Dokumentasi Perkembangan Islam di Indonesia

Berdasarkan pengalamannya, Ahmad Zamroni yakin tema lawas selalu bisa menemukan saluran untuk menjangkau publik, asalkan pasarnya jelas.

Proyek dokumenter bertema Islam di Indonesia karya Ahmad Zamroni.

Oleh Cristian Rahadiansyah

“Islam di Indonesia” adalah tema yang terkesan simpel, usang, barangkali juga pasaran. Tapi kesan itu sebenarnya tergantung pada medium apa dan dengan siapa kita bicara. Bagi publik internasional, tema itu senantiasa diminati, karena memang selalu membuka ruang bagi eksplorasi isu dan wacana. Di Indonesia, Islam bisa dibedah lewat beragam perspektif, sebut saja hubungan agama dan negara, benturan kebudayaan, politik identitas, hingga mode busana.

Pemahaman itu jugalah yang mendorong Ahmad Zamroni menggarap tema “Islam di Indonesia.” Awalnya, pada 2007, ketika bekerja untuk AFP, dia kebagian tugas memotret Masjid Istiqlal. Dari situ, pria asal Temanggung ini mengembangkan cakupan subjeknya dengan mendokumentasikan pula beragam acara dan isu terkait Islam, termasuk Ramadan dan radikalisme. “Islam merupakan salah satu isu yang cukup diminati media, khususnya media internasional,” jelasnya.

Proyek dokumenter itu mengalir tanpa target. Roni menyambinya di tengah rutinitas sebagai karyawan media. Tapi bahkan dengan cara itu proyeknya masih bisa menemukan saluran untuk menjangkau publik. Pada 2008, enam fotonya dipajang dalam Singapore International Festival of Arts, pameran internasional pertama yang diikuti Roni. Tahun ini, karyanya dipamerkan di Beijing dan Melbourne dalam ekshibisi akbar Civilization: The Way We Live Now.

Baca juga: 20 Foto Pilihan di 2018Proyek Dokumenter Umat Katolik

Roni, yang kini mengelola agensi Hati Kecil Visuals, belum yakin akan melanjutkan proyek “Islam di Indonesia,” walau dia sudah membayangkannya sebagai proyek jangka panjang yang digarap tidak hanya lewat disiplin fotografi. “Perkembangan Islam tetap menarik untuk diikuti. Dan tema ini masih menarik bagi saya pribadi,” jelas pria yang sudah menerbitkan dua buku foto ini. Satu yang jelas, kemampuan proyeknya untuk kembali menemukan pasar telah memberinya hikmah soal pentingnya pengarsipan. “Jangan pernah menghapus foto lama,” pesannya. “Kadang kita baru paham foto tersebut akan menjadi ‘karya’ beberapa tahun kemudian.”

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Maret 2019 (“Pasar Karya”).

Comments