Inovasi Koktail Asli Indonesia

Koktail Indonesia kian seksi dan digemari. Ayip Dzuhri, Indonesia’s Bartender of the Year 2015, menjelaskan kreasinya.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Video oleh Sadam Dwi Satria

Tradisi koktail tidak memiliki akar yang kuat di Indonesia. Kita praktis hanya mengenal arak, tuak, sopi, atau miras oplosan yang biasanya punya stigma miring. Sebenarnya pada 1960-an pernah ada koktail Bir Pletok racikan bartender Haji Mamik di Hotel Indonesia, namun reputasinya belum menyaingi Singapore Sling atau The Manhattan.

Tapi angin perubahan kini mulai berembus. Dalam beberapa tahun terakhir sejumlah mixologist aktif berinovasi menciptakan koktail asli Indonesia, salah satunya Ayip Muhammad Dzuhri. Mengandalkan bahan lokal, terutama rempah dan buah, pria kelahiran 1991 ini giat meramu minuman berkarakter Nusantara, baik dalam hal rasa maupun nama. Kreasinya antara lain Tales of Honje yang terinspirasi sambal matah Bali; Myristica yang mengandung pala; serta Nightqueen yang mengawinkan sedap malam, serai, dan vodka. “Saya lebih simpel dan cenderung fokus pada satu rasa,” jelasnya tentang pendekatannya dalam meracik koktail.

Frestro & Bar Seminyak
Kiri-kanan: Ayip Dzuhri sedang meramu Nightqueen; Ayip Dzuhri, Indonesia’s Bartender of the Year 2015.

Baca juga: 5 Lokasi Wisata Kuliner di BaliPadu Padan Koktail dan Hidangan Prima

Nama Ayip mulai dikenal pada 2015 lewat kontes Diageo World Class. Waktu itu dia menyabet gelar Indonesia’s Bartender of the Year mengandalkan koktail asli Indonesia, salah satunya Old Java, kombinasi unik antara kunyit asam dan rum Zacapa. Sejak 2016, pria  asal Bandung ini bekerja di Frestro & Bar Seminyak, di mana dia meneruskan hobinya bereksperimen di meja bar. Kreasi terbarunya tahun ini ialah The Massoia yang memakai kayu masoi asal Papua. “Banyak orang menggunakan kayu masoi untuk essential oil dan membuat daging lebih lunak,” ujarnya.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2018 (“Campuran Lokal”).

Comments