Hikayat Tari Topeng Indramayu

  • Wangi Indriya menggelar pentas tari topeng dadakan di Sukmajaya.

    Wangi Indriya menggelar pentas tari topeng dadakan di Sukmajaya.

  • Para generasi penerus tari topeng di Sanggar Mulya Bhakti.

    Para generasi penerus tari topeng di Sanggar Mulya Bhakti.

  • Wangi Indriya tengah beristirahat usai mengajar anak-anak menari di Sanggar Mulya Bhakti.

    Wangi Indriya tengah beristirahat usai mengajar anak-anak menari di Sanggar Mulya Bhakti.

  • Aula pentas Sanggar Jaka Baru di Desa Gadingan.

    Aula pentas Sanggar Jaka Baru di Desa Gadingan.

  • Rohadi, dalang wayang asal Indramayu.

    Rohadi, dalang wayang asal Indramayu.

  • Warsad, perajin wayang dan topeng, turut menikmati berkah naiknya pamor Indramayu.

    Warsad, perajin wayang dan topeng, turut menikmati berkah naiknya pamor Indramayu.

  • Salah satu murid Wangi yang antusias melestarikan tari topeng.

    Salah satu murid Wangi yang antusias melestarikan tari topeng.

  • Topeng khas Indramayu yang kini banyak diperjualbelikan.

    Topeng khas Indramayu yang kini banyak diperjualbelikan.

Click image to view full size

Indramayu mencetak penari-penari topeng kelas dunia. Berkaca pada kasus Rasinah, sistem pendidikan modern kini diterapkan dalam proses regenerasi seniman.

Oleh Wikana
Foto oleh Dwianto Wibowo

Namanya bersinar di tingkat dunia. Wangi Indriya pernah mencicipi gedung-gedung pertunjukan ternama, mulai dari Esplanade hingga Teatre Lliure. Di bawah arahan sutradara Broadway, Robert Wilson, dia memerankan Wé Nyiliq Timoq dalam I La Galigo.

Tapi, hari ini, Wangi lebih memilih menari di sebuah desa di Sukmajaya, daerah yang dihuni banyak rumah uzur bertubuh bambu dan beratap limasan. Butuh satu jam untuk menjangkaunya dari Jatibarang, pusat kota Indramayu. “Di sini suasananya masih asyik kan,” ujar Wangi. Anjing-anjing kampung terus menggonggong saat kami tiba.

Tubuhnya tegak lurus dengan kedua kaki terbuka membentuk kuda-kuda. Dia bergerak lambat, sangat lambat, nyaris tak terlihat sedang menari. Wangi mengenakan sobra (mahkota) dengan sumping (semacam hiasan mirip rambut). Kain batik bermotif flora khas Paoman mengubur kedua kakinya. “Saya terbiasa menari di mana saja,” ujarnya lagi.

Selang 20 menit, tangannya menarik topeng yang dibungkus kain ules. Tariannya melambangkan bayi yang baru lahir. Satu per satu warga keluar rumah untuk menyaksikan pentas dadakannya. Lebih berupa gerak ritual, Tari Panji tak peduli dengan kenikmatan penonton. Sang penari dipaksa menahan gerak dan emosi, kontradiktif dengan nada-nada rancak yang mengiringinya. Dalam panggung yang komplet, tari ini diiringi gending Kembang Sungsang yang sukar dimainkan.

Tari Panji juga menuntut banyak aturan. Penari, misalnya, dilarang berkeringat atau mengangkat bahu ketika menarik napas. “Seperti mati sejeroning urip, urip sejeroning mati,” jelas Wangi. Sebelum pentas, wanita asal Desa Tambi ini melakoni serangkaian puasa, termasuk berpantangan garam dan daging. >>



Comments

Related Posts

13680 Views

Book your hotel

Book your flight