Esensi Arsitektur

Ketua tim kurator pavilion Indonesia di Venice Biennale of Architecture berbicara tentang tema pameran, tren arsitektur, serta kota yang melek desain.

Aksi Arsitektur Instalasi Paviliun Uruguay dalam Venice Biennale of Architecture 2016. (Foto: Awakening/Getty Images)

Wawancara oleh Yohanes Sandy

Tema paviliun Indonesia?
Sunyata: The Poetics of Emptiness. Artinya mengembalikan arsitektur pada kualitas ruang, serta meletakkan semangat kemanusiaan dan keinginan untuk berbagi di dalamnya. Ini seolah menjawab pertanyaan, bagaimana jika arsitektur tidak hanya dilihat sebagai wujud atau rupa?

Pesan yang ingin disampaikan?
Kami ingin menampilkan Indonesia dalam napas yang lebih kontemporer, di luar bentuk dan ornamen tradisional yang selama ini dikenal dunia.

Berapa orang yang terlibat?
Enam orang. Lima arsitek dan satu ahli teknologi informasi. Di samping itu, kami didukung konsultan struktur, grafis, material, tata cahaya, dan tata suara.

Semuanya diseleksi?
Open call dilakukan oleh Ikatan Arsitek Indonesia pada 7 Oktober 2017 sebagai komisioner kegiatan ini bersama Badan Ekonomi Kreatif. Dari sekitar 70 peserta yang memasukkan proposal, dipilih lima yang harus mempresentasikan karya di depan juri yang terdiri dari Profesor Gunawan Tjahjono, Goenawan Mohamad, Jay Subyakto, Ricky Joseph Pesik, Budi Lim, Ahmad Djuhara, dan Achmad D. Tardiyana.

Wawancara singkat dengan Ketua tim kurator pavilion Indonesia di Venice Biennale of Architecture. (Foto: Decorous)

Harapan tim Anda?
Indonesia bisa tampil dengan gaya berbeda tanpa meninggalkan nilai-nilai yang selama ini kita miliki dalam arsitektur. Hal ini dapat membuka pikiran khalayak, bahwa di balik ornamen dan bentuk yang selama ini diandalkan arsitektur Indonesia, ada hal-hal yang sesungguhnya tidak kalah dibandingkan pemikiran arsitektur ala Barat.

Arsitektur seharusnya dipahami dengan cara apa?
Arsitektur yang dipahami orang awam biasanya tentang bentuk dan warna. Padahal, esensi arsitektur yang sesungguhnya adalah ruang, dan bagaimana manusia menjadi tokoh utama dalam ruang itu. Bagi para pelancong, saat datang ke suatu tempat dan ingin menikmati arsitektur, cobalah berhenti memotret. Biarkan mata dan indra lain menikmati arsitektur itu dengan caranya masing-masing. Bisa dengan cara melihat, meraba, atau mendengar. Dengan cara seperti inilah menikmati arsitektur menjadi pengalaman yang berkesan.

Tren arsitektur di Indonesia saat ini?
Arsitektur Indonesia akan lebih individual. Semua orang semakin berani mengungkapkan selera dan keinginan pengalaman ruangnya dalam desain. Dan kita sepertinya akan kembali ke desain lokal, tidak sekadar mencontoh referensi asing yang 10 tahun belakangan mendominasi perbendaharaan arsitektur kita.

Kota di Indonesia yang melek desain?
Solo, Singkawang, Banyuwangi, dan Tulang Bawang Barat adalah kota-kota yang pertumbuhan arsitekturnya menarik. Kepala pemerintahannya percaya desain yang bagus akan mengangkat kota dan masyarakatnya ke posisi berbeda.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi April/Juni 2018 (“In The Spotlight”).

Comments