Distrik Kuliner Baru di Hong Kong

Sebuah trem melintasi Catchick Street. Trem masih setia beroperasi di kawasan ini walau warga sudah mulai beralih ke kereta bawah tanah.

Dari Catchick hingga New Praya—dua utas jalan yang membentang di tepi laut—bisnis-bisnis baru menjamur. Di New Praya, dua bintangnya adalah Fish & Chick dan Kinsale, bistro yang meracik menu kasual dalam interior bergaya Irlandia. Bergeser ke Catchick, kita akan menemukan gastropub modern Shoreditch, kedai es krim Ice Monkey, serta sarang penggemar bir Craft Brew & Co. Sementara di North Street, jalan di antara Catchick dan New Praya, ada kedai kopi Waffling Beans dan restoran Chino milik Erik Idos, mantan Executive Chef Nobu Hong Kong. Semuanya hadir karena tergoda oleh perkembangan positif Kennedy Town.

“Setelah bertahun-tahun menjadi warga Central dan Sai Kung, saya kini jatuh cinta pada Catchick Street,” ujar Scott Wrayton, pemilik Shoreditch. “Dibandingkan warga Central, orang-orang di sini jauh lebih santai.” Bersemayam di persimpangan Catchick dan North Street, Shoreditch adalah wadah bagi penggemar aktivitas people-watching. Fasadnya dicetak terbuka. Desainnya membangkitkan kenangan akan pesona Inggris klasik di Hong Kong—tawaran yang dulu justru lazim kita temukan di Central.

“Kennedy Town sedang berubah jadi sebuah destinasi mini. Tren ini akan makin positif jika makin banyak bisnis berkualitas yang dibuka di sini,” lanjut Wrayton. “Satu hal lain yang saya sukai dari tempat ini adalah masih banyaknya bisnis milik lokal, dan saya berharap mereka tak akan digusur oleh para tuan tanah yang serakah.”

Kedai-kedai yang melubangi dinding di Kennedy Town sukses memikat banyak pencinta kuliner. Oleh para pengusaha kreatif, kios-kios tua dipugar, didandani, lalu disulap menjadi toko wine, butik atraktif, atau restoran modern. Sepanjang malam-malam musim panas yang hangat, tempat-tempat ini dikerubungi Hong Kongers dan turis. Dan gairah tersebut tak cuma melanda zona di tepi laut.

Kiri-kanan: Scott Wrayton, pemilik Shoredicth dan Fugazi; mural di gastropub Shoreditch.

Beranjak ke Forbes Street, jalan tua di mana akar-akar gantung beringin menggerayangi dinding-dinding lapuk, semangat perubahan juga meletup kencang. Area yang dulu menampung kolam renang publik tersohor ini telah bergeser jadi pusat keramaian baru di sekitar Stasiun MTR Kennedy Town. Orang-orang umumnya melawat ke Forbes Street dengan perut keroncongan. Salah satu tempat yang kerap ramai di sini adalah Picnic on Forbes, restoran yang didirikan oleh Philippe Orrico. Dua pesaingnya adalah K-Town Bar & Grill yang menempati bekas bengkel; serta Missy Ho’s, restoran Asia yang rutin dijadikan sarang kongko kaum nokturnal. Gairah di Forbes Street juga telah menular ke jalan tetangga, Hau Wo Street, di mana banyak pengusaha mendirikan warung mi Vietnam, kedai teppanyaki, serta bar spesialis bir Belgia.

Sebagaimana sudah saya singgung di awal, satu hal yang membuat Kennedy Town terus memikat adalah bertahannya karisma lawas. Kehadiran tempat-tempat anyar tidak serta-merta membunuh pemain lama. Toko-toko usang terus bertahan melintasi generasi, setia melayani konsumen setempat yang loyal. Tiap kali ke kantor, saya melewati sebuah warung mi tua di mana seorang nenek tekun menghaluskan daging babi dan adonan dim sum dengan tangan. Di sudut yang lain, apotek-apotek tradisional menjajakan beragam ramuan herbal yang dibariskan di lemari kaca. Di banyak bengkel dan gudang beras yang berjejer di tepi laut, para kakek rutin bermain mahjongg, membiarkan siang bergulir ke malam, memisahkan diri dari modernitas di sekitar mereka.

Kiri-kanan: Jaspa’s, restoran waralaba yang memiliki cabang di Kennedy Town; sudut interior Potato Head Hong Kong, properti hasil kongsi antara pengusaha lokal Yenn Wong dan Grup PTT Family asal Indonesia.

Beberapa tempat tua bertindak layaknya pusat kehidupan warga. Mereka bagaikan benang panjang yang menghubungkan masa lalu dan masa kini Kennedy Town. Lihat misalnya Run Run Shaw Heritage House, sebuah rumah granit elok yang sudah direnovasi menjadi pabrik percetakan merangkap toko buku milik University of Hong Kong. Para mahasiswa gemar berkelana di sini saat mencari referensi sejarah dan politik lokal, sebelum kemudian menyerbu kedai Sun Hing guna menikmati yum cha (dim sum dan teh).

“Sudah lama Kennedy Town menolak perubahan,” kata Tim Somer, bankir kelahiran Selandia Baru yang telah menetap di sini selama 12 tahun. “Memang benar, kini ada lebih banyak manusia dan lebih banyak alasan untuk berkunjung, tapi kondisi itu tak akan mengubah karakternya. Kennedy Town akan selalu menjadi sudut yang hening di ujung jalur trem. Hanya saja kini ia terlihat lebih keren.” >>



Comments

Related Posts

4012 Views

Book your hotel

Book your flight