Kala Prada Bicara Budaya

  • Kompleks museum ini dulunya adalah gedung penyulingan wiski.

    Kompleks museum ini dulunya adalah gedung penyulingan wiski.

  • Salah satu pameran seni teatrikal yang pernah digelar di Fondazione Prada.

    Salah satu pameran seni teatrikal yang pernah digelar di Fondazione Prada.

  • Salah satu bangunan Fondazione Prada yang dilapisi daun emas.

    Salah satu bangunan Fondazione Prada yang dilapisi daun emas.

  • Bar Luce, tempat makan dan istirahat yang dirancang oleh Wes Anderson.

    Bar Luce, tempat makan dan istirahat yang dirancang oleh Wes Anderson.

  • Karya berjudul Lost Love dari perupa Damien Hirst menampilkan akuarium berisi perangkat aborsi.

    Karya berjudul Lost Love dari perupa Damien Hirst menampilkan akuarium berisi perangkat aborsi.

Click image to view full size

Prada meresmikan sebuah pusat kebudayaan di Milan. Arsitekturnya digarap Rem Koolhaas, kedai kopinya dirancang Wes Anderson.

Oleh Nina Hidayat

Museum adalah tempat menyimpan dan memajang. Sejatinya memang begitu. Tapi jika museum itu dirancang oleh arsitek terkenal, dibangun dengan biaya kolosal, lalu diberi nama yang seksi dan mahal, maka ia bisa bergaung jauh melampaui fungsinya. Dalam kasus Fondazione Prada, museum bahkan bisa mengubah nasib sebuah daerah. Nasib Largo Isarco.

Largo Isarco, kawasan bekas sentra industri di tenggara Milan, kini bagaikan bunga layu yang kembali merekah. Prada datang ke sini untuk membeli bekas pabrik penyulingan wiski, lalu menyulapnya menjadi sebuah museum yang mentereng. Tadinya dilupakan, Largo Isarco berubah menjadi magnet wisata baru.

Saya berkunjung akhir tahun lalu. Kawasan yang dulunya diramaikan derap kaki buruh ini sekarang dijejaki langkah santai kaum pencinta seni. Fondazione Prada tampak megah di antara gudang-gudang usang. Telah menjadi adagium, setidaknya di Amerika dan Eropa, bahwa museum harus berdesain cantik guna memikat publik. Fasadnya tak boleh kalah memukau dari koleksi seninya. Untuk Fondazione Prada, tugas tersebut ditangani oleh Rem Koolhaas, arsitek tersohor Belanda.

Di lahan seluas empat lapangan sepak bola, Fondazione Prada menampilkan 10 gedung, tiga di antaranya baru. Ketiga gedung yang baru terlihat modern, namun tanpa melupakan kesinambungan desain dengan struktur uzur di sekitarnya. Ibarat tas Prada, mereka adalah seri Saffiano yang luwes beradaptasi di beragam situasi. “Fondazione Prada bukanlah sebuah proyek pelestarian ataupun karya arsi tektur baru. Ia adalah titik temu keduanya,” ujar Koolhaas.

Filosofi “titik temu” itu jugalah yang membuat Fondazione Prada seperti berada di antara dua kutub: masa lalu dan masa kini. Pada gedung ekshibisi dan bioskop, Koolhaas mendemonstrasikan hobinya mengolah warna abu-abu dan gaya minimalis. Khusus gedung jangkung yang berfungsi sebagai ruang koleksi permanen, sang arsitek meminjam praktik dekorasi dari masa silam: melapisi permukaan gedung memakai daun-daun emas 24 karat dengan berat total empat kilogram. Hasilnya bagaikan Golden Temple dari abad ke-21.



Comments

Related Posts

4414 Views

Book your hotel

Book your flight