Dilema di Surga

Sekumpulan muda-mudi dalam Baju Kurung dan Baju Melayu sedang menikmati senja di Dataran Helang.

Kasus yang terjadi di Pulau Singa juga menjelaskan isu pelik tersebut. Tempat ini rutin disatroni turis yang ingin menonton atraksi pemberian pakan elang. Meski populer, aktivitas ini sejatinya mengundang polemik. Akibat sering disuapi, elang kian gemuk dan malas. Kemampuan berburunya menumpul hingga mengusik rantai makanan. Celakanya lagi, banyak juru mudi kapal memberikan pakan yang salah, yakni kulit ayam. Padahal lemak dari kulit ayam berpotensi merapuhkan kulit telur elang. Alhasil, bayi elang terlahir prematur dan kesulitan bertahan hidup.

“Sebetulnya tidak ada kartu kuning untuk kami,” jawab Azmil Munif Bukhari dari Divisi Turisme LPL, saat saya menanyakan peringatan dari UNESCO. “Tim juri memang mengirimkan rekomendasi peringatan pada dewan Global Geopark. Tapi mereka tidak menyetujui kartu itu, karena masih banyak yang kondisinya lebih parah di negara lain.”

Walau menyanggah peringatan UNESCO, LPL tidak bisa menutup mata dari kenyataan Langkawi didera serangkaian masalah akut. Berita-berita tak sedap juga berkesiur tentang kendurnya manajemen kawasan ini. Barangkali gerah mendengar nada-nada sumbang itu, LPL tergerak berbenah. “Itu adalah tamparan agar kami bisa bangkit,” ujar Azmil diplomatis.

Dalam waktu dekat, LPL akan meresmikan Gunung Raya Park sebagai zona konservasi baru. Untuk isu pemberian pakan elang, lembaga ini mengklaim telah mengurangi frekuensinya menjadi hanya dua kali per hari. Agenda LPL lainnya cukup ambisius. Kelak, pada 2030, Langkawi bakal ditetapkan sebagai pulau rendah karbon pertama di Malaysia.

Kiri-kanan: Koral Bunga, atau Goniopora, mendapat namanya karena bentuk mahkota yang menyerupai bunga daisy; gadis kecil meloncat ke dalam Danau Dayang Bunting.

Inisiatif perbaikan, tentu saja, tidak hanya datang dari LPL. Trash Hero misalnya, turut berkontribusi melalui aksi memungut sampah saban Minggu dan program daur ulang sampah. Inisiatif lainnya datang dari Sahabat Alam Malaysia (SAM) yang mengampanyekan pembatasan kecepatan perahu dengan menyarankan warga mengganti mesin 200DK dengan 60DK. Untuk hutan-hutan bakau yang telanjur rusak, SAM menggelar aksi reboisasi.

Seluruh ikhtiar arif itu kini berpacu dengan waktu. Pelancong terus berdatangan dan Langkawi giat membangun demi memuaskan mereka. Aktivitas wisata di sini terus berkembang. Selain tur perahu dan pemberian pakan elang, turis bisa snorkeling di Pulau Payar, berenang di Danau Dayang Bunting, juga menaiki kereta gantung di Machinchang yang menyuguhkan lanskap Langkawi hingga Taman Nasional Tarutao di Thailand. Dalam versi idealnya, Geopark didesain untuk geowisata, tapi dalam praktiknya aktivitas yang ditawarkan selalu melebar.

Satu isu sensitif yang mengemuka dari pertumbuhan industri pariwisata itu adalah privatisasi lahan. LPL mematok target lima juta turis pada 2020, dan untuk itu Langkawi membutuhkan hotel-hotel baru. Menurut Azmil Munif, mayoritas proyek hotel baru dipusatkan di sekitar Pantai Cenang, Kuah, dan Ayer Hangat. Dia juga menegaskan semua properti itu wajib mempraktikkan prinsip ramah lingkungan.

Kiri-kanan: Seorang pemuda membersihkan gerobaknya sebelum membuka kedai makan; makanan khas Malaysia menjadi menu andalan restoran Tepian Laut milik The Andaman.

Warga tidak anti investasi, tapi mereka menyayangkan tata kelola lahan oleh pihak hotel. Keinginan hotel memiliki pantai eksklusif telah memblokade akses warga ke area yang sejatinya milik publik. Kasus ini terjadi salah satunya di Pantai Kok. Menurut Rastom Abdul Rahman, anggota Friends of Langkawi Geopark (Flag), Pantai Kok dulu merupakan tempat liburan favorit warga. Pesisirnya yang elok bahkan sempat dijadikan lokasi syuting anna and the King. Tapi kini, sebagian besar lahannya telah dikuasai sebuah hotel.

Kehadiran bisnis partikelir sebenarnya tak melulu berdampak negatif. Banyak hotel di Langkawi justru mengemban fungsi strategis sebagai wadah edukasi turis. Tak jarang pengelola hotel menyewa naturalis, menawarkan tur ramah lingkungan, bahkan mengundang tamunya terlibat dalam aksi konservasi.

“Kami ingin mengedukasi tamu tentang kekayaan hutan,” ujar Shawn Lim, Marketing Manager The Andaman, resor senior yang bersemayam di jantung hutan Machinchang. Arsitekturnya merangkul alam. Bangunannya melebur dengan lanskap sekitar. Menginap di sini, tamu mesti sudi berbagi tempat dengan makhluk asli. Saat berjalan ke kamar, kita bisa saja bertemu kubung dan lutung.

Setiap sore, teras restoran Kayu Puti selalu ramai dengan tamu yang ingin menikmati matahari senja.

Demi mengurangi dampaknya pada alam, The Andaman mengaplikasikan sistem panen air hujan, mendirikan instalasi kompos organik, menggelar program penanaman bakau, juga rutin merawat koral. Daya, salah seorang motor kegiatan konservasi koral, mengatakan inisiatifnya sebenarnya merupakan proyek balas budi. Pada 2004, resor ini selamat dari tsunami berkat proteksi dari hamparan koral di Teluk Datai. Tapi akibat bencana itu pula sekitar 60 persen koral rusak parah.

Untuk menakar sejauh mana inisiatif swasta dan pemerintah mengatasi problem yang menggerogoti Langkawi, kita hanya bisa menanti hasil evaluasi tim UNESCO pada 2019. Untuk saat ini, pekerjaan rumah tempat ini adalah merumuskan solusi jalan tengah yang disepakati semua pemangku kepentingan. Permata Kedah belum berkilau sempurna, dan semua orang tahu pangkal masalahnya kali ini bukanlah kutukan Mahsuri.

Kiri-kanan: Seorang turis merekam panorama Pantai Cenang; tur mengayuh kayak mulai populer dilakukan di sekitar Sungai Kubang Badak.

Rute

Langkawi terdiri dari 104 pulau yang bersemayam di mulut Selat Malaka, persis di perbatasan dengan Thailand dan Laut Andaman. Maskapai yang melayani penerbangan ke sini antara lain Malindo air (malindoair.com), Malaysia airlines (malaysiaairlines. com), serta airasia (airasia.com)—semuanya dengan satu kali transit di kuala Lumpur.

Penginapan

Langkawi mengoleksi beragam hotel dari beragam kelas. Menyepi di belahan barat laut, The Andaman (Jl. Teluk Datai; 60-4/9591-088; theandaman.com; mulai dari Rp2.900.000) teronggok di tengah hutan Machinchang yang menatap teluk Datai. Resor mewah anggota The Luxury Collection Starwood ini aktif terlibat dalam upaya pelestarian alam, misalnya melalui proyek pemulihan koral, pendirian Marine Life Laboratory, serta program penanaman bakau. Opsi resor yang tak kalah menarik, The St. Regis Langkawi (Jl. Pantai Beringin; 60-4/9606-666; starwoodhotels.com; mulai dari Rp4.200.000), menyuguhkan panorama elok pulau- pulau yang bertaburan di perairan selatan Langkawi. Resor yang baru diresmikan tahun lalu ini juga menawarkan tur-tur edukatif menyusuri kawasan Geopark dengan dipandu oleh naturalis.

Informasi

Untuk berkeliling pulau utama Langkawi, taksi dan armada Uber telah tersedia, begitu pula penyewaan mobil dan sepeda motor. Sementara untuk wisata di sungai dan pulau-pulau lainnya, kita bisa membeli paket yang banyak ditawarkan oleh pihak hotel atau operator tur lokal, salah satunya Dev’s Adventure Tours (langkawi-nature.com), operator yang menyediakan pemandu berpengalaman. ada tiga kawasan utama Geopark di Langkawi. Di Machinchang Cambrian Park, kita bisa menyaksikan panorama dari ketinggian dengan menaiki SkyCab (panorama langkawi.com). Di Dayang Bunting Park terdapat danau air tawar yang bisa direnangi, sementara kilim karst Park terkenal akan hutan bakau dan gua kelelawarnya. Informasi lain seputar kekayaan alam Langkawi bisa disimak di situs resmi Langkawi Geopark (langkawi geopark.com.my).

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi September/Oktober 2017 (“Dilema di Surga”).



Comments

Related Posts

2532 Views

Book your hotel

Book your flight