Ekspedisi Pesiar di Maladewa

Maladewa bukan cuma soal resor mewah. Negeri ini juga menawarkan ekspedisi yang akan membawa kita menyapa raksasa lautan, menyambangi pulau tak bertuan, serta mengintip realitas hidup yang luput dari bingkai Instagram.

Dibandingkan Raja Ampat dan Wakatobi, karang di sini kalah megah, tapi populasi satwa lautnya cukup mencengangkan. Dari tujuh kali menyelam, pada enam di antaranya saya berjumpa kawanan hiu—pemangsa yang menjadi salah satu tolok ukur kualitas ekosistem laut. “Negeri ini diuntungkan oleh posisi geografisnya,” jelas Ben, marine biologist yang dibawa Explorer sebagai sumber informasi ilmiah bagi penumpang. “Maladewa berjarak jauh dari banyak negara lain. Terlalu mahal untuk dihampiri pemburu hiu.”

Berkat alam yang lestari itulah roda pariwisata berputar. Lebih dari separuh devisa negeri ini mengalir dari kocek turis. Siapa sangka, Maladewa, kepulauan penghasil kelapa dan ikan, merupakan negara makmur dengan pendapatan per kapita $13.300, melampaui Indonesia dan Filipina.

Di atas Explorer, menyelam adalah aktivitas utama. Sepertinya tiada hari tanpa memanggul tangki, mengisap selang, menyelinap di antara ikan dan karang. Tapi kapal ini tidak didesain bagi penyelam ambisius yang mengejar target dive log. Explorer juga mengajak penumpangnya memancing, mendayung kayak, serta piknik di pulau kosong di mana kami dijamu begitu banyak makanan hingga sulit berjalan.

Satu kegiatan yang juga menarik adalah kunjungan ke desa—trip yang sulit dilakoni jika kita hanya menginap di resor. Sabtu sore, kapal melego jangkar di pelataran Pulau Dhigurah, kemudian penumpang diundang bertamu ke desa setempat.

Pantai memikat ditemani pasir putih bersih.

Dari dermaga, saya merandai jalan pasir yang dipayungi nyiur, kemudian memasuki permukiman yang bersih dan teduh. Bau got tidak terendus, sebab semua saluran pembuangan melintang di bawah tanah. Barangkali pemandangan asri seperti ini pula yang dulu disaksikan oleh Ibnu Battuta.

“Jalan-jalan mereka, yang senantiasa resik karena rutin disapu, dipayungi pepohonan agar pejalan kaki merasa sedang berada di sebuah kebun,” tulis musafir asal Maroko itu dalam Rihla, jurnal yang memperkenalkan Maladewa kepada dunia.

Namun Dhigurah bukanlah petilasan yang membeku dalam catatan tua. Ia juga bukan desa penghasil santan yang dikisahkan Battuta. Alih-alih, Dhigurah adalah buah yang merekah dari pohon pariwisata. Perekonomiannya digerakkan oleh bisnis guesthouse, suvenir, juga restoran. Sebagian keluarga memiliki anak yang bekerja di resor, sementara kaum ibu menambal kas dengan menjual atap pelepah kelapa ke resor, sebab memang cuma resor yang masih setia memakainya. Di sekitar saya, semua rumah beratapkan seng dan disejukkan AC.

Godaan sektor pariwisata juga membuat profesi nelayan kehilangan peminat. Kaum pemuda malas menggasak ombak ketika uang mudah didapat dengan menyulap rumah menjadi penginapan. Dan dengan itu Maladewa pun berubah. Kehadiran guesthouse bertarif murah membuka pintu bagi masuknya turis ke kampung-kampung sekaligus menciptakan peluang bagi perjumpaan budaya beserta segala kejutannya. “Jika ada iPhone baru seharga $1.000, orang di sini akan membelinya tanpa berpikir panjang,” ujar seorang pria yang saya temui di Bodu Huraa, pulau yang jauh lebih modern dari Dhigurah. “Lihat rumah itu,” katanya lagi sembari menunjuk sebuah rumah sederhana bercat jambon, “seluruh panel elektriknya memakai layar sentuh.”

Cahaya senja terakhir kian redup dari angkasa dan saya kembali ke Explorer untuk menikmati makan malam. Di geladak, meja-meja sudah ditata apik. Dengan iringan tembang-tembang padang pasir yang mendayu, pramusaji meletakkan mangkuk-mangkuk berisi asortimen menu Timur Tengah yang kaya bumbu. Galibnya menu yang kaya bumbu, rasanya lebih sedap dari tampilannya.

Comments