Ekspedisi Pinisi di Raja Ampat

Meskipun dilengkapi layar, kapal ini sejatinya digerakkan oleh mesin.

Lebih dari 150 tahun sejak kedatangan Wallace, Raja Ampat masih menuturkan kisah yang sama. Inilah satu dari sedikit lanskap yang berhasil ‘lepas’ dari rotasi bumi dan membatu dalam waktu.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Muhammad Fadli

Pinisi berbicara tentang kedigdayaan, jalan hidup, dan tradisi melaut ratusan tahun dari tanah yang kaya rempah. Dunia memandangnya dengan takjub, kadang takut. Hari ini, sejarah akbar itu sudah pudar, tapi memorinya masih menyala.

Bocah-bocah kecil sedang bermain di dermaga kayu di Arborek.

Di bawah guyuran gerimis November, saat angin muson berembus ke Australia, KLM Full Moon memulai ekspedisinya ke gugusan hijau di kepala burung Papua. Ombak menendang-nendang, membuat kapal ini limbung seperti orang mabuk. Di sekujur tubuhnya, kayu-kayu gelap saling bergesekan, berderit, menebarkan suara ranting-ranting yang retak.

Saya duduk di geladak, menatap sejumlah kapal kargo dan yacht yang menebar sauh di Pelabuhan Sorong. Dibandingkan mereka, kapal saya mirip artefak dari masa silam, dan ada banyak alasan kenapa kesan itu begitu kuat. KLM Full Moon mengadopsi arsitektur perahu perkasa dengan reputasi harum di dunia pelayaran. Kita mengenalnya dengan nama pinisi. Dunia menyebutnya schooner. Pelaut-pelaut Bugis dulu menggunakannya untuk menaklukkan lautan dalam ekspedisi niaga dan muhibah. Raja-raja mereka menaikinya untuk melawat ke kerajaan-kerajaan yang jauh di seberang samudra.

Pada 1970-an, Lawrence Blair juga sempat mencicipi kehebatan pinisi saat berlayar ke Laut Aru. Dalam misi dokumentasi yang panjang dan melelahkan, antropolog Inggris itu menumpang kapal milik saudagar asal Sulawesi. Dalam Ring of Fire, dia menulis: “Perahu Bugis adalah hibrida yang mengagumkan antara perahu orisinal pulau ini dengan galleon pembawa rempah khas Portugis dari abad ke-17.”

Dan pinisi juga punya reputasi menakutkan. Sumbangan terbaik Sulawesi selain rempah dan Habibie ini kerap dipakai untuk menyerang penjajah. Horor yang mereka tebarkan begitu mencekam sampai-sampai istilah “boogie man” muncul dalam kosakata bahasa Inggris. Di masa itu, pelaut Bugis, kaum terhormat dalam liga perompak internasional, digambarkan sebagai monster yang gemar melahap jiwa-jiwa anasir asing.

Island hopping adalah salah satu agenda di perjalanan Alila Purnama.

Tapi zaman kemudian berubah. Teknologi naval modern berlari kencang, jauh meninggalkan kapal-kapal layar yang bermanuver mengandalkan angin dan arus. Kisah-kisah heroik pinisi pun ditutup, kendati riwayatnya belum berakhir. Seperti totem-totem tua yang tak pernah tuntas dilibas nabi utusan langit, pinisi berhasil bereinkarnasi, menyelinap ke zaman modern, mengejawantah dalam sosok baru.

Hingga kini, pinisi masih diproduksi di tanah kelahirannya. Para pekerja ulet di Bira membuatnya mengandalkan kayu-kayu paling tangguh yang tumbuh di tanah Indonesia: ulin dan jati. Metode yang dipakai pun tetap merujuk kaidah leluhur. Saat kapal dilepas, doa-doa dirapalkan. Sebelum berlayar, kambing disembelih, lalu darahnya dibiarkan membasahi geladak. Dalam banyak kepercayaan tua, tumbal berperan menjaga pendulum keseimbangan antara kerajaan langit dan penguasa samudra. Pinisi membutuhkan kebaikan hati keduanya di laut lepas. >>

KLM Full Moon juga dirakit tangan-tangan terampil warga Bira. Eksteriornya mengadopsi desain orisinal: memiliki dua tiang layar dan sepasang kemudi berbentuk balok di bagian buntut. Sedangkan interior dan mesinnya memakai standar perkapalan modern. Hasilnya: kombinasi apik antara aura beringas Black Pearl dan yacht mewah milik Abramovich. Sebuah persilangan kreatif antara masa lalu dan sekarang.

Eksterior Alila Purnama.

KLM Full Moon kini dikelola oleh grup hotel Alila. Namanya telah diganti menjadi Alila Purnama. Di atas hotel terapung ini, saya berkelana seminggu, melompat dari satu pulau ke pulau lain, bersama sejumlah turis dari Spanyol, Jerman, Amerika, juga Jakarta. Dalam lounge yang sejuk—yang pada hari-hari berikutnya menjadi ruangan favorit kami—koki asal Bali menyuguhkan udang bakar. Kelezatannya belum bisa mencairkan suasana, tapi semua orang terlihat bersemangat menyimak Annalisa, Cruise Director. Dia berjanji, Raja Ampat telah menyiapkan serangkaian petualang seru. Ke sanalah kami meluncur.

Purnama menyusuri Selat Dampier, mengejar menit-menit yang tersisa agar bisa mendarat di kaki Pulau Gam sebelum subuh. Selat panjang ini meminjam nama William Dampier, petualang Britania pertama yang mengeksplorasi Australia. Di awal abad ke-18, dia berlayar dari utara Timor, mengitari Papua, lalu mendarat di New Britain.

Laut masih bergolak. Kayu-kayu di tubuh kapal terus berderit. Saya menginap di kabin bernama Cirebon. Kasurnya dialasi kain batik mega mendung. Di samping saya, ada kabin Jawa, Bali, dan Madura. Terpisah di dek atas, kabin Sriwijaya. Paling mewah dan paling mahal.

Sebelum tiba di Raja Ampat, saya sudah tahu hendak menulis apa. Tentu saja, semua penulis merasakan yang sama. Sudah puluhan tahun tempat ini menuturkan tema-tema serupa: laut pirus, serakan kubah hijau, dan pantai pasir putih yang tak terhitung jumlahnya. Inilah tempat yang membuat kita malas menutup mata. Sebuah lanskap yang membuat kita menanti sinar pertama mentari dan menyesalkan datangnya senja.

Kapal cepat kecil membelah laut di titik selam di sekitar Farondi, Misool.

Raja Ampat disusun oleh 600 lebih pulau yang tersebar di dekat garis khatulistiwa. Namun harta karun sebenarnya teronggok di bawah permukaan laut. Kepulauan ini secara yuridis masuk wilayah Papua Barat, tapi secara “de jure” merupakan Ibu Kota Segitiga Karang Dunia—kawasan dengan diversitas laut tertinggi, yang membentang dari Filipina hingga Solomon.

Di Raja Ampat hidup lebih dari 1.300 spesies ikan karang. Sekitar 75 persen spesies koral dunia merekah di sini. Bagi banyak penyelam, pergi ke Raja Ampat mungkin ibarat naik haji atau ziarah ke Jerusalem. Dan layaknya naik haji, biaya perjalanannya tidak murah. Pulau-pulau di sini tersebar di area seluas 4,5 juta hektare, setara luas Jawa Timur, dan perahu adalah moda satu-satunya untuk menyapa mereka.

Di tepian Pulau Gam, Purnama melego jangkar. Saat rantainya meluncur ke lantai laut, kasur saya terguncang-guncang, seolah monster hendak keluar dari kolongnya. Pukul empat pagi, semua penumpang dibangunkan. Agenda hari ini adalah mendaki bukit untuk melacak satwa ikonis yang dulu mengilhami mitos phoenix di dunia Barat: bird of paradise. Di tempat seindah ini, bahkan burung menyandang nama surgawi.

Trekking dan birdwatching di Pulau Gam.

“Burung akan berdatangan sekitar pukul enam, lalu pergi sejam kemudian,” ujar Annalisa kepada para penumpang yang setengah jiwanya masih di kasur. Kata-kata dia berikutnya membuat saya makin berat meninggalkan selimut. “Kadang kita bisa melihat banyak burung. Kadang tidak sama sekali.”

Kami mendaki rute licin yang dialasi daun-daun basah. Matahari masih tertidur, tapi hutan sudah semarak seperti jalan-jalan di Jakarta. Burung dan serangga bersahutan, melontarkan nada-nada fauna, bersaing meramaikan rimba yang senyap dan lembap. Agak mirip orkestra tanpa dirigen. Setelah sejam, rombongan tiba di atap bukit yang ditumbuhi pohon langsing. Annalisa meminta semua orang menutup mulut. Katanya, cenderawasih sensitif terhadap suara-suara asing.

Kami dilarang berbincang, ngemil, bersin, batuk… pokoknya diam seperti anak nakal yang sedang disetrap. Selang 15 menit, seekor cenderawasih melayang pelan, lalu hinggap di dahan tinggi. Tubuhnya kemerahan dengan leher berkalung bulu kuning. Di buntutnya ada sepasang antena. Bahkan di momen magis ini, kami tak boleh mengeluarkan ekspresi gembira.>>



Comments

Related Posts

17902 Views

Book your hotel

Book your flight