Indonesia di Atas Bahtera

Mencoba beragam rute Pelni, Muhammad Fadli merekam realitas Indonesia di atas bahtera.

Mengoperasikan 79 armada laut, melayani 395 pelabuhan, dan mengangkut 3,6 juta penumpang setahun, PT. Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) merupakan operator transportasi laut terbesar di dunia. Tapi bukan angka-angka itu yang menjadi fokus Bridge of the Nation. Proyek foto Muhammad Fadli ini sebenarnya ingin menceritakan realitas Indonesia di atas bahtera.

Bersama bendera dan bahasa, Pelni sejak 1952 menghubungkan ribuan pulau yang menyusun Indonesia. Lambungnya menceritakan keragaman hasil bumi negeri ini. Geladaknya merangkum kemajemukan manusianya. “Mirip miniatur Indonesia,” kata Fadli, pria asal Bukittinggi. “Kita mudah bertemu dengan orang-orang dari tempat yang berbeda. Yang pasti naik Pelni adalah pengalaman yang sangat Indonesia.”

Proyek foto ini tercetus pada 2014 saat Fadli ditugaskan sebuah majalah asing untuk memotret kapal Pelni. Pengalaman itu tak cuma mengingatkan masa kecilnya menjemput saudara yang mudik naik kapal laut. Melihat berjubelnya penumpang kapal, Fadli juga tersadar betapa Pelni masih diandalkan banyak orang, terutama di belahan timur negeri. “Beberapa hal menarik juga saya temukan lewat riset, misalnya rute terjauh Pelni menembus 4.000 kilometer, setara jarak dari London ke Baghdad, dan menghabiskan waktu pelayaran pulang pergi selama sebulan.”

Hingga kini, Fadli sudah mencoba lima rute pelayaran, termasuk Makassar-Kupang dan Ambon-Banda. Melompat dari satu pulau ke pulau lain, dia berjumpa antara lain pelajar asal Papua yang berangkat kuliah ke Surabaya; saudagar Kupang yang berbelanja ke Makassar; serta TKI asal Nusa Tenggara Timur yang singgah di Nunukan sebelum merantau ke Malaysia. “Bahkan TNI sekalipun masih menggunakan kapal Pelni untuk transportasi pasukan ke timur Indonesia,” tambahnya.

Proyek ini jelas tak mudah. Cakupan wilayahnya terlampau luas. Selain itu, Fadli kadang harus bersabar dengan jadwal yang tak pasti. Tapi semua kerepotan itu justru memberi proyek fotonya perspektif lain untuk memahami isu klasik negeri ini: ketimpangan pembangunan. “Di Jakarta,” katanya, “orang pusing memikirkan cara mencapai Lebak Bulus dari Sudirman dalam waktu 30 menit. Tapi, di pelosok, orang-orang tengah menunggu apakah kapal yang akan mereka tumpangi betul akan datang.”

Baca juga: Mereka Yang Hidup dalam Benteng; Perahu Tercepat Sedang Sekarat

Bridge of the Nation dicanangkan rampung pada 2021. Untuk melengkapi proyek fotonya, Fadli akan mengarungi setidaknya dua rute jarak jauh lagi, yakni Surabaya-Merauke dan Jakarta-Kepulauan Riau. Melihat kini maskapai kian ekspansif dan bandara bermunculan di Indonesia, Fadli percaya Pelni masih punya masa depan yang panjang. Pesawat belum terjangkau semua orang, apalagi setelah harga tiket melonjak drastis. Khusus daerah yang minim infrastruktur, Pelni juga unggul dalam hal daya penetrasi. “Di Kepulauan Riau ada satu daerah yang tak punya pelabuhan layak,” jelas Fadli. “Masyarakat mengakalinya dengan menaiki perahu ke tengah laut di mana kapal lego jangkar.”—CR

Proyek foto ini dipilih lewat proses seleksi oleh editor tamu Beawiharta dan telah diterbitkan dalam DestinAsian Indonesia edisi Juli-September 2019.

Bridge of the Nation Bridge of the Nation Bridge of the Nation Bridge of the Nation Bridge of the Nation

 

Muhammad Fadli
Fadli, salah seorang pendiri kolektif Arka Project, bekerja sebagai redaktur foto Forbes Asia. Karya-karyanya pernah dipamerkan di sejumlah festival foto dan dimuat di beragam media, termasuk Das Magazin, Der Spiegel, dan The Wall Street Journal. Buku foto pertamanya, Rebel Riders, mendokumentasikan komunitas Vespa ekstrem di Indonesia. muhammadfadli.com.

Comments