Jejak Roma di Filipina

Relokasi patung Yesus menginspirasi kelahiran salah satu prosesi terbesar di Filipina.

Ritual Menyambut Dewa Gunung
Gereja Santo Yohanes Pembaptis di Quiapo menjadi tiitk akhir prosesi Traslacion.

Oleh Michael Eko Hardianto

“Thank you Lord, for you never leave me,” teriak lantang seorang ibu ketika patung Black Nazarene melintas di hadapannya. Terjepit di tengah lautan manusia, sang ibu menangis haru seraya mengucapkan syukur.

Setiap 9 Januari, umat Katolik di Filipina menggelar prosesi Traslacion di mana patung Black Nazarene diarak dari Quirino Grandstand menuju Gereja Quiapo. Kedua tempat yang berlokasi di Manila ini hanya terpisah jarak sekitar tiga kilometer, tapi waktu tempuh arak-arakan bisa memakan waktu lebih dari 20 jam.

Seorang peziarah meminta berkat air suci dari para pastor untuk replika Black Nazareno miliknya.

Traslacion dipetik dari bahasa Spanyol yang berarti “transfer” atau “perjalanan.” Dalam prosesi ini, umat Katolik Filipina melakoni napak tilas perjalanan sengsara Yesus menyusuri Via Dolorosa di Jerusalem. Sepanjang rute, jutaan manusia berkerumun dan berdesakan demi menyentuh Black Nazarene dengan harapan akan mendapatkan berkah atau mukjizat, termasuk penyembuhan dari penyakit. Jika tak sanggup melekatkan tangan ke patung, hadirin biasanya mengibarkan handuk saat kereta melintas sebagai simbol penghormatan.

Peziarah mengibaskan handuk sebagai bentuk penghormatan kepada patung Black Nazareno yang melintas.

Sejarah Traslacion dimulai pada 1606 ketika rombongan misionaris Katolik mengapalkan Black Nazarene dari Acapulco, Meksiko, menuju Manila. Berbeda dari imaji Yesus umumnya, patung ini berwarna hitam. Sebagian sumber mengklaim warna tersebut diakibatkan kebakaran pada kapal kargo pengangkut patung. Versi yang lain percaya warna itu disebabkan patung memang dibuat dari materi kayu hitam asal Meksiko.

Black Nazarene melintas di tengah jutaan manusia yang hadir selama prosesi.
Ritual Menyambut Dewa Gunung
Tidak ada topi atau penutup kepala pada prosesi Traslacion. Sebagai penghormatan, peziarah menggunakan handuk untuk menutupi kepala.

Setibanya di Manila, patung Yesus itu ditempatkan di altar Gereja Santo Yohanes Pembaptis di Luneta, sekitar kompleks Kota Tua Intramuros. Setelah beberapa kali direlokasi ke beberapa gereja setempat, patung akhirnya diboyong ke Gereja Quiapo pada 1787. Proses pemindahan inilah yang kemudian melatarbelakangi ritus tahunan Traslacion.

Gereja mengakui Traslacion sebagai sebentuk ekspresi iman. Alih-alih klenik, prosesi ini dipandang sebagai perwujudan konsep manunggal antara umat manusia di muka bumi dengan orang-orang kudus penghuni surga. Relikui atau benda suci, termasuk patung, hanyalah media perantara yang membantu manusia dalam menjangkau Tuhan melalui doa dan harapan.

Beberapa pastor memimpin prosesi dari beberapa platform yang tersebar di sepanjang rute Traslacion.

Menengok sejarah, Traslacion sepertinya juga memiliki akar dalam tradisi Katolik Roma. Kita mengenal misalnya “ex brandea,” yakni praktik mengusapkan kain ke tubuh atau makam para rasul pengikut Kristus. Di Filipina, orang kerap mengusapkan jemari atau handuk ke salib atau patung orang kudus sebelum memulai doa. “Our culture is culture of touch,” ujar Monsignor Jose Clemente F. Ignacio, Rektor Minor Basilica of the Black Nazarene (Quiapo Church), kepada Catholic News Agency.

Ritual Menyambut Dewa Gunung Ritual Menyambut Dewa Gunung BlackNazarene_MichaelEko01 Black Nazarene melintas di tengah jutaan manusia yang hadir selama prosesi. BlackNazarene_MichaelEko03 Ritual Menyambut Dewa Gunung Ritual Menyambut Dewa Gunung
Tidak ada topi atau penutup kepala pada prosesi Traslacion. Sebagai penghormatan, peziarah menggunakan handuk untuk menutupi kepala.
Michael Eko Hardianto
Fotografer kelahiran Jakarta, pernah menerima Konrad Adenauer Asian Center for Journalism Fellowship 2015 di Manila dan Foundry Photojournalism Workshops Scholarship 2015 di Bali. Selain berkontribusi untuk media, dia aktif terlibat dalam penelitian dan aktivitas sosial. michaeleko.com.
Comments