Jerry Aurum dan Dunia Bawah Laut

  • Seekor ikan buntal memperlihatkan matanya yang menyerupai gugusan bintang.

    Seekor ikan buntal memperlihatkan matanya yang menyerupai gugusan bintang.

  • Siluet penyelam.

    Siluet penyelam.

  • Soft coral crab bersembunyi di balik soft coral di Sebayur Kecil di Taman Nasional Komodo.

    Soft coral crab bersembunyi di balik soft coral di Sebayur Kecil di Taman Nasional Komodo.

  • Ghost pipefish di Prince John House Reef, Tanjung Karang, Sulawesi Tengah.

    Ghost pipefish di Prince John House Reef, Tanjung Karang, Sulawesi Tengah.

  • Seekor ubur-ubur di kegelapan laut.

    Seekor ubur-ubur di kegelapan laut.

  • Flabellina rubrolineata berjalan tertatih di Nudi Falls, Manado.

    Flabellina rubrolineata berjalan tertatih di Nudi Falls, Manado.

  • Di dive site Midnight Snapper, Derawan, Kalimantan Timur seekor Hippocampus bargibanti mimikri di antara cabang sea fan.

    Di dive site Midnight Snapper, Derawan, Kalimantan Timur seekor Hippocampus bargibanti mimikri di antara cabang sea fan.

  • Denada, Duta Pariwisata Baharo Berau, berinteraksi dengan ubur-ubur tanpa sengat di Danau Kakaban, Kaltim.

    Denada, Duta Pariwisata Baharo Berau, berinteraksi dengan ubur-ubur tanpa sengat di Danau Kakaban, Kaltim.

  • Para penyelam membentuk formasi sea-diving di bawah laut Derawan.

    Para penyelam membentuk formasi sea-diving di bawah laut Derawan.

  • Penyelam melalui jendela-jendela dari batu karang di dive site Jendela, Raja Ampat.

    Penyelam melalui jendela-jendela dari batu karang di dive site Jendela, Raja Ampat.

  • Kipas gorgonian aneka jenis memenuhi dive site Jendela di Raja Ampat.

    Kipas gorgonian aneka jenis memenuhi dive site Jendela di Raja Ampat.

  • Seorang penyelam bertemu kawanan ikan di dive site Castle Rock di Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur.

    Seorang penyelam bertemu kawanan ikan di dive site Castle Rock di Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur.

Click image to view full size

Marine Magis
Dari balik scuba mask, Jerry Aurum merekam keajaiban bawah laut Nusantara dan mengajak kita terlibat dalam upaya konservasi.
Oleh Cristian Rahadiansyah

Fotografer bawah air seolah berpacu dengan waktu. Pemanasan global, polusi, dan per-buruan satwa terus mengikis ekosistem laut. Di kawasan yang meliputi dua per tiga bumi ini, teori Darwinian pamungkas “survival of the fittest” lebih cocok diterjemahkan sebagai pertarungan yang tidak seimbang antara kerakusan brutal manusia versus keharmonisan alam.

Jerry Aurum berharap bisa mengubah ketimpangan tersebut. Melalui media dua dimensi, alumni Desain Komunikasi Visual ITB ini membawa publik berkenalan dengan makhluk-makhluk yang seolah tidak signifikan, namun sejatinya berperan vital dalam menjaga kelang-sungan bumi—juga hidup kita. “Mungkin 50 tahun lagi diving hanya akan menjadi kenangan akibat pemanasan global yang merusak ekosistem terumbu karang. Bersama, tidak peduli sekecil apa pun bentuk kepedulian kita, kita bisa mencegah itu terjadi,” jelasnya.

Eksplorasinya dimulai di Kepulauan Raja Ampat pada 2006. Meninggalkan studio, diffuser, dan penata rias, Jerry mulai menekuni genre fotografi yang lebih mengandalkan momentum, kemampuan mengambang, juga pengetahuan atas perilaku satwa. Hingga kini, sudah 400 penyelaman yang dibukukannya, sebagian bersama sang pasangan, Denada. Seniman yang lebih dikenal sebagai fotografer portrait dan fesyen ini pernah memotret bull shark sepanjang 2,5 meter di Fiji, menyapa puluhan ribu barakuda di Maratua, dan menyusuri gua-gua laut Meksiko.

Secara visual, foto-foto Jerry mengangkat sisi keindahan dunia bawah air, sesuatu yang layak kita harapkan dari foto-grafer yang lazim memotret selebriti. Dan seperti yang tecermin di dua buku karyanya, Femalography dan In My Room, pria kelahiran 1976 ini sangat memperhatikan ekspresi natural dari subyek fotonya. “Dari pertama kali mencoba, saya tahu bahwa underwater photography punya tempat khusus dalam hati saya,” katanya.

“Takut, penasaran, was-was, takjub,” kenang Jerry tentang dive trip perdananya di Papua Barat. Melihat hasil dokumentasinya, kita mungkin bakal melontarkan respons senada. Tapi yang lebih penting adalah, apa yang akan kita lakukan setelah itu. “Upaya konservasi sudah ada di Indonesia, tetapi masih jauh dari cukup. Bila kegiatan konservasi tidak lebih diperhatikan, mustahil bisa mengimbangi laju kerusakan yang terjadi.”



Comments

Related Posts

4571 Views

Book your hotel

Book your flight