Karimunjawa: Destinasi Tetirah

Awalnya perkampungan nelayan, Karimunjawa berubah menjadi destinasi tetirah yang populer. Hotel bermunculan, operator tur tumbuh subur, titik-titik diving dipetakan. Tapi, di tengah suburnya pariwisata, dua bahaya mengintip: illegal fishing dan banjir sampah. Sejauh mana kepulauan di utara Jawa ini sanggup bertahan?

Meluncur 30 menit ke sisi utara pulau, saya singgah di kompleks makam sakral yang bertengger di lereng bukit. Tak ada keterangan di nisannya. Kata penunggu makam, kuburan ini menyimpan jenazah Sunan Nyamplungan, putra Sunan Muria. Almarhum datang ke Karimunjawa untuk mewartakan Islam. Alkisah, suatu hari, secara kremun-kremun dia melihat gugusan pulau di utara Jawa. Dalam bahasa Jawa, kremun berarti samar, terminologi yang kemudian melahirkan nama Karimunjawa.

Dari cerita rakyat tentang Sunan Nyamplungan itulah banyak orang percaya, permukiman di Karimunjawa eksis sejak abad ke-15, atau mungkin lebih tua. Empat tahun silam, di perairan Pulau Genting, sebuah penelitian berhasil menemukan serakan keramik sepuh yang diyakini berasal dari zaman Dinasti Ming. Secantik apa Karimunjawa saat itu? Saya hanya bisa berimajinasi.

Kiri-kanan: Seorang nelayan di Pulau Tengah; Juru kunci makam Sunan Nyamplungan
Kiri-kanan: Seorang nelayan di Pulau Tengah; Juru kunci makam Sunan Nyamplungan

Ukuran makam sepertinya diatur berdasarkan status penghuninya. Pusara Sunan Nyamplungan berukuran besar. Makam-makam di sekitarnya sangat kecil seolah penghuninya anak-anak atau bangsa dwarf. Peziarah bersimpuh di hadapan makam tiap Senin dan Kamis pagi. Mereka melantunkan doa dan memberikan hormat kepada sosok yang mengukir sejarah manusia di Karimunjawa—500 tahun sebelum sejarah pariwisata ditulis.

Dari dermaga di sisi barat, saya menaiki perahu kayu dan memulai kegiatan favorit di Karimunjawa: island hopping. Di bawah siraman gerimis, saya menyambangi pulau-pulau di sisi timur. Di balik permukaan air yang bening, ikan-ikan aneka warna melesat lincah di antara karang. Di tempat yang lain, burung-burung melayang rendah melacak santapan. Kata joki perahu, mayoritas pulau di Karimunjawa sudah dibeli oleh pengusaha dan pejabat. Satu-satunya yang tak bertuan adalah Pulau Gundul, tempat pilot-pilot Angkatan Udara melatih akurasi rudal jet tempur. Tak seorang pun berani mendekatinya, apalagi berjalan-jalan di pantainya.

Kiri-kanan: Seorang turis di Pantai Nirwana; Renato, guru selam di Kura-Kura Resort.

Dari kejauhan, pulau-pulau seperti noda hijau di tengah laut biru. Pantainya landai. Pasirnya seputih bedak. Sulit menahan godaan untuk menyatroninya. Mudah dimengerti kenapa baterai kamera adalah barang yang paling banyak dikonsumsi di sini. Setelah 45 menit, perahu saya bersandar di Pulau Tengah. Tiga cottage di sini laris disewa tamu. Dua di antaranya berbentuk rumah panggung yang berdiri di atas laut dangkal dan terkoneksi oleh jembatan kayu. Tarifnya sangat terjangkau, Rp750 ribu per rumah, dengan kapasitas antara 12 hingga 15 orang. “Pemiliknya pengusaha asal Semarang,” kata Pak Tampi, penjaga pulau. “Penginapan ini sudah ada sejak 1991.” Kami berbincang di pelataran rumahnya yang difungsikan sebagai warung.

Ditemani kopi hangat, di tengah embusan angin yang beraroma garam, Pak Tampi menceritakan bagaimana pariwisata mengubah hidupnya. Selain gaji dari pemilik pulau, dia mendapatkan uang dari penyewaan rumah dan “fee” singgah perahu-perahu tur. Dari bisnis sederhana di surga mungil ini, Pak Tampi tak perlu lagi melaut demi menyambung hidup, dan bahkan sudah mampu membeli sebidang tanah di pesisir sebagai investasi hari tuanya.

Akomodasi vila di Kura-Kura Resort.

Sebelum terlalu jauh berpikir ulang tentang profesi editor majalah, saya melanjutkan tur ke pulau-pulau lain. Salah satu obyek andalan Karimunjawa adalah gosong, pulau pasir yang hanya muncul saat air surut. Merujuk peta, Karimunjawa memiliki tujuh gosong. Hari ini, pulau-pulau pasir itu masih tenggelam sebatas perut. Saya melompat dari perahu dan berenang di airnya yang dangkal. Rasanya seperti berada di kolam cetek di tengah laut dalam.

Perahu bermesin Dongfeng kini merayap ke Pulau Cemara Kecil. Ukuran-nya sesuai dengan namanya: hanya sedikit lebih luas dari lapangan bola basket. Di tepiannya, seorang remaja asal Belanda kamping sejak kemarin. “Saya ingin menyepi dari turis,” katanya sembari menunjukkan lokasi tendanya. Dia mengambil masker dan snorkel, kemudian menikmati keindahan yang tak mungkin ditemukan di negaranya.

Kiri-kanan: Awak kapal yang jamak disewa di Karimunjawa; bermain kayak menjadi opsi aktivitas di Kura-Kura Resort.

Saya menghampiri Pak Harto yang sedang memperbaiki jaring. Di Cemara Kecil, warga Dusun Nyamplungan ini hidup sendiri di gubuk reyot. Alasnya tanah, atapnya jerami. Tak ada pasokan listrik maupun sumber air tawar. “Pulau ini punya Bakrie,” katanya. “Mereka punya tiga pulau. Pantai Tanjung Gelam juga punya mereka.”

Sudah tiga tahun Pak Harto mengurus Cemara Kecil. Karena tak ada kamar untuk disewakan, dia hanya menggan-tungkan harapan pada ikan-ikan di laut dan uang singgah dari turis. “Kenapa tidak minta dibuatkan rumah permanen atau resor?” tanya saya. “Sudah pernah saya tanya dulu. Katanya menunggu Lapindo beres,” jawab Pak Harto diiringi senyum. “Setahu saya, yang mengelola pulau-pulaunya adalah Pak Suryo Sulisto. Dia itu siapa ya? Orangnya pendiam.”

Kiri-kanan: Turis di Pulau Geleang; Turis tengah melakukan snorkeling, aktivitas paling populer di Karimunjawa.
Kiri-kanan: Turis di Pulau Geleang; Turis tengah melakukan snorkeling, aktivitas paling populer di Karimunjawa.

Tak semua pulau seindah tampilannya. Beberapa telah terkontaminasi oleh sampah. Gelas plastik, sandal, dan peralatan makan menodai keindahan pantai. Bertaburan di antara Jawa dan Kalimantan, pulau-pulau di Karimunjawa bagaikan konstelasi planet di tengah galaksi biru yang menarik sampah-sampah dengan gravitasinya. “Sampah di mana-mana di Indonesia,” jelas Angelique, gadis blasteran Jawa-Belanda, yang baru pertama kalinya ke Karimunjawa.

Sampah biasanya bertaburan di pulau yang tak memiliki penjaga. “Yang sering menjadi masalah justru warga lokal yang mengantar tamu. Mereka kerap membuang sampah sembarangan. Kadang turis bule hendak membawa sampah, tapi justru diminta meninggalkannya di pulau,” jelas seorang ibu di Pulau Tengah.

Mangrove di Karimunjawa.

Tantangan lain Karimunjawa adalah illegal fishing. Jauh sebelum berstatus area konservasi, kepulauan ini pernah menjadi ladang potasium dan pukat harimau. Kondisinya kini lebih baik, terutama sejak pariwisata berkembang menjadi bisnis basah. Keinginan turis untuk berenang bersama ikan memicu kesadaran kolektif nelayan untuk meninggalkan metode perikanan yang merusak. Balai Taman Nasional juga telah menetapkan peta zonasi untuk melindungi ekosistem. Beberapa perairan yang menjadi tempat ikan bertelur ditutup untuk umum. Beberapa area lainnya haram untuk dimodifikasi. Namun, seperti kasus sampah, Karimunjawa terjebak di lokasi yang rentan invasi. Penangkap ikan bisa dengan gampang merangsek zona-zona verboten. Promosi atas keindahan laut Karimunjawa tak cuma memikat turis, tapi juga anasir-anasir brutal.

Jagawana taman nasional hanya memiliki dua speedboat untuk mengawasi perairan seluas 112 ribu hektare. Akibat mahalnya harga bahan bakar, patroli menjadi kegiatan yang sangat menguras biaya. “Kami tidak melakukan patroli harian. Paling tidak sebulan sekali,” ujar Anita Fahriza, penyuluh Balai Taman Nasional Karimunjawa. Untuk menyiasati anggaran, pemerintah mendirikan pos di empat pulau dan menyebar “mata-mata” lewat program kemitraan dengan masyarakat. Pada 2005, sebuah perahu dari Jakarta ditangkap setelah ketahuan memakai potasium. Pada 2011, sebuah kapal asal Rembang disergap karena memakai jaring cantrang.

Kiri-kanan: Kokpit kapal Cantika Express yang membawa penumpang dari Jepara ke Karimunjawa; Nelayan dengan salah satu tangkapannya.
Kiri-kanan: Kokpit kapal Cantika Express yang membawa penumpang dari Jepara ke Karimunjawa; Nelayan dengan salah satu tangkapannya.

Liza Adhy, staf Kura Kura Resort, punya kenangan buruk tentang illegal fishing. Di malam hari, katanya, belasan perahu kerap menangkap ikan di kawasan Taman Nasional, beberapa memakai pukat harimau. “Sejak 2009 bekerja di sini, saya belum pernah melihat kapal patroli di sekitar resor,” jelas Liza. “Kita beberapa kali memotret nelayan yang mengambil ikan di zona terlarang, lalu dilaporkan ke petugas, tapi belum mendengar ada tindakan setelahnya.” Setahun setelah Gisela menyematkan pujiannya, Maladewa tanpa pariwisata terancam menjadi Maladewa tanpa ikan. Namun hari ini, Karimunjawa masih bisa membius kita dengan kecantikannya.

DETAIL
Karimunjawa

Rute
Kepulauan Karimunjawa bisa dijangkau dari Semarang menggunakan KMC Kartini (024/7040-0010) yang bertolak tiap Sabtu pagi dari Pelabuhan Tanjung Emas. Opsi lain adalah menaiki pesawat carter Asco Nusa Air dari Semarang ke Bandara Dewadaru di Pulau Karimunjawa. Pemesanan bisa dilakukan melalui Kura Kura Resort. Penerbangan ke Semarang dilayani oleh Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com) dari Jakarta dan Surabaya; serta oleh Lion Air (lionair.co.id) dari Jakarta, Surabaya, Bali, dan Lombok.

Awan hitam pembawa badai sedang melintas di atas Karimunjawa.

Penginapan
Mayoritas penginapan berlokasi di Pulau Karimunjawa. Resor premium satu-satunya yang berstandar internasional adalah Kura Kura Resort (Pulau Menyawakan; 024/7663-2510; kurakuraresort.com; doubles mulai dari $325). Penginapan yang beroperasi sejak 1999 ini menawarkan dive centre, 15 cottage, dan 19 pool villa, termasuk dua family villa. Atas pertimbangan cuaca, Kura Kura Resort tutup untuk perawatan sejak November hingga Maret.

Kamar tidur di Family Pool Villa.

Aktivitas
Tur pulau adalah aktivitas paling populer di Karimunjawa, kepulauan berisi 27 pulau. Dimulai di dermaga Pulau Karimunjawa, operator lazimnya akan mengantarkan tamu ke pulau-pulau dalam radius satu jam, seperti Pulau Cilik, Tengah, Cemara, Geleang, serta pulau-pulau pasir yang hanya muncul saat air surut. Paket menyelam dan snorkeling bisa dipesan di penginapan atau operator. Di antara Pulau Karimunjawa dan Kemujan terdapat hutan bakau yang telah disulap menjadi obyek wisata. Meniti boardwalk, tamu bisa menyaksikan satwa yang hidup di sela-sela akar bakau dan burung-burung dengan status dilindungi, seperti elang laut, cekakak, dan sikepmadu. Jika membutuhkan pemandu atau kendaraan, hubungi Muchamad Shaiful (0821-3412-5642). Khusus malam pergantian tahun, Nirwana Laut Resort (karimun-jawa.com) menggelar beach party yang biasanya menampilkan DJ dari luar pulau.

Pertama kali diterbitkan di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/Agustus 2013 (“Feature: Tribuana Karimunjawa”).

Comments