Elegi Tanah Rempah

Panorama Pulau Rhun dan Pulau Naikala.

Persis 350 tahun silam, dua negara meneken perjanjian tukar guling tanah jajahan: Inggris mendapatkan Manhattan, sementara Belanda mendapatkan Rhun. Tapi ketika dunia kini mengagungkan Manhattan, Rhun kian terlupakan. Inilah kisah tentang bagaimana satu tanaman menentukan nasib sebuah tempat.

Oleh Fatris MF

Foto oleh Muhammad Fadli

Pada  pengujung   2016,  saya  meringkuk dikebat rasa mual di atas sebuah perahu motor dengan mesin paling bising di jagat raya. Suaranya melebihi dengung mobil F1, padahal kecepatannya hanya setara pedati yang ditarik kerbau. Sejak bertolak dari Pulau Naira, Ibu Kota Kepulauan Banda, Musim Barat yang ganas membuat perahu ini dan seisi penumpangnya terhuyung-huyung. Sudah lebih dari dua jam saya duduk di dek bersama mama-mama dengan mulut yang tak kalah berisik dari deru mesin perahu. Sepanjang perjalanan, mereka tak henti berbicara, tertawa, berolok-olok. Salah satu sasaran olok-olok mereka adalah seorang penata rias, lelaki gempal dengan dandanan yang lebih menor dari wanita.

Perahu ini membawa saya menuju sebuah pulau yang dikepung Laut Banda. Penjelajah di masa lalu menyebutnya Puloroon, pulau yang dianggap penting berkat hasil buminya. Puloroon, Run, atau Rhun, adalah tanah yang sulit dilacak di atas peta. Daratan seluas 2×4 kilometer ini terselip dalam gugusan Kepulauan Banda, sekitar 2.700 kilometer dari Jakarta. Rhun dikelilingi laut dalam, diterjang ombak yang bersabung. Di perairannya, karang menyeruak tajam layaknya mata belati. Salah arah sedikit saja, lambung perahu pasti robek. Adakalanya, Rhun mustahil didatangi. Di musim badai yang berlangsung berbulan-bulan lamanya, pulau ini sepenuhnya terisolasi, termasuk dari Pulau Naira yang sesungguhnya juga setengah terisolasi dengan hanya disinggahi kapal dua kali per pekan.

Kiri-kanan: Seorang penari Pajoge dalam sebuah pesta pernikahan di Rhun; desa di pesisir Rhun.

Diiringi tawa dan olok-olok, perahu saya akhirnya merapat selamat di dermaga Rhun. Saya menghela  napas panjang, sementara mama-mama melambaikan salam perpisahan untuk kawan “sepelayaran.” Dengan perut bergejolak seperti ombak, saya menghampiri sebuah penginapan di dekat dermaga. Pemiliknya Abdulah Lapari, lelaki tua keturunan Buton, yang bermata lindap dan murah senyum. Nama penginapannya Manhattan, sebagaimana tertera jelas dalam huruf-huruf berukuran besar pada pelang di muka balkon. Saya agak terheran juga. Kenapa nama hotelmu Manhattan, Bapa Abdulah?

Abdulah menyalami saya dengan pelukan tangan yang hangat. “Pulau ini dulu ditukar dengan Manhattan. Itu Manhattan di Amerika, to? Makanya penginapan saya ini diberi saja nama Manhattan,” jelasnya. Abdulah mempersilakan saya memasuki Manhattan. Seketika aroma wangi purbawi menusuk hidung. Saya bertanya-tanya, adakah hotel seharum ini di Manhattan sana? Adakah hotel bernama Rhun di sana? Hotel Manhattan ini berdiri di tengah pulau berkarang yang terpisah hampir separuh jarak keliling bumi dari Manhattan di Amerika. Manhattan milik Abdulah menaungi empat kamar dengan ranjang yang dikungkung kelambu, ditambah ruang makan yang berbagi tempat dengan karung-karung penuh buah pala dan fuli (selaput tipis pembungkus biji pala yang menebar aroma wangi). Ahli botani sepakat menyebut buah ini Myristica fragrans. Aromanya membaur di interior hotel yang gerah. Pengunjung seperti bermandikan peluh dan parfum sekaligus.

Dua warga lokal bersantai di dermaga.

Malam datang dan Hotel Manhattan terang-benderang oleh cahaya, setidaknya untuk beberapa jam. Menjelang waktu tidur, listrik padam dan segenap daratan Rhun dikurung gelap. Tidak hanya kegelapan, udara panas juga menyelimuti sekujur pulau. Setiap orang sepertinya telah terbiasa tidur sambil mandi keringat. Tidak ada kipas angin atau AC yang bisa dihidupkan. Listrik hanya mengalir singkat di sini. Cuma aroma fulilah yang terpacak sepanjang malam, sampai-sampai menghantui mimpi saya. Aroma inikah yang dulu membawa pelayaran akbar itu, Bapa Abdulah?

Pada pengujung 1616, beberapa hari sebelum Natal, Swan dan Defence berlayar mengarungi Laut Banda. Kedua kapal Inggris itu sarat amunisi, bedil, juga bala tentara. Nathaniel Courthope, sang kapten, mengan- tongi surat dinas dari East India Company (EIC), kongsi dagang Inggris, untuk membawa Swan dan Defence dalam sebuah misi yang mahal sekaligus berbahaya: mempertahankan sebuah pulau dengan segenap isinya.

Kiri-kanan: Fasad sebuah rumah di Rhun; buah-buah pala yang sedang dijemur.

Sebelumnya, Portugis berupaya menjalin hubungan dagang dengan penduduk  Rhun, tapi gagal. Inggrislah yang paling sukses membeli pala di Rhun, hingga pulau ini pun dicatat sebagai koloni Inggris pertama pada abad  ke-17. Tapi kesuksesan itu kemudian terancam oleh kehadiran VOC yang mengusung cita-cita yang lebih ambisius: menguasai seantero Kepulauan Banda. Di momen sulit itulah Courthope datang. EIC kehilangan tajinya di Banda. Di sisi lain, VOC telah menguasai enam pulau di sini. Hanya Rhun dan Nailaka yang masih terlepas dari cengkeramannya.

VOC dan EIC, dua perusahaan transnasional raksasa di masa itu, berseteru selama puluhan tahun. Rhun yang dikuasai Inggris merupakan batu sandungan terbesar bagi agenda monopoli VOC. Sengketa itu berlarut tanpa hasil, hingga kedua pihak pun memutuskan mencari solusi  lewat meja perundingan. Demi mendapatkan Rhun, Belanda bersedia memberi daerah jajahannya di Benua Amerika, New Amsterdam (kini Lower Manhattan). Inggris setuju dengan proposal itu. Pada 31 Juli 1667 di Kota Breda, keduanya meneken salah satu kesepakatan tukar guling termahal dalam sejarah perdagangan internasional.

Dengan berpindahnya Rhun ke tangan VOC, babak baru monopoli pala yang brutal dimulai. Mesin dagang Belanda ini mengubah hubungan dagang menjadi penaklukan. Rhun dan seantero Banda menjadi ladang pengisapan. Semuanya demi satu alasan: pala. Sejarah Banda memang beranjak dari buah ajaib dengan aroma yang tak kalah ajaib itu. Menengok masa yang jauh lebih lampau, jauh sebelum Belanda dan Inggris datang, saudagar-saudagar dari Arab, Persia, dan India telah menjadikan Banda tujuan dagang. Mereka mengangkut rempah ke pasar-pasar utama di sekitar Laut Tengah. Dari tangan mereka jugalah orang Eropa kemudian dapat membeli dan menikmati rempah.



Comments

Related Posts

10454 Views

Book your hotel

Book your flight