Jejak Letusan Gunung Tambora

  • Seorang porter di bibir kaldera. Tak ada danau cantik di sini, tapi Gunung Tambora selalu memikat.

    Seorang porter di bibir kaldera. Tak ada danau cantik di sini, tapi Gunung Tambora selalu memikat.

  • Lanskap Gunung Tambora yang diselimuti pasir.

    Lanskap Gunung Tambora yang diselimuti pasir.

  • Seorang anak mencari ikan di Teluk Saleh, perairan yang membelah Pulau Sumbawa dalam posisi diagonal.

    Seorang anak mencari ikan di Teluk Saleh, perairan yang membelah Pulau Sumbawa dalam posisi diagonal.

  • Kendaraan gardan ganda yang membawa pendaki hingga kaki Gunung Tambora.

    Kendaraan gardan ganda yang membawa pendaki hingga kaki Gunung Tambora.

  • Lanskap hijau di lereng Gunung Tambora.

    Lanskap hijau di lereng Gunung Tambora.

  • Yunsar, pria berusia 70 tahun yang hobi mendaki gunung.

    Yunsar, pria berusia 70 tahun yang hobi mendaki gunung.

  • Letusan Gunung Tambora pada 10 April 1815 menyapu habis kerajaan-kerajaan di Sumbawa.

    Letusan Gunung Tambora pada 10 April 1815 menyapu habis kerajaan-kerajaan di Sumbawa.

  • Pesisir Pulau Satonda, pulau yang dihuni satu-satunya resor di dekat Tambora.

    Pesisir Pulau Satonda, pulau yang dihuni satu-satunya resor di dekat Tambora.

Click image to view full size

Menengok kembali vulkan legendaris yang sempat mengubur dunia dalam gelap dan mengubah garis sejarah.

Teks dan foto oleh Fatris MF

Sebuah gunung meletus di utara Sumatera. Puncaknya memuntahkan lahar panas. Van Bemmelen, geolog Belanda, menganggap erupsi itu kiamat pertama di zaman purba. Mungkin terjadi ratusan ribu tahun silam—sebuah masa ketika orang-orang belum berkiblat dan membaca aksara. Dari peristiwa itu, Danau Toba tercipta, Suku Batak lahir. Begitu hikayat lisan setempat bercerita.

Di jantung Flores, letusan gunung juga melahirkan danau. Bukan cuma satu, tapi tiga danau, dan warnanya berlainan. Tiga danau yang diyakini masyarakat Lio sebagai tempat bersemayamnya roh-roh. Masyarakat Nusantara hidup dalam lingkaran cincin api dan menyimpan hikayat yang lekat dengan gunung dan amarahnya.

Orang Minangkabau berasal dari kawah Gunung Marapi. Tak jelas, apakah dari lahar atau dari abu vulkanis mereka bersumber. Gunung itu menjulang di tengah Sumatera. Dari sinilah nenek moyang orang dataran tinggi Sumatera Barat bermula. Begitulah Tambo, “kitab suci” adat matrilineal purba Minangkabau bertitah.

Bergeser ke Sumbawa, sebuah gunung meletus dua abad silam. Tambora namanya. Tak ada danau indah yang tercipta, tak ada suku yang terlahir. Letusannya malah mengakibatkan mala: mengerem laju peradaban bumi. Buku-buku mencatat, amuk Tambora mengubah iklim dan menutup mentari dengan abu selama belasan bulan. Tumbuhan layu, gagal panen melanda Eropa dan Amerika Utara. Jutaan orang kelaparan, mayat bergelimpangan.

Begitulah Tambora menyapa dunia 200 tahun silam. Seratus ribu nyawa dicabut olehnya—angka yang monumental pada zaman itu. Semburan laharnya mengubur kerajaan-kerajaan kecil di sekelilingnya. Setidaknya setahun pascaerupsi, langit di Barat tak disinggahi sang surya. “Tahun tanpa musim panas,” kata sebuah buku. Akibat letusan itu pula, tinggi gunung tersunat, dari 4.000-an meter menjadi kurang dari 3.000 meter. >>>



Comments

Related Posts

7423 Views

Book your hotel

Book your flight