Ekspedisi Menantang di Krakatau

  • Padang rumput di depan puncak Sebesi.

    Padang rumput di depan puncak Sebesi.

  • Perahu membawa para wisatawan mendekati Pulau Anak Krakatau.

    Perahu membawa para wisatawan mendekati Pulau Anak Krakatau.

  • Gunung Anak Krakatau dari dekat.

    Gunung Anak Krakatau dari dekat.

  • Seorang wisatawan asing membaca papan petunjuk di Cagar Alam Krakatau.

    Seorang wisatawan asing membaca papan petunjuk di Cagar Alam Krakatau.

  • Menembus rerimbunan pohon pinus menuju puncak.

    Menembus rerimbunan pohon pinus menuju puncak.

  • Lereng curam Krakatau dengan pasir yang gembur.

    Lereng curam Krakatau dengan pasir yang gembur.

  • Jalur pendakian mendekati Patok Sembilan dengan latar belakang Pulau Rakata.

    Jalur pendakian mendekati Patok Sembilan dengan latar belakang Pulau Rakata.

  • Punggungan Patok Sembilan, tempat terjauh yang diperbolehkan dikunjungi wisatawan.

    Punggungan Patok Sembilan, tempat terjauh yang diperbolehkan dikunjungi wisatawan.

  • Menambatkan tali di Lagoon Cabe untuk menghindari kerusakan terumbu karang. Di sini turis bisa melakukan snorkeling.

    Menambatkan tali di Lagoon Cabe untuk menghindari kerusakan terumbu karang. Di sini turis bisa melakukan snorkeling.

  • Matahari terbenam di Sebesi dilihat dari Pulau Umang-Umang.

    Matahari terbenam di Sebesi dilihat dari Pulau Umang-Umang.

  • Turis bisa memesan ikan tenggiri bakar pada penduduk lokal.

    Turis bisa memesan ikan tenggiri bakar pada penduduk lokal.

  • Sesi matahari terbit di dermaga Sebesi.

    Sesi matahari terbit di dermaga Sebesi.

Click image to view full size

Agustus tahun ini, warga dunia mengenang 130 tahun meletusnya Krakatau. Gunung penggantinya telah muncul untuk menawarkan para petualang serunya hiking dan snorkeling di salah satu pulau vulkanis paling labil di muka bumi.

Oleh R. Heru Hendarto

Perahu membawa para wisatawan mendekati Pulau Anak Krakatau.

Pulau yang menjulang 813 meter ke langit itu menggelegar dahsyat dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Langit kelam diselimuti abu tebal. Petir mencakar-cakar bumi. Gelombang setinggi pohon kelapa menyapu pesisir. Gaung letusan merambat jauh dan terdengar hingga Australia dan India. Getarannya tercatat di Bogota dan Washington. Tubuh-tubuh tak bernyawa ditemukan bergelimpangan di pesisir Zanzibar. Hari durjana itu, 27 Agustus 1883, dikenang oleh penulis Simon Winchester sebagai “hari di saat bumi meledak.”

Apa yang terjadi setelah itu tak kalah menakutkan: debu menyebar ke delapan penjuru mata angin dan menghalangi sinar mentari, siklus musim bergeser, sampar mewabah. Erupsi Krakatau dikenang dunia bukan sebagai tragedi alam semata, tapi juga sebuah rem kejut bagi peradaban modern yang saat itu melaju kencang. Krakatau juga menginformasikan kepada warga planet akan eksistensi sebuah kepulauan cincin api di sekitar garis khatulistiwa.

Hari ini, 130 tahun pasca-erupsi, saya berdiri di atas atap perahu kayu dan meluncur ke sumber petaka, melewati laut yang dulu mengirimkan tsunami setinggi 30 meter dan merenggut hampir 40 ribu nyawa. Perahu ditambatkan di dekat pulau yang terus mengepulkan asap dari atapnya, lalu para penumpang dengan semangat melompat dari perahu dan menginjakkan kakinya di pantai berpasir kasar dan gelap. >>



Comments

Related Posts

6179 Views

Book your hotel

Book your flight