Jumla: Tanah Terlupakan di Nepal

Tila Khola, anak Sungai Karnali, membelah Lembah Jumla dan memasok air irigasi.

Awalnya terisolasi, kawasan subur Lembah Jumla di sisi barat Nepal kini mulai membuka pintunya bagi dunia berkat pembenahan jalan raya. Seiring itu, para petani kian mudah memasarkan hasil panen, sementara para petualang lebih leluasa mengakses jalur trekking.

Oleh Giacomo D’Orlando

Miskin dan terpencil, kawasan barat Nepal adalah destinasi yang lebih mudah mengundang air mata ketimbang tawa. Namun perubahan perlahan mulai bergulir. Harapan mulai berembus. Sinar terang kian benderang di ujung jalan.

Kiri-kanan: Seorang wanita meniti jembatan seraya memanggul seikat dahan kering; seorang perempuan memanen gandum sebelum musim hujan datang.

Meski jarang dilirik wisatawan, kawasan barat Nepal sejatinya mengandung kekayaan yang tak tepermanai: panorama elok yang jarang dijamah turis, serta manusia-manusia ramah yang royal melempar senyum. Inilah satu dari sedikit tempat di mana kebahagiaan hadir dalam versinya yang rendah hati.

Pijakan ideal (dan fotogenik) untuk memulai penjelajahan di sini adalah Lembah Jumla. Ceruk megah ini telah memiliki fasilitas yang cukup memadai bagi pengelana. Momen terbaik untuk berkunjung adalah musim semi ketika seantero lembah menyuguhkan wajah tercantiknya: lanskap yang menembakkan aneka warna berkat keragaman tanaman di banyak ladang.

Seorang ibu menyiapkan makan malam sembari menanti anggota keluarganya pulang dari ladang.

Lembah Jumla dibelah oleh Sungai Tila Khola yang mengalirkan air sebening kristal. Dari sungai besar inilah para petani mendapatkan pasokan air irigasi. Tapi sesungguhnya bukan cuma petani yang menikmati keberadaannya. Bantaran sungai merupakan lahan favorit bagi anak-anak setempat untuk bermain dan berenang, juga wadah reguler bagi kaum wanita untuk bersua dan bersilaturahmi, sembari mencuci pakaian dan perangkat makan. Atmosfernya memang udik, tapi rentan menenggelamkan kita dalam alam kehidupan bersahaja khas pedesaan.

Penduduk Lembah Jumla, sebagaimana umumnya warga Nepal, mematuhi laku spiritual yang ketat. Hampir setiap hari pria dan wanita dewasa di sini berziarah ke kuil Hindu Chandannath Mandir untuk beribadah dan menyembah dewa-dewi. Keunikan kuil keramat ini terletak pada bagian yang disebut Lingo, yakni sebatang kayu dengan panjang sekitar 15 meter yang dibalut kain merah. Kayu ini mesti diganti saban tahun saat kuil menyambut festival akbar yang dihadiri segenap penghuni lembah. Lingo jugalah ornamen yang mistis. Banyak orang percaya, bala akan menimpa mereka jika kayu ini patah ketika diganti.

Seorang bocah bersantai di pelataran rumahnya sebelum berangkat ke sekolah.

Jumla, kota terbesar di Lembah Jumla, bertengger di ketinggian 2.514 meter dan dikepung rantai perbukitan hijau yang berhulu di Himalaya. Kota ini digerakkan mesin perekonomian yang sederhana. Warga pada dasarnya mengail nafkah dari bisnis wisma tamu, restoran, toko kelontong, dan kios souvenir yang menjajakan pakaian dan kerajinan tangan. Modernisasi baru menampakkan secuil wajahnya di sini.

Kuda-kuda pekerja merumput di Lembah Jumla.

Seperti perekonomiannya, wujud akomodasi yang ditawarkan juga sederhana. Tidak banyak opsi penginapan karena memang tak banyak turis yang berkunjung, walau meski dicatat dalam beberapa bulan terakhir sejumlah pengusaha telah berani mengerek hotel-hotel kelas menengah demi memikat lebih banyak pelancong.

Seorang wanita memanen gandum di sore hari.

Di luar batas kota, warga menyandarkan hidup sepenuhnya pada pertanian, pada kesuburan tanah dan kemurahan hujan. Hidup di sini memang tak menawarkan banyak pilihan. Ladang-ladang yang mengukir lembah umumnya ditanami barli, gandum, kentang, dan kacang-kacangan yang memasok kebutuhan pangan lokal. Pada ketinggian 2.400 hingga 3.000 meter, ladang dicetak dengan model sengkedan dan ditanami varietas beras merah. Tiap musim panen, pemandangannya menyerupai lukisan sureal.

Kiri-kanan: Dua perempuan di ladang gandum; seorang pria menikmati rokok di sela sesi minum teh.

Komoditas andalan lokal lainnya adalah apel. Apel produksi Jumla sangat tersohor di Nepal berkat kelezatan rasanya. Buah ini juga telah melahirkan produk olahan brandy yang berhasil menembus pasar ekspor berkat kualitasnya. Selain apel, warga lembah menanam tanaman herbal yang lazim dipakai dalam pengobatan Ayurveda, termasuk untuk meracik yarsagumba, semacam “Himalayan Viagra” yang diklaim mujarab meningkatkan vitalitas dan stamina.



Comments

Related Posts

6341 Views

Book your hotel

Book your flight