Ekspedisi Pesiar di Maladewa

Maladewa bukan cuma soal resor mewah. Negeri ini juga menawarkan ekspedisi yang akan membawa kita menyapa raksasa lautan, menyambangi pulau tak bertuan, serta mengintip realitas hidup yang luput dari bingkai Instagram.

Pesiar saya dimulai dari pelataran Pulau Landaa Giraavaru. Areef, Cruise Director, pria lokal yang jenaka, membuka tur dengan membeberkan aturan dasar di atas kapal. Aturan pertama sederhana: melepas alas kaki. Aturan kedua mudah dipahami: jangan melompat saat kapal sedang bergerak. Aturan ketiga cukup menghibur: waktu dimajukan sejam. “Supaya pagi dimulai lebih dini dan kita punya banyak waktu untuk beraktivitas,” ujarnya.

Pertama-tama, Explorer merayap ke selatan, menerjang ombak yang membuatnya limbung seperti orang mabuk. Dalam perjalanannya, yacht rancak ini senantiasa dibuntuti sebuah dhoni, bahtera tradisional Maladewa yang sudah dialihfungsikan menjadi dive boat. Haluannya dihiasi pemecah ombak yang melengkung seperti busur. Sekilas mirip perahu sandek khas Suku Mandar.

Eksterior Explorer tampak dingin dan berjarak, tapi interiornya bersahabat. Seluruh 25 krunya tangkas mempraktikkan prinsip servis Four Seasons yang sepertinya terilhami sabda Yesus: “Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan.” Kru favorit saya tentu saja Vikrant, kelasi yang lihai menebak kapan saya membutuhkan kopi panas sebelum saya merasa membutuhkannya.

Kiri-kanan; Para awak kapal dan penumpang di geladak usai melakukan penyelaman; Bambang, kapten kapal Four Seasons Explorer.

Lazimnya pesiar, semua penumpang akrab dan ramah: saling menyapa, bertukar nama, berbagi cerita. Hari ini, selain rombongan saya, Explorer mengangkut satu keluarga asal Amerika, pasangan asal Australia, serta Will, seorang kakek asal Rhode Island. Dari seluruh penumpang, turis Indonesia paling luwes beradaptasi. Ada banyak nama dan wajah yang familiar di kapal ini. Ruang kemudi di pimpin oleh Kapten Bambang, penyuluhan keselamatan diperagakan oleh Pak Indra, mesin dikontrol oleh Pak Imam. Maladewa rasa Nusantara.

Menjelang senja, usai lima jam dikocok ombak, Explorer tiba di pemberhentian pertamanya: Atol Rasdhoo. Penumpang berkumpul di buritan, lalu berpindah ke dhoni untuk kemudian menyelam. Penyelaman pertama cukup menguji stamina.

Awalnya kami disambut oleh beberapa ekor belut moray dan ratusan ikan. Beberapa menit kemudian, arus berembus deras dari dasar laut, memaksa kami berpegangan pada karang dengan posisi kepala di bawah dan kedua kaki melayang-layang seperti benang tertiup angin. Melelahkan, tapi inilah momen terbaik untuk melihat predator laut. Sekitar lima ekor hiu berpatroli di sekitar kami. Dua di antaranya lebih panjang dari tubuh saya.

“Maladewa nyaman untuk menyelam. Lautnya terawat,” jelas Will, saat saya melepas lelah dengan menyeruput segelas Saint-Thibeaud di dek. Meski sudah sepuh, Will hobi melaut dan memancing. Dia bahkan pernah mengikuti ekspedisi National Geographic dari Seychelles ke Sri Lanka. “Penyelam di sini juga tidak terlalu banyak, jadi bisa leluasa menikmati pemandangan.”

Dari Atol Rasdhoo, Explorer melompat dari satu pulau ke pulau lain. Acap kali kapal menikung tajam guna menghindari pulau-pulau pasir. Maladewa disusun oleh 1.200 pulau dengan hanya 200 di antaranya yang berpenghuni. Pulau-pulau inilah yang berkelompok dalam formasi yang disebut atol—satuan geografis yang kira-kira setara dengan provinsi di Indonesia. Uniknya, pulau-pulau di satu atol kadang tidak sepenuhnya terpisah. Suatu kali saya melihat empat pulau yang saling terkoneksi oleh lidah pasir sepanjang ratusan meter. “Para bujang kadang melintasi ‘jembatan pasir’ itu untuk menjangkau pulau lain dan mencari pacar,” jelas Areef, pria kelahiran Atol Ari.

Berhari-hari di lautan, saya kian menyadari Maladewa sesungguhnya konsep negara yang sulit dipahami. Di sini tidak ada sungai, tidak ada sawah, tidak ada gunung. Puncak tertingginya hanya menjulang 2,4 meter. Kecuali pasukan pengaman presiden, semua serdadunya berstatus angkatan laut.

Saya seperti membayangkan Kepulauan Seribu sebagai negara yang berdaulat. Tapi ini “Kepulauan Seribu” yang terpelihara. Mayoritas pulaunya steril dari sampah. Lautnya sehat. Salah satu atolnya sudah dinobatkan sebagai UNESCO Biosphere Reserve. Berlibur di negeri ini, turis juga diwajibkan membayar pajak konservasi bernama “green tax” sebesar $6 per hari.

Comments