Geliat Ajang Festival di Negeri Jiran

  • Penampilan salah satu grup teater internasional di George Town Festival. (Foto oleh Pek Min Han)

    Penampilan salah satu grup teater internasional di George Town Festival. (Foto oleh Pek Min Han)

  • Rainforest World Music Festival yang memadukan antara budaya tradisional dan musik.

    Rainforest World Music Festival yang memadukan antara budaya tradisional dan musik.

  • Salah satu acara di The Other Festival.

    Salah satu acara di The Other Festival.

  • Salah satu konser band lokal di Urbanscapes. (Foto oleh All is Amazing)

    Salah satu konser band lokal di Urbanscapes. (Foto oleh All is Amazing)

Click image to view full size

Dari The Other Festival hingga Urbanscapes, festival-festival di Malaysia berjasa merekatkan solidaritas warga, menghidupkan sisi lain kota, menciptakan magnet wisata. Tantangan kini hadir dari sikap konservatif penguasa.

Oleh Ling Low

Dari sekian banyak mural di George Town, Ibu Kota Penang, salah satunya menampilkan seorang bocah yang tengah mengendarai sepeda motor. Karya ini melekat di sebidang dinding di gang sempit. Saban akhir pekan, turis memotret karya seniman Lithuania Ernest Zacharevic itu. Saat catnya mulai pudar, Zacharevic memperbaruinya. “Mungkin sudah lima juta orang yang menyentuhnya, merabanya, mengunggah fotonya di Instagram,” ujar Joe Sidek, Direktur George Town Festival. “Andaikan dipajang di galeri, jumlah orang yang melihatnya mungkin cuma sepersepuluhnya.”

Tahun ini, George Town Festival dijadwalkan bergulir dari 29 Juli-28 Agustus 2016. Festival ini, seperti mural-mural di seantero kota, bertujuan mengusung seni ke ruang publik agar bisa dinikmati khalayak. “Festival kami berbicara soal rasa bangga yang bersifat lokal, tentang kepemilikan bersama atas ruang dan tempat,” lanjut Sidek. “Ajang ini membuat warga menaruh perhatian lebih pada tempat hidup mereka sendiri.”

Selama sebulan, George Town Festival menampilkan sejumlah pameran, seminar, konser musik, serta pertunjukan teater. Mayoritas acara ditukangi warga lokal. Menjauh dari venue konvensional seperti galeri, acara-acara tersebut bergulir di beberapa rumah, kuil, hingga kedai kopi. Walau banyak pengisi acara datang dari luar negeri, sekitar 80 persen suguhannya dibuka gratis. “Satu hal yang kadang dilupakan orang, festival ini bukan soal pementasan. Suguhan utamanya adalah George Town itu sendiri,” kata Sidek lagi.

Pertunjukan oleh All Things Malaysian (ATM) dalam George Town Festival 2015. (Foto: Pek Min Han)

Pertunjukan oleh All Things Malaysian (ATM) dalam George Town Festival 2015. (Foto: Pek Min Han)

Dalam tujuh tahun terakhir, George Town Festival tumbuh impresif. Tahun lalu, sekitar 200.000 orang menghadirinya. Festival ini juga telah menuai sorotan media internasional. “Think global, act local,” ujar sebait petuah klasik. Dalam kasus George Town Festival, prinsip sebaliknya juga berlaku: “Think local, act global.

Salah satu nomor pentas tahun lalu, 100% Penang, melibatkan 100 orang penduduk Penang di atas panggung. Berkolaborasi dengan grup teater asal Jerman Rimini Protokoll, pertunjukan itu meminta partisipan membeberkan opini, mimpi, dan realitas hidup mereka. Bisa dibilang, 100% Penang merangkum dengan sempurna semangat George Town Festival, sebuah hajatan besar di mana kota dan penghuninya sama-sama berperan vital dalam kesuksesan acara. Menyadari kontribusi penting tersebut, Pemerintah Negara Bagian Penang royal mengalokasikan dana bagi George Town Festival.

Di banyak belahan bumi, festival berperan sebagai katalisator budaya. Lebih dari sekadar kemeriahan, festival menghadirkan pengalaman yang mengubah persepsi atas sebuah tempat, baik di mata turis maupun warga. Itu sebabnya, mendengar kata Jaipur, kita akan berpikir tentang literatur; mendengar kata Edinburgh, kita membayangkan komedi.

Penang sudah lama tersohor akan makanan jalanannya, juga kekayaan arsitekturnya yang telah dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia. Melalui George Town Festival, Penang merangkai citra baru sebagai jantung seni kreatif Asia Tenggara. Dan kisahnya menjadi teladan bagi banyak tempat di Malaysia.

Beberapa tahun silam, Ipoh dipandang sebagai kota transit belaka. Gelombang migrasi kaum mudanya ke Kuala Lumpur membuat Ipoh kehilangan denyut kehidupan. Kota ini pun dicitrakan sebagai sebuah kota pensiun yang tak menawarkan banyak kegiatan kecuali merenung dan melamun.

“Bahkan warga Ipoh sendiri lupa apa saja yang bisa dilakukan di sini,” ungkap Lainie Yeoh, salah seorang project leader Kakiseni, LSM yang bermarkas di Kuala Lumpur. Oktober tahun lalu, Kakiseni menyelenggarakan The Other Festival di Ipoh. Seperti George Town Festival, pergelaran ini menyajikan beragam acara yang memiliki relevansi kuat dengan lokasinya. The Other Festival mendatangkan seniman yang memiliki ikatan sejarah dengan Ipoh, lalu meminta mereka berbagi kisah dan memandu tur jalan kaki.

“Ada banyak sudut menarik di Ipoh,” lanjut Yeoh, yang juga berasal dari sini. “Kami ingin memperkenalkan tempat-tempat itu ke publik.” Demi agenda itu pula, The Other Festival memanfaatkan venue semacam bar dan bekas toko letterpress. Tak terbiasa dengankeramaian, beberapa pemilik tempat awalnyaenggan terlibat, walau pada akhirnya lebihbanyak orang yang setuju berpartisipasi.Selain menarik perhatian signifikan dariwarga dan wisatawan, The Other Festivalmeninggalkanjejak yang cukup kentara di Ipoh.

Berhubung festival ini menggelar banyak walking tour, Kakiseni membujuk dewan kota untuk mengecat zebra cross di jalan-jalan utama guna memudahkan pejalan kaki. Dampak sebuah festival kadang terlihat gamblang, walau di momen yang lain kita hanya bisa merasakannya. The Other Festival menyibukkan banyak restoran dan hotel, juga membuka lapangan kerja temporer. Kita bisa menghitung sumbangan ekonominya ke kas kota. Tapi ada nilai lain dari festival ini yang sulit dikalkulasi, yakni meningkatnya ikatan sosial sebuah komunitas kota. >>



Comments

Related Posts

1913 Views

Book your hotel

Book your flight