Dua Dunia Okinawa

Kiri-kanan: Interior Tubarama, restoran di Naha yang menghidangkan masakan halal; ; sepasang patung
shisa, ornamen khas kepercayaan Ryukyu, di muka sebuah rumah.

Di bawah terik yang menyengat, saya mengunjungi Sefa-Utaki, sebuah kompleks sakral peninggalan Kerajaan Ryukyu. Suasananya hening. Atmosfernya menyejukkan. Tempat yang dibalut alam rindang ini menyimpan cerita tentang keyakinan tua yang dianut penduduk Ryukyu. Sefa-Utaki dipercaya sebagai tempat mendaratnya dewi penciptaan Amamikyu.

Dibutuhkan sekitar 45 menit untuk menziarahi semua situs di Sefa-Utaki. Beberapa petilasan di sini dulu tertutup bagi kaum pria. Bahkan raja pun mesti berdandan seperti wa- nita jika ingin singgah. Tempat-tempat ibadah di Sefa-Utaki, termasuk sejumlah kastel dan monumen batu, telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Meninggalkan Sefa-Utaki, saya mendinginkan tubuh dengan menyeruput es kopi di Umi- no-Isukia, sebuah kedai elok yang tersembunyi dan jarang diketahui pengunjung. Kedai yang baru dibuka beberapa tahun silam ini dilengkapi taman yang menatap laut. Sebuah tempat yang fotogenik untuk mengobati peluh akibat udara lembap.

Aspek lain yang menjadikan Okinawa unik adalah khazanah kulinernya. Ada banyak restoran yang menjajakan masakan lokal, terutama di kota Naha. Seperti apa karakter masakan lokal sebenarnya? Pertanyaan ini sukar dijawab. Satu yang pasti, masakan Okinawa memakai banyak daging babi dan sayur. Di luar itu, kita bisa menemukan sejumlah inovasi ganjil yang dipengaruhi tradisi asing.

Kiri-kanan: Taco-rice, menu yang diciptakan di masa pendudukan Amerika; umibudo (anggur laut), komoditas lokal.

Saat Okinawa dikuasai oleh Amerika, penduduk setempat mengembangkan tradisi dapur yang menyempal dari pakem umum. Salah satu kreasinya adalah taco-rice. Isinya daging, saus, keju, dan selada, yang kemudian ditindih di atas nasi.

Taco-rice diciptakan oleh Matsuzo Gibo, seorang koki lokal. Berniat memuaskan para pelanggannya yang mayoritas tentara muda asal Amerika, Matsuzo meracik hidangan yang sanggup menawar kerinduan mereka akan kampung halaman, tapi tetap dengan sentuhan Jepang. Versi orisinal taco-rice memakai daging sapi, walau kadang dicampur dengan daging hewan lainnya. Seiring perkembangan selera, versi vegetarian kini tersedia, seperti yang saya temukan di restoran Ukishima Garden di Naha.

Layaknya daerah kepulauan, Okinawa juga menyajikan seafood, dan salah satu wadah terbaik untuk mencicipinya adalah Pasar Makishi. Semacam Tsukiji versi mini, tempat yang sudah beroperasi lebih dari 60 tahun ini menjajakan beragam seafood segar dan menampung banyak kedai. Cukup menunjuk ikan atau kepiting yang disukai, maka sang koki akan langsung memasaknya.

Kiri-kanan: Okinawa adalah satu-satunya tempat di Jepang yang memiliki gerai A&W; panorama malam Naha, gerbang internasional Okinawa.

Salah satu komoditas laut yang populer di Okinawa adalah umibudo (anggur laut), sejenis rumput laut yang menyerupai rangkaian anggur mungil. Tak jauh dari Naha, saya mampir di Uminchi, sentra budidaya umibudo yang berlokasi di pesisir cantik. Di luar Okinawa, umibudo sukar ditemukan dan harganya lumayan mahal.

Dalam perjalanan kembali ke Naha, saya melewati A&W, restoran drive-thru pertama di Jepang. Okinawa adalah satu-satunya tempat di Jepang yang memiliki gerai A&W. Awalnya berkiblat ke Tiongkok, lalu dikuasai Amerika, kemudian kembali ke Jepang, Okinawa sepertinya telah terbiasa menerima tamu asing. Identitas kebudayaan pulau ini bahkan lazim dirangkum dengan kata champuru yang artinya “mencampur aduk.”

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi September/Oktober 2017 (“Batas Bawah”).



Comments

Related Posts

3164 Views

Book your hotel

Book your flight