Hotel Bergaya Eropa di Jogja

Mengaplikasikan desain trendi Eropa, Sofia menjala segmen VIP di tingkat domestik. Kehadirannya merefleksikan perubahan sosial di Yogyakarta.

Premier room, tipe terendah di Sofia Boutique Residence. (Foto: Ben Purnomo)

Oleh Cristian Rahadiansyah

Menjulang lima lantai dengan paras gelap bergaya Eropa, Sofia Boutique Residence tampak kontras di antara rumah-rumah sederhana Dusun Sedan. Memasuki interiornya, citra asing itu terasa lebih mencolok: dinding bergaya empire, lukisan replika era barok, mebel glamor rococo dan Victoria, warna-warna trendi yang bersanding berani.

Sofia, hotel yang dibuka Juni 2018, bersemayam di utara Yogyakarta, di jalur pelesir yang populer menuju Museum Ullen Sentalu, Kaliurang. Dari teras di lantai puncaknya, tamu bisa menyaksikan Gunung Merapi yang terpisah sekitar 30 kilometer.

Hotel butik ini menaungi tiga kategori kamar. Kamar di lantai berbeda mengadopsi corak warna yang berbeda pula. Kesamaan di antara mereka terletak pada amenitasnya yang dilapisi logo premium, contohnya toiletries Bulgari, handuk Zara Home, serta kopi Malongo buatan Prancis.

Tiap kamarnya dicetak lapang—salah satu keunggulan hotel ini. Tipe Premier Room luasnya 40 meter persegi, lebih luas dibandingkan kamar terendah di hotel tetangga, Hyatt Regency. Servisnya juga cukup cekatan berkat rasio staf yang ideal: 35 karyawan untuk melayani 20 kamar.

Baca juga: Jogja Lautan WayangTur Kopi di JogjaRasa Baru Legenda Jogja

Kiri-kanan: Fasad hotel yang menjulang tinggi; area lobi hotel. (Foto: Ben Purnomo)

Dari semua asetnya, desain merupakan elemen yang paling menyita perhatian. Bergaya trendi sekaligus teatrikal, Sofia sejenak mengingatkan kita pada hotel-hotel flamboyan semacam Pulitzer Amsterdam, Grand National Lucerne, juga beberapa properti milik MGallery. Menurut Yuliawati, staf Sofia, desain itu terinspirasi pengalaman pihak pemilik berkelana di Eropa.

Melihat suguhannya, Sofia bisa dibilang merupakan spesies baru di Yogya. Mayoritas hotel mapan di sini berlanggam Jawa kontemporer, contohnya Royal Ambarrukmo dan Meliá Purosani. Di luar itu, ada aliran retro hip (Lokal dan Adhisthana) serta rustic tradisional (d’Omah dan Tembi). Pertanyaannya kemudian: siapa sebenarnya segmen Sofia? Terlepas dari presentasinya yang segar, hotel ini mengundang teka-teki bisnis: apa gerangan alasan turis datang ke Yogya, salah satu kutub budaya Jawa, untuk kemudian menginap di hotel yang justru menerbangkan imajinasi mereka ke Eropa?

Kehadiran Sofia memang tak bisa dilepaskan dari kondisi mutakhir Yogya, sebuah destinasi yang kian urban dan metropolis. Apartemen, mal, dan restoran berorientasi Barat bermunculan. Kecuali butik aspirasional sekaliber Dior atau Ferrari, hampir semua emblem yang dipajang di Jakarta bisa ditemukan di sini.

Ruang tunggu di lobi.

Dalam konteks itulah Sofia lahir. Ia mencerminkan perubahan sosial di Yogya, termasuk keterbukaan warganya terhadap eksperimen desain. Terbukti, semenjak dibuka, hotel ini sukses menjaring pasar VIP domestik. Saat saya datang akhir November silam, seluruh kamarnya penuh terisi, termasuk griya tawang di lantai teratasnya.

Berkat desainnya yang palatial pula, Sofia merekah jadi wadah kongko kaum sosialita lokal. Kata staf hotel, grup ibu-ibu rajin mampir untuk kongko, arisan, dan berfoto dengan beragam pakaian. Sofia, dalam analogi yang sederhana, ibarat The Gunawarman versi Yogya.

Jl. Karya Utama, Sedan, Sleman, Yogyakarta; 0274/2880-099; sofiayogya.com; mulai dari Rp888.000.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Maret 2019 (“Tanda Zaman).

Comments