Dokumentasi Unik Kantor Kedutaan

Lewat proyek foto bertema kantor kedutaan, Elisabeth Ida Mulyani menguji kesetiaannya pada pakem baku dokumenter sekaligus menemukan karakter visualnya.

Salah satu karya Elisabeth Ida Mulyani, foto kedutaan Meksiko di Belgia.

Oleh Cristian Rahadiansyah

Selepas Perang Dunia II, Brussels merekah jadi salah satu pusat administrasi dunia. NATO dan Uni Eropa menancapkan markasnya di sini, begitu pula ratusan kedutaan dan biro konsultan lobi. Lanskap geopolitik itulah yang mengilhami Elisabeth Ida untuk menggarap proyek dokumenter Inside Embassies untuk tugas akhirnya di Royal Academy of Fine Arts. Mengunjungi belasan kantor kedutaan, wanita asal Sleman ini mencerna bagaimana identitas negara diterjemahkan dalam tata interior. “Dengan mengerjakan seri ini,” kenangnya, “saya seolah bertamasya ke berbagai negara di dalam satu kota.”

Prosesnya cukup berliku. Pada tahap awal, 2008, hanya 10 kedutaan yang memberinya akses, di antaranya Andorra, India, dan Malta. Faktor keamanan merupakan salah satu alasan banyak kedutaan menolak membuka pintunya. Pada tahap kedua, 2010, tiga kedutaan lain, termasuk Indonesia, mengubah keputusannya usai melihat foto-foto Ida dipamerkan.  Tantangan juga datang dari dosennya. Dalam proses memotret, Ida membiarkan ruangan apa adanya, sesuai dengan pakem dokumenter yang diyakininya. Tapi pendekatan ini justru dikritik oleh dosennya, yang percaya menggeser mebel tidaklah haram demi menghasilkan gambar yang nyaman di mata. Menanggapinya, Ida mengganti dosen pembimbing.

Foto kedutaan Turki di Belgia yang ada di buku Inside Embassies karya Elisabeth Ida Mulyani.

Pada 2010, Inside Embassies masuk seleksi Prix National Photographie Ouverte, serta terpilih dalam Canvascollectie dan dipamerkan di BOZAR. Pada 2015, penerbit Art Paper Editions membukukan Inside Embassies. Selain membuatnya masuk radar dunia, seri ini membantu Ida menemukan karakter visualnya, di mana ketenangan dan perasaan khidmat menjadi aura utama karya. Dengan gaya ini pula, dia menggarap proyek berikutnya yang mengulas tema genosida di tiga negara: Indonesia, Kamboja, serta Bosnia-Herzegovina. “Keputusan untuk setia pada metode fotografi dokumenter terbukti tepat,” jelasnya.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/September 2018 (“Interior & Identitas”).

Comments