Fungsi Concierge Hotel di Era Modern

Di zaman ketika banyak keperluan pelancong telah dilayani oleh internet, masihkah concierge relevan?

Kapal kerajaan yang mewah di Royal Barges Museum.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Ben Laksana

Permintaan saya simpel: makan malam di Gaggan pada Minggu malam. Tapi ada tantangan berat untuk memenuhinya: sekarang Kamis dan Gaggan adalah restoran terbaik di Asia. Orang yang hendak makan di sana sudah melakukan reservasi jauh hari. Terbukti, saat saya telepon, resepsionis menyatakan meja Gaggan sudah penuh hingga sebulan ke depan.

James mengerahkan tenaga untuk tersenyum, lalu dengan halus menjawab: “Saya akan berusaha semampu saya.” Seorang concierge, katanya lagi, dilarang mengatakan “tidak,” betapapun konyolnya permintaan si tamu.

Nama aslinya Songkiat Namthaisong. Dia salah satu concierge senior di Sheraton Grande Sukhumvit, hotel yang bersarang di distrik sibuk Bangkok. Di profesinya, James punya portofolio yang cukup tebal. Dia pernah mengabdi selama lima tahun di Four Seasons Bangkok dan dua tahun di W Bangkok. Melayani permintaan tamu yang menyebalkan bagaikan menu sarapan baginya, dan kinerjanya memang diukur dari kemampuannya memuaskan tamu—memuaskan saya.

Kiri-kanan: Lobby megah Sheraton Grande Sukhumvit; James, concierge dengan pengetahuan tentang Bangkok yang menakjubkan.

Concierge jelas bukan profesi bagi mereka yang lemah jantung. Secara etimologis, ia berasal dari kata “covervius” yang berarti “dengan layanan.” Kata ini konon muncul dalam kosakata Prancis pada awal abad ke-12. Layaknya seorang asisten pribadi, tugas concierge kala itu adalah melayani raja, termasuk mengurusi kunci kamar-kamar istana. (Karena itulah kunci menjadi logo profesi concierge, seperti yang tertera dalam bentuk bros di jas yang dikenakan James.) Setelah babad monarki memudar, concierge berpaling pada tuan-tuan baru—tamu hotel.

“Tugas kami melayani permintaan dan pertanyaan dari tamu, terutama yang tidak bisa dijawab oleh staf hotel lain,” ujar James. Di banyak hotel, concierge umumnya membantu tamu dalam memesan tiket pertunjukan dan meja restoran, serta mengirimkan parsel atau bunga ke rekan bisnis. Tapi berhubung concierge dipandang sebagai orang yang mengenal medan, tugasnya kerap merangkap pula sebagai pemandu tur. Ada kalanya, permintaan tamu mustahil dipenuhi. Bukan karena si concierge payah, melainkan karena permintaan itu melanggar hukum. James misalnya, pernah diminta menawar tarif jasa layanan seks ladyboy. “Saya terpaksa menolaknya,” kenang James, yang mengaku rutin bermeditasi untuk melatih kesabaran dalam menghadapi tamu. “Semua permintaan yang tergolong ilegal, wajib ditolak.”

Pertanyaannya kini, di zaman ketika nyaris semua kebutuhan bisa dijawab oleh internet, masihkah concierge relevan? Restoran telah memiliki situs reservasi, tempat wisata rajin dikupas oleh blogger dan jurnalis, sementara pengiriman parsel bisa dilakukan dengan ujung jari. Jangan-jangan tamu yang memakai jasa concierge hanyalah kaum pemalas yang gagap smartphone, seperti saya? >>

Comments