Jejak Letusan Gunung Tambora

Seorang porter di bibir kaldera. Tak ada danau cantik di sini, tapi Gunung Tambora selalu memikat.
Seorang porter di bibir kaldera. Tak ada danau cantik di sini, tapi Gunung Tambora selalu memikat.

Menengok kembali vulkan legendaris yang sempat mengubur dunia dalam gelap dan mengubah garis sejarah.

Teks dan foto oleh Fatris MF

Sebuah gunung meletus di utara Sumatera. Puncaknya memuntahkan lahar panas. Van Bemmelen, geolog Belanda, menganggap erupsi itu kiamat pertama di zaman purba. Mungkin terjadi ratusan ribu tahun silam—sebuah masa ketika orang-orang belum berkiblat dan membaca aksara. Dari peristiwa itu, Danau Toba tercipta, Suku Batak lahir. Begitu hikayat lisan setempat bercerita.

Di jantung Flores, letusan gunung juga melahirkan danau. Bukan cuma satu, tapi tiga danau, dan warnanya berlainan. Tiga danau yang diyakini masyarakat Lio sebagai tempat bersemayamnya roh-roh. Masyarakat Nusantara hidup dalam lingkaran cincin api dan menyimpan hikayat yang lekat dengan gunung dan amarahnya.

Orang Minangkabau berasal dari kawah Gunung Marapi. Tak jelas, apakah dari lahar atau dari abu vulkanis mereka bersumber. Gunung itu menjulang di tengah Sumatera. Dari sinilah nenek moyang orang dataran tinggi Sumatera Barat bermula. Begitulah Tambo, “kitab suci” adat matrilineal purba Minangkabau bertitah.

Bergeser ke Sumbawa, sebuah gunung meletus dua abad silam. Tambora namanya. Tak ada danau indah yang tercipta, tak ada suku yang terlahir. Letusannya malah mengakibatkan mala: mengerem laju peradaban bumi. Buku-buku mencatat, amuk Tambora mengubah iklim dan menutup mentari dengan abu selama belasan bulan. Tumbuhan layu, gagal panen melanda Eropa dan Amerika Utara. Jutaan orang kelaparan, mayat bergelimpangan.

Begitulah Tambora menyapa dunia 200 tahun silam. Seratus ribu nyawa dicabut olehnya—angka yang monumental pada zaman itu. Semburan laharnya mengubur kerajaan-kerajaan kecil di sekelilingnya. Setidaknya setahun pascaerupsi, langit di Barat tak disinggahi sang surya. “Tahun tanpa musim panas,” kata sebuah buku. Akibat letusan itu pula, tinggi gunung tersunat, dari 4.000-an meter menjadi kurang dari 3.000 meter.

Dalam Suma Oriental, Tome Pires memanggil gunung itu dengan nama Aram. Tambora dalam bahasa setempat berarti “orang hilang,” barangkali untuk menyebut sebuah kerajaan bernama Tambora yang dikubur oleh letusannya. Sebuah laporan kolonial pada 1819 menulis, murka sang gunung membuat lautan di bagian tengah Nusantara dipenuhi batu apung yang mengganggu pelayaran, segala yang hidup telah punah, dan bumi teramat mengerikan dan kosong.

Kiri-kanan: Seorang anak mencari ikan di Teluk Saleh, perairan yang membelah Pulau Sumbawa dalam posisi diagonal; pesisir Pulau Satonda, pulau yang dihuni satu-satunya resor di dekat Tambora.

Dua abad sudah berlalu, sekarang saya datang untuk mendakinya. Aram, Tambora, sebuah bisul besar yang memicu kiamat kecil. Dari jendela pesawat yang melayang ke Bima, saya mengintip sabana tandus yang luas. Tetumbuhan kering menguning kecokelatan. Sebagian berwarna hijau, karena musim hujan baru saja datang. Awan November bergumpal tak terarah dan mengguncang pesawat. Dulu, kerajaan-kerajaan makmur merekah di Sumbawa. Kayu dengan kualitas tinggi, jagung dan beras, hingga kuda perkasa membuat pamor pulau ini mencuat dengan kemakmurannya. Kemakmuran yang turut memikat semut-semut VOC pada abad ke-17. Tapi itu dulu, sebelum sebuah bencana dahsyat pada 10 April 1815 mengubur semuanya.

Saya mendarat di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin. Memasuki Kota Bima, sisa Kerajaan Bima yang agung masih berdiri. Tak ada pasukan kerajaan. Hanya terlihat bangunan kayu berukir dan para pemuda yang bersantai. Malam hari, listrik padam dan kota kecil ini terbungkam dalam gelap.

Lanskap Gunung Tambora yang diselimuti pasir.

Pagi sekali, saya meninggalkan Bima yang terletak di pesisir utara Sumbawa. Bus membawa saya lebih dekat dengan Tambora, gunung yang dicatat dengan penuh takjub dan takut. Letusannya dianggap musibah global, dengan efek merusak yang menjalar ke banyak tempat layaknya wabah sampar.

Bus berjalan terseok-seok dan menyemburkan asap hitam. Jalan berliku melewati pegunungan menuju Kabupaten Dompu. Di balik jendela: sabana kering, tanah cokelat, gundukan bukit-bukit botak. Di salah satu persimpangan, saya turun. Dua orang lelaki sedang menunggu saya. Mereka punya niat serupa: mendaki Tambora. “Kau tidak sendiri,” Yunsar menyambut saya. Dan sekarang saya memiliki dua orang teman baru: Yunsar dan Gusti.

Gusti, lelaki paruh baya dari Bali, sedangkan Yunsar pria Bugis berumur 70 tahun. Sebuah jip dengan gardan ganda siap membawa kami. Aspal mulus yang tadi saya lewati berjam-jam, kini berganti dengan jalan sompek. Jip menerobos medan yang menyiksa. Ban sesekali mementalkan bebatuan dari tumpukan material pembangunan jalan. Pemerintah tengah membangun jalan menuju Tambora, sebagaimana jalan menuju PT. Newmont yang mengeruk emas telah dibangun jauh lebih dulu dan lebih mulus. Dua tahun silam, Pemprov Nusa Tenggara Barat menominasikan Tambora sebagai taman nasional, dan pembangunan jalan adalah bagian dari agenda itu.

Di Labuan Kenanga, jip berhenti. Tambora terkangkang lebar di hadapan. Arakan awan gelap menghantui puncaknya. Di seberang sana, ada Pulau Moyo. Di sisi yang lain, Pulau Satonda terbaring malu-malu. “Tak sampai 10 menit ke sana,” kata Umbu Ahmad sembari menawarkan tumpangan.

Mesin perahu milik Umbu meraung. Setelah 15 menit menyeberang selat sempit, kami menjumpai resor cantik yang dikelilingi pasir putih. Warna airnya bening sekali. Pulau Satonda telah ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam Laut pada 1999 oleh pemerintah. Letusan yang menghilangkan 100.000 nyawa itu ternyata menciptakan pulau kecil yang elok. Satonda memiliki danau air asin di tengahnya. Sebenarnya, daratan di ujung barat Kabupaten Dompu ini merupakan pulau suci yang tidak boleh dihuni. Hikayat lisan setempat bilang, justru pulau inilah yang memicu letusan Tambora.

Lanskap hijau di lereng Gunung Tambora.

Syahdan, di kaki Tambora hidup seorang putri jelita bernama Dae Minga. Tapi kecantikannya memantik bencana: raja-raja di Sumbawa saling sikut untuk meraih cinta sang putri. Sengketa pun pecah. Seorang bijak kemudian mengasingkan Dae Minga ke pulau seluas 1.000 hektare—Satonda. Kecantikan sang putri justru berujung karantina dan nestapa. “Sudah, tidak perlu lagi dilanjutkan,” kata Umbu, “kisahnya terlalu tragis.” Konon pula, tak lama setelah pengasingan itu, Tambora meletus. “Makanya, manusia dilarang menghuni pulau ini,” kata Umbu lagi. Lantas, kenapa resor berdiri di sini? Umbu terdiam, lalu menambatkan perahu.

Di Satonda, sebuah resor berdiri menghadap lautan bening. Kami mendaki bukit dan melihat danau di tengahnya. Danau berair asin. Di sekitarnya berdiri pohon-pohon dengan batu-batu, plastik, jepit rambut, dan entah apalagi, yang diikat dan digantung pada dahan-dahan. “Ini pohon harapan,” ujar Sugeng, pemandu kami. Di tanah buangan ini, di mana kecantikan dikucilkan, manusia justru berdatangan guna menggantungkan doa dan asa.

Umbu tak sudi melanjutkan cerita. Mesin perahu distarter dan kami bertolak. Dari Labuan Kenanga, jip kembali melaju menuju Tambora yang tampak seperti kakek yang memendam murka. Tambora, tempat orang-orang hilang. “Kita melintas di atas tumpukan mayat,” kata Yunsar, berusaha mencairkan kebekuan di atas jip dengan kisah horor.

Yunsar keluar dari jip dan menurunkan sepeda. Saya dan Gusti masih di mobil, sedangkan Yunsar mulai mengayuh, membuat saya ternganga dan berpikir ulang tentang definisi usia. Pria 70 tahun yang mengidap cacat katup jantung itu menggenjot pedal di rute licin yang menanjak dan berkelok.

Stamina agaknya tak bisa dikurung oleh usia. Hujan mulai mengguyur jalan tanah yang dipagari pepohonan kopi. Perkebunan kopi yang tak terurus. Desa Pancasila telah dilewati, kemudian kami memasuki Dusun Tambora, Desa Oi Bora, Kecamatan Tambora. Entah kenapa, nama “Bora” dan “Tambora” begitu marak dipakai. Di Dusun Tambora yang dipenuhi pohon kopi, ada sebuah bangunan kolonial yang dihuni seorang lelaki paruh baya berbadan gempal. Suparno adalah satu dari ribuan lelaki yang datang ke Tambora ketika perkebunan kopi berjaya dan pabrik kayu PT. Veneer tengah bersinar. Itu 40 tahun lalu. Masa yang tak menjanjikan kenyamanan bagi seorang pengelana. Dari Jawa, Suparno menumpang kapal barang hingga Labuan Kenanga, lalu menunggang kuda untuk sampai ke kaki Tambora. Kuda Sumbawa, kuda tangkas pengangkut beban yang begitu dipuja dalam catatan kolonial. >>>

Comments