Flores di Mata Naga 

Karolus Naga merekam orang-orang di sekitarnya dalam 10 tahun—dan proyek fotonya belumlah tuntas.

Ini kisah tentang sesuatu dekat dan familiar: rumah, kampung, tetangga, juga diri si fotografer sendiri. Sebuah kisah sehari-hari. Tentang kita dan sekitar kita.

Homo Floresiensis digarap oleh Karolus Naga, pria yang lahir di Ende, sebuah kabupaten di jantung Flores. Proyek ini, katanya, bercerita tentang orang Flores, persisnya tentang “bagaimana mereka hidup, berinteraksi, menyikapi persoalan kehidupan sehari-hari, dan melihat diri mereka sendiri.”

Proyek foto memang tidak mesti merekam sesuatu yang dahsyat atau gemebyar. Eksplorasi personal semacam Homo Floresiensis adalah karya yang sah, bahkan dalam beberapa tahun terakhir sangat populer. Dibandingkan proyek tentang, sebut saja, kenaikan air laut, karya personal unggul dalam personalitasnya. Ada yang intim di dalamnya, mirip puisi atau curahan hati.

Homo Floresiensis digarap dengan pendekatan snapshot. Naga memilih subjek secara acak sembari berkelana ke banyak tempat: Larantuka, Maumere, Nagekeo, Bajawa, Borong, Ruteng, hingga Labuan Bajo. “Saya tidak pernah memilih atau menentukan akan memotret di daerah mana atau memotret apa,” terangnya. “Yang terjadi adalah saya merekam apa yang saya lihat ketika sedang bepergian.”

Naga mengaku mempelajari pendekatan itu dari beragam sumber. Dari buku foto The Americans karya Robert Frank misalnya, Naga belajar cara menuangkan rasa lewat lensa dan mencari benang merah di antara ribuan foto. “Ada satu frame yang sangat saya sukai,” kenangnya tentang The Americans. “Salib di pinggir jalan tol. Dari satu frame itu kemudian saya memutuskan membuat foto-foto salib di pinggir jalan sepanjang Trans-Flores.”

Proyek ini dirintis pada 2009. Tentu ada banyak yang berubah dari Flores dalam 10 tahun terakhir, tapi Naga tidak menganggapnya sebagai elemen yang mengkhawatirkan. Proyek fotonya bicara soal identitas dan cara hidup. Di luar pembangunan infrastruktur, terutama di kantong turis seperti Labuan Bajo, alam berpikir manusia Flores tetap seperti sedia kala.

Foto-foto dalam Homo Floresiensis belum pernah dipamerkan ataupun diterbitkan (hingga akhirnya dimuat di DestinAsian Indonesia). Tapi Naga berniat membukukannya, walau dia tidak mematok tenggat pasti. “Akan dibukukan saat dirasa sudah cukup,” katanya. Dalam proyek personal, “cukup” adalah kata yang sukar ditakar. Robert Frank mengumpulkan 27.000 foto dari perjalanannya, sebelum akhirnya mengemasnya dalam buku berisi hanya 83 foto.—CR

Proyek foto ini dipilih lewat proses seleksi oleh editor tamu Beawiharta dan telah diterbitkan dalam DestinAsian Indonesia edisi Juli-September 2019.

Pemakaman Oma Sofia, Ende 2019 New Years Eve 2019 Camping Trip New Years Eve 2019 Camping Trip New Years Eve 2019 Camping Trip New Years Eve 2019 Camping Trip New Years Eve 2019 Camping Trip

Karolus Naga
Naga menetap di Flores dan bekerja sebagai fotografer, petani kopi, serta tukang sangrai Virgil Coffee Roasters. Dia pernah mengikuti lokakarya di bawah bimbingan Philip Blenkinsop dan Markus Schaden. Dari 2008-2017, Naga pernah berpartisipasi dalam 16 pameran di beragam ajang, termasuk Delhi Photo Festival, Festival Foto Surabaya, dan Bergamo Film Festival. karolusnaga.com.

Comments