengarkan ceramahnya di radio mobilnya.

Thalos, pengusaha muda yang memulai usahanya dengan menjual Playboy dan Penthouse.

Thalos, pengusaha muda yang memulai usahanya dengan menjual Playboy dan Penthouse.

“Film favorit saya The Godfather,” sambungnya. “Dari film itu saya belajar banyak hal: tentang pentingnya mengambil keputusan tanpa terburu-buru, pentingnya mengelola kebiasaan buruk, pentingnya memercayai orang yang tepat. Juga tentang pentingnya memiliki visi.”

Thalos adalah sampel sempurna dari kaum wiraswastawan muda Tiongkok. Kelompok ini dicirikan dengan keinginan menikmati kemewahan, menampik masa lalu (terutama yang terkait isu politik), serta menatap masa depan dengan mata seorang manajer yang kalkulatif.

Di Tiongkok, menurut laporan majalah Hurun Report, terdapat 67.000 orang dengan aset pribadi menembus $16 juta, dan lebih dari sejuta jiwa yang mengantongi $1,6 juta. Berikut profil mereka: berusia antara 30-40 tahun, berpendidikan tinggi, beristri, beranak tunggal (yang biasanya diminta bersekolah di Amerika atau Inggris), serta menekuni bidang manufaktur atau properti (yang galibnya merupakan perusahaan warisan sang ayah). Orang-orang ini juga gemar mengoleksi arloji, membeli karya seni dari seniman sekaliber Zhou Chunya atau Zeng Fanzhi, serta bermain golf dan mengisi liburan di Prancis.

“Saya memang hampir sesuai dengan karakter itu,” komentar Steven Zhu di rumahnya yang berlokasi di Distrik Putuo. “Bedanya, saya ingin memiliki anak kedua.” Bersama ayahnya, Steven memimpin perusahaan berisi 700 pekerja yang memproduksi label dan kartu. Kliennya datang dari penjuru bumi. Ketika saya datang, Radisson, putranya yang berumur setahun, tengah mengendarai miniatur mobil listrik Audi di ruang tamu, sementara Steven sibuk menyiapkan meja poker bersama teman-temannya. “Ini satu-satunya kebiasaan buruk yang saya pelihara. Pekerjaan menyedot semua energi saya,” kata pria 31 tahun ini. “Hei, lihat koin-koin (poker) itu, ada tulisan nama anak saya! Koin-koin itu adalah hadiah bagi ulang tahun pertamanya.”

Shanghai adalah motor ekonomi Tiongkok. Kota berpopulasi 20 juta jiwa ini adalah sebuah periuk besar di mana komunisme dan kapitalisme mesra bergandengan tangan. Dalam mitologi lokal, Shanghai dipandang sebagai “Kepala Naga,” aktor utama bagi lahirnya (calon) negara terkaya sejagat. >>



Comments

Related Posts

3883 Views

Book your hotel

Book your flight