Jelajah Zürich West

  • Schiffbau, teater tersohor tempat digelarnya drama-drama unik.

    Schiffbau, teater tersohor tempat digelarnya drama-drama unik.

  • Toko New York Fashion yang bersemayam di dalam bus usang.

    Toko New York Fashion yang bersemayam di dalam bus usang.

  • Toko-toko di Im Viadukt. Toko-toko ini dibangun di bawah jembatan rel kereta.

    Toko-toko di Im Viadukt. Toko-toko ini dibangun di bawah jembatan rel kereta.

  • Im Viadukt, sentra belanja dan makan di Zurich West.

    Im Viadukt, sentra belanja dan makan di Zurich West.

  • Danau Zurich dilihat dari salah satu jembatan di Kota Tua. Di hari cerah, Pegunungan Alpen terlihat dari sini.

    Danau Zurich dilihat dari salah satu jembatan di Kota Tua. Di hari cerah, Pegunungan Alpen terlihat dari sini.

  • Interior restoran Markthalle di Im Viadukt.

    Interior restoran Markthalle di Im Viadukt.

  • Restoran mewah Clouds berdiri di atas lantai 35 dengan pemandangan lanskap kota yang menawan.

    Restoran mewah Clouds berdiri di atas lantai 35 dengan pemandangan lanskap kota yang menawan.

  • Interior Edition Populaire dan Townhouse di Frau Gerold's Garten.

    Interior Edition Populaire dan Townhouse di Frau Gerold's Garten.

  • Salah seorang pegawai di Street-Files.

    Salah seorang pegawai di Street-Files.

  • Menu eksentrik di Winter Hut di Frau Gerold's Garten.

    Menu eksentrik di Winter Hut di Frau Gerold's Garten.

  • Interior Winter Hut yang didominasi kayu-kayu.

    Interior Winter Hut yang didominasi kayu-kayu.

  • The Freitag Store yang terbuat dari kotak-kotak kontainer lawas.

    The Freitag Store yang terbuat dari kotak-kotak kontainer lawas.

Click image to view full size

Bekas sentra pabrik di Zürich merekah jadi kantong kreatif berisi gedung teater, butik-butik indie, serta sarang hipster. Kota ini tak lagi hanya memikat uang-uang panas dari Dunia Ketiga.

Oleh Christi Hang
Foto oleh Lauryn Ishak

Kota terbesar di Swiss dibelah Sungai Limmat dan teronggok di utara Danau Zürich. Karakternya atraktif sekaligus janggal. Sulit memastikan di mana area kota tuanya berawal dan berakhir. Toko-toko tutup saban Minggu. Pusat kotanya cuma berjarak 10 menit naik kereta dari bandara. Bahkan sentra belanjanya yang paling modis, Bahnhofstrasse, masih memancarkan aura kuno: seutas jalan yang dibatasi danau, di mana sejumlah menara gereja dan bangunan kayu bergandengan erat dengan butik-butik mewah.

Corak yang kontras terlihat usai meluncur sejenak dengan trem ke Zürich West, kompleks kelas pekerja yang menampilkan gedung-gedung kotak dan fungsional berbahan batu bata dan baja. Didirikan pada akhir abad ke-19 di jantung kawasan industri, terselip di antara bentangan rel dan sungai, Zürich West sempat berkembang pesat hingga 1970-an, sampai akhirnya pabrik-pabrik di sini bangkrut di tengah kejatuhan perekonomian. Setelah kaum pengusaha minggat, seniman dan kaum kreatif merangsek. Angin perubahan kemudian berembus. Pada era 80-an dan 90-an, daerah ini lebih tersohor berkat pertunjukan pop-up dan pesta-pestanya.

Di tangan penghuni barunya yang eksentrik itulah Zürich West bertransformasi menjadi kawasan yang paling dinamis dan bergairah di Zürich. “Pada 2000, untuk pertama kalinya, saya menonton pementasan di sini. Sebuah pentas berdurasi empat jam tanpa dialog, sepenuhnya nyanyian, dan semua orang bugil!” kenang Susanne Bosanis, pemandu saya, ketika kami singgah di Schiffbau, bekas galangan kapal yang kini berfungsi sebagai cabang Teater Schauspielhaus. Pada 1805, bangunan ini sempat dipugar oleh firma asal Wina, Ortner & Ortner. Mereka mempertahankan bata dan balok orisinal, lalu meletakkan tiga panggung, ruang latihan teater, klub jazz, dan restoran berbungkus kaca bernama LaSalle. “Pembukaan Schiffbau menyuntikkan kepercayaan diri baru pada area ini,” kata Bosanis.



Comments

Related Posts

4726 Views

Book your hotel

Book your flight