Dilema Bersemayam di Venesia

Turis mengenakan aksesori khas Venesia.

Di jantung kota tua, pelaku pariwisata makin agresif berebut tempat dengan bangunan yang melayani khalayak umum. Rumah, kantor jawatan, dan toko-toko kecil kian terimpit. Pengusaha lokal kesulitan mencari tempat usaha, sementara masyarakat setempat kerepotan beraktivitas. Mereka yang tak sanggup bertahan kemudian memutuskan hengkang.

Suasana Carnival of Venice.

Turis berebut memotret di Piazza San Marco.

Pemerintah kota Venesia, sayangnya, seperti menutup mata dari semua problem itu. Mereka hanya acuh pada upaya meningkatkan jumlah turis dan devisa, tanpa benar-benar peduli akan variabel-variabel penting yang menyangkut kelestarian lingkungan dan kualitas hidup manusia.

Sebagai anggota masyarakat Venesia yang prihatin, saya telah lama mempertanyakan masa depan kota saya. Kegelisahan itu jugalah yang mendorong saya mengerjakan proyek fotografi yang saya beri judul Venice for Sale. Dari balik lensa, saya menyoroti isu-isu yang dihadirkan oleh pariwisata massal dan efek sampingnya bagi kehidupan sosial di Venesia.

Sekelompok pemuda mengambil swafoto bersama pemeran Medico della Peste (“dokter wabah”) di Campo Santa Maria
Formosa.

Dalam kacamata saya, Venesia memang sedang dijual. Banyak properti ditawarkan kepada para jutawan atau korporasi raksasa demi menambal defisit dan mengurangi kesenjangan ekonomi—dua problem klasik yang sejatinya merupakan buah dari ketidakbecusan para pejabat dalam mengelola kota dan merumuskan solusi bagi masalah-masalah urban. Mereka tak sadar, “menjual Venesia” adalah sebuah jalan pintas dengan akibat jangka panjang: kota ini bertransformasi menjadi sebuah taman rekreasi raksasa yang menghamba pada turis dan memicu eksodus warganya sendiri.

Seorang turis mengarungi kanal di kompleks bersejarah Misericordia.

Dua orang turis bersantai di Piazza San Marco yang tengah terendam air laut.

Venesia kini membutuhkan perhatian serius. Tanpa intervensi dari para pemangku kepentingan, termasuk negara, ruang hidup bersama ini akan terus berpindah tangan ke perusahaan dan terperangkap menjadi “unit bisnis” yang hanya peduli pada laba. Jika solusi tak kunjung datang, masalahnya akan kian menumpuk dan kian sulit ditanggulangi, mulai dari polusi, banjir, kemacetan, perawatan gedung tua, serta langkanya kebutuhan barang sehari-hari bagi warga.

Koper-koper turis menanti diangkut perahu di Tronchetto.

Guna menghindari keterpurukan total, manajemen pariwisata yang lebih arif amatlah diperlukan. Fokus kebijakan harus dialihkan dari mengutamakan kuantitas menjadi mengejar kualitas, sembari di saat yang sama menjaga keseimbangan antara kebutuhan meraup devisa dan kepentingan warga. Jika warga lokal yang selama ini menghormati, merawat, dan menghidupi Venesia justru tersisih, saya percaya kota ini akan kehilangan masa depannya, baik sebagai ruang bersama maupun destinasi wisata.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei/Juni 2017 (“Dilema Venesia”).



Comments

Related Posts

11959 Views

Book your hotel

Book your flight