Ibu Kota Pariwisata Pintar 2019

Kendati belum menjadi favorit turis dunia, Helsinki merupakan teladan di sektor pariwisata. Tahun ini, ia terpilih sebagai Smart Tourism Capital. Apa sebabnya?

Kiri-kanan: Ruang rubanah di Amos Rex, museum seni rupa yang didesain oleh firma JKMM Architects dan diresmikan pada Agustus 2018 (Foto: Tuomas Uusheimo/Amos Rex Museum); zona membaca di Oodi Central Library, perpustakan yang diresmikan pada Desember 2018. (Foto: Tuomas Uusheimo/Helsinki Marketing)

Oleh Cristian Rahadiansyah

“Akibat keterbatasan finansial atau fisik,” kata Miikka Rosendahl, CEO Zoan, “sekitar 80 persen penduduk bumi belum pernah naik pesawat. Apa yang kami ciptakan bisa membantu mereka berwisata.”

Di kantornya yang bersarang di gedung renta, Miikka tengah mempresentasikan Virtual Helsinki, sebuah produk canggih yang memungkinkan kita mengunjungi Helsinki tanpa secara jasmaniah hadir. Dan berhubung formatnya virtual, kita bisa “datang” kapan saja, dari mana saja, bersama siapa saja.

Miikka mencomot sebuah perangkat VR, lalu memasangkannya di kepala saya. Di luar kantornya, langit kelabu dan salju menumpuk, tapi lewat Virtual Helsinki saya bisa melihat wajah kota yang hangat. Saya menatap senja jingga di tepi laut dan berjalan-jalan di Senate Square pada musim panas. “Untuk saat ini dia belum bisa diajak bicara,” Miikka berkelakar tentang seorang gadis virtual yang sedang duduk di hadapan saya. Hampir saja saya mempermalukan diri sendiri.

Dalam industri pariwisata, Virtual Helsinki merupakan terobosan inovatif dalam teknik promosi. Apa yang ditawarkannya telah merevolusi konsep brosur kota. Dalam waktu dekat, kata Miikka, produk ini akan dipasang di YouTube dan disebar di wahana arcade di banyak kota. Targetnya meraup satu juta turis VR. Turis yang tidak butuh tiket pesawat dan paspor tentunya.

Tetapi jangan mengira Virtual Helsinki sepenuhnya proyek amal bagi mereka yang tak sanggup terbang. Digarap bersama Pemkot, produk ini juga difungsikan layaknya “iming-iming” bagi mereka yang penasaran dengan Helsinki, kira-kira mirip trailer sebuah film. Itu pula sebabnya, Virtual Helsinki kelak dilengkapi pramuwisata virtual, tutorial naik trem, bahkan panduan memilih hotel. Artinya, Anda bisa menginspeksi kamar jauh sebelum check in. “Skala model 3D kota yang kami ciptakan lebih akurat dari versi Google,” tambah Miikka.

Asortimen makanan racikan koki Turki Mehmet Gürs di restoran Andrea. (Foto: Elvi Rista/Hotel St. George)

Saya datang ke Helsinki Januari silam. Kota ini bersemayam di kaki Finlandia, sekitar 14 jam penerbangan dari Jakarta. Selama seminggu berkelana, temperatur senantiasa susut di bawah titik beku, salju memutihkan kota, dan matahari musim dingin kelewat malas untuk melewati ubun-ubun. Helsinki di Januari bukanlah kota yang melulu asyik dijelajahi.

Bagi turis Indonesia, kota ini belum terlalu populer, walau banyak dari kita mungkin pernah mendengar namanya. Helsinki punya tempat khusus dalam sejarah Indonesia. Di sinilah pada 2005 utusan pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka meneken pakta damai.

Pun bagi turis dunia, Helsinki belum terlampau digemari. Tahun lalu, kota ini membukukan hanya 2,2 juta pelancong asing. Dibandingkan kota-kota utama di kawasan Nordik, ia kalah tenar. Dan jika disandingkan dengan kota- kota besar Eropa Barat, Helsinki jauh tertinggal.

Tapi tahun ini kondisinya sedikit berbeda. Walau secara statistik kalah laris, Helsinki sekarang punya predikat baru yang membuatnya tampil bersinar di Eropa. Oleh lembaga Uni Eropa, kota ini diganjar gelar European Capital of Smart Tourism, sebuah penghargaan bagi kota-kota yang dipandang menunjukkan keberhasilan dalam merespons tantangan mutakhir pariwisata, mulai dari revolusi digital hingga perubahan iklim. Untuk 2019, Helsinki berduet dengan Lyon di podium teratas.

Gelar itu didasarkan atas penilaian pada empat kategori: accessibility, sustainability, digitalization, serta cultural heritage & creativity. Untuk kategori pertama misalnya, Helsinki dinilai sukses menyediakan kemudahan navigasi, termasuk bagi difabel. Sementara di poin digitalization, kota ini menorehkan sejumlah pencapaian menonjol, salah satunya Virtual Helsinki yang saya singgung di awal tulisan.

Kiri-kanan: Area publik di lantai dasar Oodi Central Library (Foto: Tuomas Uusheimo/Oodi) ;
 vege tartar di Grön, restoran dengan satu bintang Michelin.

“Cara-cara lama tidak lagi memadai,” jelas Jukka Punamaki, Senior Advisor Pemkot Helsinki, tentang makna penghargaan yang diraih kotanya. “Kami harus lebih cerdas dalam menjawab pertumbuhan turis, tantangan lingkungan, serta perubahan teknologi. Tanpa strategi baru, pariwisata bisa memicu masalah. Sudah banyak contohnya.”

Sebelum mengulas Smart Tourism lebih jauh, satu yang penting diketahui, terminologi ini bukan semata soal Wi-Fi gratis atau kartu diskon untuk turis. Smart Tourism sesungguhnya lebih berbicara tentang kemampuan sebuah destinasi mengikuti derap zaman, tanpa mengorbankan kemaslahatan lokal. Smart Tourism, gampangnya, adalah kebalikan dari “dumb tourism,” istilah untuk praktik pariwisata yang riskan merusak alam dan budaya setempat, misalnya prakarsa menciptakan tempat-tempat Instagrammable.

Bagi Helsinki, tanah kelahiran Linux, berlaku “pintar” sepertinya bukan perkara sulit. Yang lebih menarik justru melihat proses di baliknya. Bagaimana Helsinki, sebuah kota kecil yang belum menjadi favorit turis dunia, kini mampu menjadi teladan di sektor pariwisata?

Objek wisata terlaris di Helsinki terdiri dari Linnanmaki Park, Benteng Suomenlinna, serta Gereja Temppeliaukio. Itu daftar menurut statistik resmi. Tapi itu semua sesungguhnya kurang mewakili secara utuh esensi wisata di Helsinki. Setidaknya bagi saya, magnet terkuat kota ini justru terletak pada kemampuannya membawa kita menyelami gaya hidup warga.

Novelis Meg Wolitzer menggambarkan Helsinki sebagai “tempat yang tak pernah terpikirkan, kecuali saat kita sedang mendengarkan Sibelius, atau berbaring di papan sauna yang panas dan basah, atau menyantap semangkuk sup rusa kutub.” Kalimat itu bisa ditambahkan dengan berbelanja Marimekko dan menenggak gin tonic merek Napue.

Pondok sauna di Pulau Lonna yang terbuka untuk umum selama musim panas. (Foto: Julia Kivela/Helsinki Marketing)

“Kami berorientasi pada kepentingan warga, termasuk di sektor pariwisata,” jelas Leena Karppinen, Humas Helsinki Marketing. “Saat menciptakan sesuatu, prinsip kami sederhana: jika warga suka, maka turis juga akan suka.”

Tentu saja, tidak semua yang disukai warga otomatis disukai turis. Ambil contoh sauna. Kegiatan ini merupakan hobi nasional Finlandia, sebuah negeri berpopulasi lima juta jiwa yang mengoleksi tiga juta tempat sauna! Saya sempat mencobanya, dan sepertinya tak akan mengulanginya. Duduk satu ruangan bersama pria-pria bugil penuh peluh adalah pengalaman traumatis yang membekas panjang.

Ini lawatan kedua saya ke Helsinki. Seminggu di sini, saya mendapati banyak hal telah berubah. Jika dulu praktis hanya mengandalkan gedung-gedung renta, Helsinki kini mengoleksi beragam kreasi urban yang menyegarkan. Salah satu contoh terbarunya ialah Amos Rex, museum seni yang mirip pangkalan rubanah alien. Ruang pamernya meringkuk di bawah tanah, sementara lapisan atasnya ditaburi kaca bundar yang menyembul bak lampu tembak.

Namun demikian, dari semua inisiatif baru Helsinki, satu yang paling menyita perhatian dunia tetaplah kreasinya di bidang teknologi. Bagi mereka yang mengikuti perkembangan teknologi, kota ini tersohor sebagai laboratorium yang meramu aneka inovasi cerdas yang memudahkan hidup.

Berjalan kaki, saya menembus suhu minus menuju Maria 01. Tiba di tujuan, sebuah pelang memasang tulisan “Welcome to Startupland.” Melayangkan pandangan ke sekitar, ada gedung-gedung tua bekas rumah sakit peninggalan Rusia. Pemandangan yang janggal. Maria 01, jembatan menuju masa depan Helsinki, menempati kompleks suram dari masa silam.

Kiri-kanan: Miikka Rosendahl, CEO Zoan, perusahaan yang menciptakan virtual Helsinki (Foto: Hannes Honkanen/Zoan); seorang tamu melakoni swafoto di butik Marimekko, produk ekspor paling terkenal dari Finlandia selain Nokia dan Angry Birds. (Foto: Yiping Feng & Ling Ouyang/Helsinki Marketing)

Maria 01 diklaim sebagai kantong startup terbesar di wilayah Nordik. Fungsinya sebagai inkubator: ruang kerja sekaligus wadah berjumpa investor. Sebuah tempat untuk merajut mimpi bagi mereka yang bercita-cita mengikuti jejak Steve Jobs atau Jack Ma.

Saya memasuki gerbang utamanya yang dikangkangi tulisan “Not A Hospital,” lalu duduk di samping meja biliar. Pada denah kompleks tertulis Maria 01 menampung pula aula serbaguna, restoran Starter, serta ruang Games Factory yang berukuran paling lapang.

“Industri permainan memang paling menjanjikan,” ujar Voitto Kangas, CEO Maria 01, yang menemui saya pada Sabtu pagi dengan mata mengantuk. Katanya, 25 persen pendapatan sektor TIK di Finlandia mengalir dari bisnis gim. Selain Angry Birds, kreasi box office negeri ini antara lain Hay Day dan Max Payne.

Diresmikan pada 2016, Maria 01 merupakan inisiatif Helsinki untuk bersaing di zaman digital. Seperti kita ketahui, dalam industri ini, website dan aplikasi merupakan komoditas utamanya, sementara produsennya ialah remaja berotak encer, bermimpi liar, dan umumnya bersepatu sneaker. Menyediakan kantor bertarif terjangkau adalah kiat jamak untuk memikat kaum technopreneur itu.

Helsinki dan kawasan sekitarnya kini menampung lebih dari 500 perusahaan rintisan, dan Maria 01 hanyalah salah satu markas mereka. Skena rintisan di sini merekah berkat infrastruktur yang prima. Mengutip survei dari Consumer Technology Association, Finlandia berada di kelompok atas dalam hal dukungan untuk inovasi. Parameternya antara lain kebebasan individu, koneksi internet, serta bujet riset. “Dalam peta kota startup,” tambah Voitto, “Helsinki berada di kelompok kedua, bersaing dengan Stockholm dan Tallinn.”

ResQ Club adalah contoh gagasan cemerlang lain yang lahir dari ekosistem kondusif Helsinki. Perusahaan ini mengusung misi unik: mengenyangkan perut sekaligus menyunat sampah. Saban harinya, ResQ mengunggah daftar makanan yang terancam dibuang akibat hampir kedaluwarsa. Pengguna cukup memilih produk yang disukai, lalu membelinya dengan harga diskon, lazimnya antara 40-70 persen. Mirip bazar online makanan sebenarnya.

Comments