Dubai di Kaukasus

Kiri-kanan: Seorang pengunjung Heydar Aliyev Center; bangunan yang dirancang oleh mendiang Zaha Hadid, arsitek kelahiran Irak.

Keluar dari gerbang stasiun, saya berjalan menembus angin dingin dan mendarat di muka sebuah bangunan janggal yang penuh lekukan. Heydar Aliyev Center, ikon arsitektur Baku, lebih mirip bongkahan es yang sedang mencair. Struktur tanpa sudut ini dirancang oleh mendiang Zaha Hadid, arsitek kelahiran Irak. Interiornya menampung museum, ruang pamer, juga auditorium. Semuanya menindih lahan gusuran seluas 10 hektare.

Gedung yang diresmikan pada 2012 ini adalah proyek mercusuar yang juga lahir berkat minyak. Namanya diambil dari nama presiden Azerbaijan periode 1993-2003, Heydar Aliyev, seorang figur sejarah yang kontroversial. Heydar, yang pensiun dua bulan sebelum meninggal, ibarat Soeharto versi Azerbaijan.

Sebagian orang memujanya sebagai bapak pembangunan, sementara kaum oposisi dan aktivis kemanusiaan mencibirnya sebagai pemimpin bertangan besi. Satu yang pasti, jejaknya bertaburan dan mustahil diabaikan. Ada Bandara Internasional Heydar Aliyev. Ada Jalan Raya Heydar Aliyev. Ada pula Kilang Minyak Heydar Aliyev.

Memasuki Heydar Aliyev Center, saya menyisir setiap sudut museum. Di ruang pamer, sebuah ekhibisi bertajuk The Reconstruction of the Being memajang patung-patung buatan seniman Meksiko Jorge Marin. Di luar itu, tak banyak yang bisa dinikmati. Museum ini lebih didominasi oleh hal-hal yang berbau propaganda. Setidaknya dua lantainya didedikasikan untuk mengulas kisah hidup Sang Bapak Bangsa.

Saya meninggalkan pusat kebudayaan dan mengarungi pusat kota. Menyusuri jalan-jalan yang megah, siapa pun akan mendapati betapa Baku menempuh pakem baku pembangunan kota modern abad ke-21: mendirikan bangunan kaca yang memukau dan mendatangkan merek-merek global. Kita bisa menemukan hotel bintang lima sekaliber Four Seasons dan JW Marriott, begitu pula butik premium semacam Armani dan Ralph Lauren. Bahkan di sini Donald Trump sempat berniat mengelola sebuah hotel dengan arsitektur yang sepertinya menjiplak Burj Al Arab.

Gedung kontroversial yang sempat dinamai Trump International Hotel & Tower Baku. Arsitekturnya terlihat menjiplak Burj Al Arab, hotel ikonis Dubai.

Sebagaimana kota modern abad ini pula, Baku aktif mengikuti tender hajatan-hajatan akbar. Saya datang saat kota ini bersiap-siap menanggap Islamic Solidarity Games, semacam Olimpiade khusus negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam, termasuk Indonesia. (Episode sebelumnya digelar di Palembang pada 2013.) Pada 2012, kontes mengarang lagu Eurovision juga diselenggarakan di sini. Berselang tiga tahun, Baku mendapat kehormatan menjadi tuan rumah debut pesta olahraga European Games.

Tak semua acara itu direspons positif. Jilid perdana Formula 1 di Baku pada tahun lalu misalnya, justru menjadi proyek rugi. Kemeriahannya pun jauh dari harapan. Dalam reportasenya untuk majalah 1843, Matthew Valencia memaparkan banyaknya bangku kosong di tribune utama tatkala balapan berlangsung. “Dari sembilan juta jiwa populasi negeri ini, hanya segelintir yang sanggup membeli tiket, bahkan setelah ditawari diskon 40 persen,” tulisnya.

Kawanan burung dara di Fountains Square, bagian kota yang menyerupai alun-alun di Eropa.

“Itu kegiatan yang menghambur-hamburkan uang dan sarat korupsi. Tak ada dampak yang nyata bagi masyarakat,” ujar seorang ekonom lokal perihal beragam pergelaran impor di Baku. Saya menemuinya di sebuah gerai Starbucks di Fountains Square, bagian kota yang lebih mirip alun-alun di Eropa. Meski bekerja untuk pemerintah, sang ekonom tak ragu bersikap kritis, walau atas alasan keamanan dia tak sudi namanya dikutip.

Terlepas dari pro-kontra, banyak inisiatif yang diambil Azerbaijan sebenarnya bukan hal baru dalam kancah global. Dalam dua dekade terakhir, banyak negara kaya minyak di Asia dan Timur Tengah gigih mencari sumber pendapatan alternatif dengan cara mendirikan kota futuristik dan mengimpor beragam ajang internasional. Mereka paham, ketergantungan pada petrodollar berisiko tinggi. Akibat anjloknya harga minyak dalam beberapa tahun belakangan misalnya, Azerbaijan terpaksa mendevaluasi mata uangnya. Itu pun terjadi tak cuma sekali. Konsekuensinya, semua barang terasa dua kali lipat lebih mahal dalam semalam. Seiring itu, rakyat kecil pun menjerit dan banyak proyek mangkrak.

Tentu saja, devaluasi tak selamanya berdampak buruk. Bagi turis, turunnya nilai tukar berarti semua barang dan jasa bisa dinikmati dengan lebih murah. Saya masih ingat, lima tahun silam saya terpaksa membatalkan rencana trip ke Azerbaijan usai mendapati tarif hotel di Baku ternyata lebih mahal ketimbang hotel di kota-kota besar Eropa.

Sedan buatan Korea melesatkan saya di jalan mulus yang lengang. Dalam naungan pagi yang cerah, saya meluncur ke Semenanjung Absheron, daerah suburban Baku yang tersohor akan kandungan minyaknya. Melewati pinggiran kota, tembok-tembok tinggi menjulang di sisi jalan. Apa gerangan di baliknya? “Permukiman orang-orang miskin,” jawab Rashad, pemuda lokal yang menyopiri saya.

Baku adalah kota yang melenakan mata. Kemewahannya rentan membuat kita lupa mayoritas warga Azerbaijan sejatinya hidup dalam kondisi yang kurang menggembirakan. Kekayaan yang dipompa dari perut bumi tidak merembes merata. Kaum berdasi yang menyetir Ferrari hanyalah sebagian realitas negeri ini. Tembok-tembok tinggi yang saya saksikan, yang ironisnya terkadang dibubuhi iklan mobil mewah, ditancapkan guna menyembunyikan kenyataan pahit itu.

Kiri-kanan: seorang wanita membalut tubuhnya dengan bendera Azerbaijan. Bawah: Mobil-mobil tua merek Lada buatan rusia terparkir di tepi Laut Kaspia.

Tak sampai setengah jam, saya telah mencapai Ramana. Dari jalan raya, mobil berkelok menuju perkampungan. Jalan yang tadinya mulus kini digantikan lintasan bergelombang. Tak jarang aspal raib dan hanya menyisakan tanah kering berdebu di mana rumah-rumah yang mirip gubuk berbaris di tepinya. Kian jauh dari pusat kota, kenyataan hidup memang kian mengiris hati. Baku, sebagaimana kota-kota bagur di negara berkembang, dijangkiti problem kesenjangan.

Selepas rumah-rumah warga, saya menyaksikan ladang pengeboran minyak dalam skala yang sukar digambarkan. Dari sumur-sumur inilah pundi-pundi devisa mengalir ke kas negara, meski tak sebanyak dulu. Beberapa pekerja dengan tubuh berbalut minyak mentah tampak sibuk mengebor. Tanah yang luasnya berkilo-kilometer dipenuhi noda hitam. Ada lebih banyak pompa minyak ketimbang pohon di Ramana. Inikah harga yang harus dibayar untuk kenyamanan di Baku?

Meninggalkan Ramana, Rashad membawa saya kembali ke jalan raya. Tak lama berselang, saya singgah di Bilgah di bibir Laut Kaspia. Sewaktu harga minyak melambung tinggi, kawasan ini dikenal sebagai suaka pelesir kalangan ekspat. Tapi, pagi ini, Bilgah nyaris hampa sepenuhnya.

Dua buruh kilang minyak di semenanjung Absheron, daerah suburban Baku yang tersohor akan kandungan minyaknya.

Sebuah hotel mewah berdiri di pesisir. Hotel ini sempat dikelola oleh jaringan Jumeirah asal Dubai. Dalam pengumuman di laman resminya, Jumeriah menyatakan mereka hengkang karena kontrak manajemen sudah habis, tapi beberapa orang punya spekulasi berbeda: tingkat hunian hotel di Baku melorot drastis pasca jatuhnya harga minyak dan Jumeirah menyadari prospek bisnis di sini tak lagi menjanjikan.

Saya menepi di sebuah pantai yang menampung puing. Barangkali ke sinilah masa lalu Baku dibuang sebelum digantikan pencakar langit. Di balik gunungan puing, belasan warga, dengan bagasi mobil yang dibiarkan terbuka, berbaris di pantai seraya menanti perahu nelayan merapat dengan membawa hasil yang tak seberapa. Saya bertahan sejenak menyaksikan tawar-menawar alot dalam bahasa yang tak saya mengerti.

Rashad mengantarkan saya kembali ke pusat kota, menyusuri jalan-jalan yang masih sama sepinya. Di tepi jalan, sejumlah traktor dan derek terparkir, tapi tak ada aktivitas. Di tengah labilnya harga minyak, pembangunan masih digenjot, tapi tembok-tembok tinggi lebih mudah ditemukan. Tembok tinggi yang menyembunyikan nestapa.

Rute

Hingga kini belum ada maskapai yang melayani penerbangan langsung dari Indonesia ke Baku. Penerbangan dengan durasi tempuh paling singkat ditawarkan antara lain oleh Qatar airways (qatarairways. com) via Doha, Emirates (emirates.com) via Dubai, serta Turkish airlines (turkishairlines.com) via Istanbul.

Penginapan

Baku mengoleksi banyak hotel bermerek global. Dua yang berada di lokasi strategis adalah Four Seasons (1 Neft-chilar Avenue; 994-12/4042-424; fourseasons.com; mulai dari Rp4.700.000) dan Hilton (1B Azadlig Avenue; 994-12/464-500; hilton.com; mulai dari Rp2.600.000). Di kawasan Kota tua Icheri sheher terdapat beberapa hotel butik dengan beragam kelas. Icheri sheher juga pilihan yang menarik mengingat lokasinya persis di dekat objek-objek wisata terpopuler di Baku.

Informasi

Baku bukanlah tempat yang ideal untuk berjalan kaki. Kota yang bersemayam 28 meter di bawah permukaan laut ini senantiasa diterjang angin dingin yang bertiup dari Laut Kaspia. Beruntung, kota ini memiliki transportasi publik yang mumpuni. Baku Metro (metro.gov.az), yang dirintis pada masa kekuasaan Uni soviet, memberikan banyak kemudahan untuk menjangkau banyak objek wisata populer seperti Heydar aliyev Center (heydaraliyevcenter.az) dan Port Baku Mall (portbakumall.az). Jika mencari operator tur, azerbaijan Traveller (azerbaijantraveller.com) menawarkan beragam trip menarik bersama pemandu lokal.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi September/Oktober 2017 (“Pakem Baku”).



Comments

Related Posts

3325 Views

Book your hotel

Book your flight