Ekspedisi Perpustakaan Terapung

Berlayar sembilan hari demi menyediakan buku bagi warga di pulau-pulau terpencil.

Anak Buah Kapal (ABK) berada di haluan kapal yang akan menurunkan jangkar saat Perahu Pustaka Colliq Pujie berlabuh di Pantai Losari Makassar.

Oleh Yusuf Wahil

Pagi 1 Mei, Colliq Pujie bertolak dari Desa Pambusuang, Sulawesi Barat. Selama sembilan hari, perahu kayu ini dijadwalkan melawat lima pulau dan dua kampung nelayan di kaki Pulau Sulawesi. Tujuannya bukan untuk merayakan Hari Buruh. Alih-alih, ekspedisi panjang dan melelahkan ini semata bertujuan menyediakan bahan bacaan bagi warga. Niat yang sederhana, tapi bernilai mulia.

Colliq Pujie dinakhodai Muhammad Ridwan Alimuddin dan diawaki delapan orang, termasuk tiga relawan muda. Manifes perahu jauh lebih banyak: sekitar 500 buah buku. Sebagian besar bahan bacaan khusus anak, sisanya terdiri dari novel, buku dewasa, dan buku pengetahuan umum.

Seorang anak sedang mengamati gambar pada buku saat relawan Perahu Pustaka menggelar lapak baca di Pulau Lae-Lae Makassar.

Menjelang petang, usai 40 kilometer mengarungi laut, perahu merapat ke dermaga kecil Pulau Tosalama, masih di Sulawesi Barat. ABK dan relawan membongkar muatan, menggelar matras, dan dalam waktu singkat sebuah perpustakaan dadakan pun tercipta di dermaga. Anak-anak dan orang dewasa, termasuk ibu-ibu, menghampiri lapak baca temporer ini. Sebagian tamu cilik mendapatkan hadiah berupa buku, pulpen, pensil, krayon, serta tas.

Colliq Pujie bernaung di bawah bendera Perahu Pustaka (perahupustaka.com), sebuah inisiatif luhur yang dicetuskan oleh lima aktivis literasi. Gagasannya bermula dari obrolan santai. Maret 2015, Ridwan, Nirwan Arsuka, Aan Mansyur, Anwar Jimpe, dan Kamaruddin Azis berbincang lewat akun Twitter. Nirwan melontarkan ide perpustakaan terapung. Teman-temannya menyambut ide itu, kemudian sepakat menunjuk Ridwan sebagai eksekutor berhubung dialah yang paling paham tentang perahu.

Tajriani Thalib, seorang relawan Perahu Pustaka sedang merapikan buku di lambung kapal.

Dua bulan selepas diskusi maya itu, gagasan mulai diwujudkan. Ridwan tuntas merakit sebuah perahu sepanjang 11 meter. Perahu ini berjenis baqgo, sebuah pilihan yang dilatari dua alasan. Pertama, fleksibilitas. Baqgo berlambung lebar sehingga cukup luwes untuk menembus perairan dangkal di muara dan sungai. Alasan kedua, revitalisasi. Perahu layar kuno ini nyaris punah di Sulawesi.

Sejak didirikan, Perahu Pustaka telah menyambangi puluhan pulau dan desa. Gerakan literasi bahari ini berikhtiar menegakkan hak atas bacaan di tempat-tempat terpencil di mana toko buku lazimnya belum tersedia, perpustakaan minim, surat kabar dan majalah absen. Inisiatif ini tidak mudah, juga tidak murah. Untuk satu pelayaran berdurasi seminggu, Perahu Pustaka menghabiskan antara Rp3 juta hingga Rp4 juta, termasuk untuk membayar jasa pelaut Rp100.000 per hari. Ada kalanya, Perahu Pustaka berubah jadi ekspedisi yang penuh risiko. Laut di kaki Sulawesi tak selamanya ramah, kondisi yang juga sempat dialaminya tahun ini.

Puaq Pia (kiri) dan Puaq Hapsa (kanan) sedang memasang layar perahu saat meninggalkan Pulau Tosalama, Polman.

Usai menutup sesi baca di Pulau Tosalama, seluruh buku diangkut kembali dan pelayaran dilanjutkan menuju Pulau Salemo, Sulawesi Selatan. Langit awalnya cerah. Burung camar menari-nari mengepakkan sayapnya di udara. Akan tetapi, saat memasuki perairan Kelurahan Langnga, Kabupaten Pinrang, cuaca berubah drastis. Sekitar pukul 20, hujan tumpah dan ombak bergulung tinggi. Segenap kru berjibaku menguras air dari lambung. Meringkuk di buritan, saya muntah dua kali. Melihat kondisi kian runyam, Ridwan pun memutuskan transit di Desa Ujung Lero. Mengandalkan GPS dan senter, Colliq Pujie melenggang melewati sejumlah bagan, lalu melego jangkar. Kami tertidur dengan baju basah dan kepala pengar.

Ridwan mengakui, perahu memang bukan moda yang paling efisien. Biayanya mahal. Dalam sehari, hanya dua hingga tiga pulau yang bisa dijangkau. Opsi yang paling bijak dan aman sebenarnya mobil. Ridwan cukup singgah di pelabuhan dan menaiki kapal. Tapi Perahu Pustaka sedari awal ingin menjangkau pulau-pulau di pelosok, karena itulah organisasi ini kukuh memakai perahu. Ditambah lagi, perahu berkapasitas lebh besar, sehingga bisa membawa serta para relawan. “Perahu Pustaka juga mengusung peran simbolis,” ujar Ridwan, pria kelahiran Tinambung. “Kita lebih leluasa dalam berlayar dan membawa pemuda-pemuda yang ingin mempelajari kebudayaan bahari kita.”

Relawan Perahu Pustaka, M Albasyar AH, Imam Akhmad Zulkarnain bersama Muhammad Ridwan Alimuddin , sedang mengangkat buku ke perahu usai menggelar lapak baca di Pulau Salemo, Pangkep, Sulsel.

Meninggalkan Desa Ujung Lero, Colliq Pujie meluncur ke Pulau Salemo. Matahari bersinar terik. Dua kru memasang tenda, sementara Ridwan menggoreng telur untuk sarapan bersama. Tiba di tujuan, perpustakaan dadakan kembali digelar dan hadiah kembali dibagikan kepada anak-anak. Setelahnya, kami melewati malam di perahu, kemudian menempuh etape berikutnya menuju Makassar pada pukul dua dini hari. Colliq Pujie merayap pelan di bawah cahaya rembulan.

Colliq Pujie, yang memakai nama perempuan yang menyalin sekaligus menyelamatkan naskah I La Galigo, merupakan perahu ketiga milik Perahu Pustaka. Perahu pertamanya yang dirakit pada 2015 sudah rusak. Namanya Pattingalloang, diambil dari Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang, Perdana Menteri Kerajaan Gowa yang tersohor akan kecintaannya pada ilmu pengetahuan. Perahu ini mulai dikenal luas pada 2016 saat diparkir di depan Fort Rotterdam. Perahu kedua, Membacaku, lahir pada 2017 atas bantuan komunitas ibu-ibu yang diasuh oleh Melly Kiong, penulis buku Cara Kreatif Mendidik Anak.

Muhammad Ridwan Alimuddin, menggendong putranya, Nabigh menuju Perahu Pustaka saat akan berangkat dari Desa Pambusuang.

Semenjak dicetuskan, Perahu Pustaka konsisten dengan khitahnya sebagai gerakan swadaya yang mengandalkan sistem pendanaan berbasis komunitas. Ketiga perahu dan seluruh buku koleksinya lahir dari sistem patungan, baik yang bersumber dari para penggagasnya maupun masyarakat. Hingga kini, Perahu Pustaka masih enggan meminta donasi dari pemerintah. Ridwan dan rekan-rekannya ingin Perahu Pustaka terus menjadi gerakan dari, oleh, dan untuk publik.

Dengan pamor yang kian harum, Perahu Pustaka memang mulai lancar memikat donatur. Ridwan, motor gerakan ini, pernah diganjar penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional. Pria kelahiran 1978 ini juga pernah menjadi koordinator tim pelaut Mandar yang diundang ke Brest International Maritime Festival 2012 di Prancis, serta terlibat sebagai konsultan pembuatan Perahu Padewakang di Europalia Arts Festival 2017. Dengan pamor itu pula, Perahu Pustaka menjadi bintang tamu yang ditunggu-tunggu oleh partisipan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018.

Perpustakaan Nusa Pustaka.

Colliq Pujie memasuki perairan Makassar saat matahari baru membuka matanya. Di sini, perahu dipakai sebagai ruang pertemuan oleh Najwa Shihab, Duta Baca Indonesia; Richard Mathews, Konsul-Jenderal Australia di Makassar; serta Lily Yulianti Farid, pendiri MIWF. Selain itu, Colliq Pujie berlayar ke Pulau Lae-Lae, menggelar lapak baca, dan mengantar 12 orang penulis dan penerbit utusan British Council. Ridwan, yang juga penulis buku Kabar Dari Laut, didaulat sebagai pembicara di MIWF 2018 di Fort Rotterdam.

Dalam pelayaran mudik dari Makassar ke Desa Pambusuang, Colliq Pujie berlabuh di sejumlah tempat, antara lain kampung nelayan di Sungai Tallo, Pulau Laiya, Pulau Cambang-Cambang, Muara Sungai Pancana, dan Pulau Battoa. Nama-nama yang mungkin belum pernah didengar banyak orang dan belum dilirik jaringan toko buku, karena itulah kian penting disinggahi oleh Perahu Pustaka. Sebelum tiba di Desa Pambusuang, dua mesin Colliq Pujie mengalami kerusakan, mungkin lelah usai mengarungi laut sembilan hari. Setelah sempat terombang-ambing, perahu akhirnya ditarik oleh perahu nelayan ke Pantai Mampie.

Puluhan anak-anak saat hadir pada lapak baca di Perpustakaan Rakyat Sepekan (PRS) di depan Nusa Pustaka Pambusuang.

Selain Perahu Pustaka, Ridwan membangun Nusa Pustaka, perpustakaan merangkap museum bahari yang berlokasi di Desa Pambusuang. Tempat diresmikan pada 13 Maret 2016 ini menempati lahan milik mertua Ridwan. Koleksinya kurang lebih 10.000 judul buku, mayoritas hasil donasi.

Sebagaimana Perahu Pustaka, Nusa Pustaka adalah perpustakaan yang “hidup.” Ia tidak berdiam diri menanti tamu, tapi menjemput bola. Guna menjangkau warga di daerah pelosok dan pegunungan, Nusa Pustaka mengangkut buku menaiki sepeda motor dan ATV. Saban tahunnya, bersama sejumlah pemuda Desa Pambusuang, Nusa Pustaka menggelar Perpustakaan Rakyat Sepekan (PRS). Untuk episode 2018, hajatan ini mengusung tema “Tiba Sebelum Berangkat.” Kegiatannya antara lain lapak baca di jalanan, cerdas cermat bagi anak-anak, serta diskusi yang mendatangkan pembicara ternama.

Relawan Nusa Pustaka, Urwa, mengendarai ATV Pustaka menuju perkampungan di atas pegunungan untuk menggelar lapak baca.

Perahu Pustaka adalah contoh inisiatif independen yang mengembuskan harapan pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Ia bukan satu-satunya tentu saja. Gerakan literasi “mobile” kini bisa ditemukan di sejumlah daerah. Di Yogyakarta ada Becak Pustaka, di Purbalingga ada Kuda Pustaka, sementara di Sidoarjo ada Tukang Jamu Pustaka. Contoh lainnya, kali ini tanpa embel-embel “pustaka,” adalah Taman Bacaan Pelangi yang memasok buku ke kawasan pelosok di timur Indonesia.

Satu kontribusi penting lain yang juga patut dicatat dari Perahu Pustaka adalah keinginannya untuk melibatkan relawan muda. Metode ini membuka peluang untuk menularkan virus literasi dan teknik navigasi laut ke generasi penerus. Dalam pelayaran Colliq Pujie di 2018, Tajriani Thalib, salah seorang relawan, mempelajari cara melaut dan mengoperasikan GPS. Relawan lainnya, Albasyar, yang pernah mengikuti program pertukaran pemuda di Malaysia, mendapatkan pelajaran tentang kehidupan di pedalaman. “Kita lebih bisa memaknai hidup dan semakin peka terhadap lingkungan sekitar,” ujarnya.

YUSUF WAHIL_STORY PERAHU PUSTAKA_3 YUSUF WAHIL_STORY PERAHU PUSTAKA_7 YUSUF WAHIL_STORY PERAHU PUSTAKA_5 YUSUF WAHIL_STORY PERAHU PUSTAKA_10 YUSUF WAHIL_STORY PERAHU PUSTAKA_25 YUSUF WAHIL_STORY PERAHU PUSTAKA_23 YUSUF WAHIL_STORY PERAHU PUSTAKA_31 YUSUF WAHIL_STORY PERAHU PUSTAKA_39 YUSUF WAHIL_STORY PERAHU PUSTAKA_37 YUSUF WAHIL_STORY PERAHU PUSTAKA_41
Relawan Perahu Pustaka, M Albasyar AH, Imam Akhmad Zulkarnain bersama Muhammad Ridwan Alimuddin, sedang mengangkat buku ke perahu usai menggelar lapak baca di Pulau Salemo, Pangkep, Sulawesi Selatan.

Yusuf Wahil
Pria kelahiran Mamuju yang menetap di Makassar ini pernah bekerja untuk Harian Cakrawala dan Harian Fajar. Sejak 2017, Yusuf bekerja sebagai fotografer lepas. Karya-karyanya pernah dimuat beragam media, di antaranya The Telegraph, The Jakarta Post, The Manila Times, dan The Wall Street Journal. Prestasinya antara lain juara kedua kategori daily life 
dalam Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2016, serta juara pertama Lomba Foto Fujifilm Makassar 2017. @yusufwahil.

Comments