Jagawana Bunga Langka

Di Bengkulu, dua bunga ikonis Indonesia sedang terancam deforestasi. Melalui suaka yang dikelola secara swadaya, sebuah keluarga berjuang melestarikannya.

Diterpa angin dingin dari pegunungan Bukit Barisan, saya memasuki area penangkaran keluarga Holidin. Mengenakan bot, ketujuh jagawana bersaudara membawa saya ke umbi-umbi bunga yang tumbuh menyebar. “Ada 200 umbi yang kami tanam, namun sekarang tinggal separuhnya. Kami tidak mampu menjaga semuanya. Umbi sangat digemari babi,” jelas Holidin. Sebenarnya mereka pernah menerima donasi dari Kebun Raya Bogor untuk membangun kawat berduri. Tapi masih banyak celah bagi babi nakal.

Kiri-kanan: Ujang tengah menunjukkan cikal bakal bunga Amorphophallus; bunga langka Titan Arum yang tengah mekar sempurna.

Penangkaran ini mengoleksi enam spesies Amorphophallus dari total 11 spesies yang berhabitat di Sumatera. Holidin menunjukkan Amorphophallus gigas, spesies terbesar yang tahun lalu tingginya mencapai empat meter. Bau busuknya membuat saya mual.

Saya juga melihat empat batang bunga bangkai. Bunga ini memiliki siklus yang unik. Dari umbi akan muncul pohon yang bercabang tiga di pucuknya. Setelah pohon itu mati, muncul bunga dalam waktu yang tak bisa diprediksi. Bunga mekar beberapa jam, lalu mengering dan mati. Kemudian masuk fase umbi, lalu fase pohon kembali, begitu seterusnya. Obyek kebanggaan Holidin adalah tetrastigma, pohon inang Rafflesia. Dia masih menanti bunganya merekah. Kehadiran inang ini merupakan tonggak penting, sebab jumlahnya di Kepahiang kini sangat minim.

Untuk melacak Rafflesia yang mekar, kami pun menembus hutan. Di sebidang lahan becek, kami berhasil menemukan satu bunga yang merekah sempurna. Di dekatnya, ada sejumlah pohon inang, bonggol jambon yang akan mekar, dan bonggol hitam yang sudah mati. “Ada 13 titik di lokasi ini,” jelas Holidin. “Dua puluh empat titik lainnya sudah hancur.”

“Tapi ini sebetulnya belum apa-apa,” katanya lagi. “Ada satu daerah yang isinya Rafflesia semua! Kami tak berani berjalan di sana saking banyaknya.” Daerah yang dimaksudnya berjarak hanya beberapa kilometer dari lokasi kami. Tapi kondisinya kini sudah jauh berubah. Rafflesia di sana punah akibat kerakusan warga. Memori suram itu masih bersemayam di kepala Holidin: “Dulu orang-orang sering memanfaatkan Rafflesia untuk mencari nafkah. Jika ada bunga mekar di hutan, akan dipotong, lalu diletakkan di tepi jalan. Orang yang ingin melihatnya harus membayar. Lalu terjadi persaingan. Matilah semua.”

Lembah itu terakhir menumbuhkan Rafflesia pada 2010. Bunga-bunga yang merekah penuh kesabaran itu tak sanggup menyaingi ambisi warga yang mengejar uang instan. Kini, sepertinya tinggal keluarga Holidin yang menjadi benteng terakhir bagi pelestariannya. Saya sempat berulang kali bertemu orang-orang yang datang untuk melihat bunga di hutan dan penangkaran. Mereka pergi tanpa meninggalkan donasi, bahkan kadang tanpa ucapan terima kasih. Tapi Holidin bersaudara tampaknya sudah terbiasa. Layaknya sukarelawan tanpa pamrih, mereka mengumpulkan tongkat-tongkat yang dipakai pengunjung untuk menuruni lereng licin, mengganti baju yang basah, mencuci bot, lalu kembali bekerja. Seminggu di sini, saya menyaksikan dedikasi yang terasa sureal di tengah kerakusan banyak orang memangkas hutan Sumatera. Holidin dan saudaranya bergadang bermalam-malam, dikepung udara dingin dan lembap, kadang diguyur hujan. Hutan telah memberi banyak kepada mereka. Kini mereka membalas budi tersebut.

Detail
Bengkulu

Rute
Penerbangan ke Bengkulu dilayani dari Jakarta oleh Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com) dan Sriwijaya Air (sriwijayaair.co.id). Jarak bandara ke Kepahiang sekitar dua jam. Area penangkaran keluarga Holidin berlokasi di dekat Hutan Lindung Bukit Daun, sekitar lima kilometer sebelum Kepahiang dan tiga kilometer sebelum Dusun Tebat Monok.

Penginapan
Kota Bengkulu menawarkan cukup banyak hotel berbintang, salah satunya Santika Bengkulu (Jl. Raya Jati No.45, Sawah Lebar; 0736/258-58; santika.com; doubles mulai dari Rp702.450). Kondisinya kontras dengan Kepahiang, di mana hanya tersedia hotel-hotel non-bintang, salah satunya Hotel Umro (Jl. Pembangunan 1, Pasar Ujung; 0732/391-255; doubles mulai dari Rp250.000).

Diterbitkan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei-Juni 2014 (“Suaka Puspa”).

Comments