Dilema Bersemayam di Venesia

Menyiasati air pasang, para turis berjalan-jalan di kawasan Alun- Alun San Marco mengenakan plastik pembungkus sepatu.

Venesia terus kehilangan penduduknya. Alih-alih menjadi ruang hidup bersama, kota terapung ini justru kian menyerupai taman rekreasi raksasa. Pelajaran penting tentang bagaimana pariwisata massal berpotensi mengancam masa depan.

Teks & foto oleh Federico Sutera

Venesia tengah kewalahan. Di tengah menggebunya gairah berlibur ke kota terapung ini, sejumlah problem besar menyelinap dan menggerogoti keutuhannya sebagai ruang hidup sekaligus jendela sejarah Italia.

Venesia, kompleks anggun berisi 118 pulau, didirikan pada abad ke-5 dan sempat menjelma jadi kekuatan maritim dunia pada abad ke-10. Riwayat emas itu tak cuma mengantarkannya menyabet gelar Situs Warisan Dunia, tapi juga menjadikannya primadona pelancong.

Sebuah kapal pesiar menyusuri perairan di kawasan Piazza San Marco di Venesia.

Juru mudi gondola menanti klien di Calle dell’Angelo.

Sayangnya, pariwisata kemudian menjadi pangkal dari banyak masalah pelik yang menodai kecantikan Venesia. Warga dan aktivitas yang tidak terkait pariwisata terus tersisih demi memberikan ruang bagi hotel, restoran, dan butik yang melayani 27 juta turis (75 persennya merupakan day tripper) per tahunnya.

Destinasi pelesir andalan Italia ini sekarang terancam menjadi sebuah kota tanpa warga, sepenggal sejarah tanpa peradaban. Di pusat kotanya, kawasan yang menampung gedung-gedung historis terpenting, populasi manusia terus menipis. Sekitar 1.000 penduduk lokal minggat saban tahunnya, membuat jumlah yang tersisa kini hanya 55.000 jiwa atau kira-kira berkurang dua per tiganya dibandingkan statistik 1950-an.

Pentas garapan seniman Li Wei di Pulau San Giorgio Maggiore dalam ajang Venice Biennale 2013.

Seorang seniman jalanan sedang membersihkan rias wajah di pelataran Gereja San Zaccaria.

Awalnya dipandang bermanfaat bagi perekonomian, pariwisata kini tampil sebagai ancaman bagi masa depan Venesia. Di banyak sudut kota, hukum yang berlaku sekarang adalah: peningkatan jumlah turis berbanding lurus dengan penurunan populasi warga lokal.

Veneto Region, semacam “prefektur” yang membawahi Venesia, bisa dibilang merupakan firma pariwisata pertama di Italia. Omzetnya sekitar €13 miliar per tahun. Separuhnya dipasok oleh daerah metropolitan Venesia, ditambah sekitar €3,5 miliar yang didapat khusus dari kawasan kota tua Venesia.

Salah satu graffiti yang mengecam agenda yang diusulkan oleh Renato Brunetta saat mencalonkan diri sebagai Wali Kota Venesia.

Pariwisata memberi banyak kontribusi positif, tentu saja. Devisa turis mendatangkan kekayaan dan membuka lapangan kerja. Uang yang digelontorkan pelancong tidak Cuma mendarat di kantong mereka yang berkecimpung di bisnis pariwisata, tapi juga menghidupi banyak bisnis pelengkap dan turunan. Akan tetapi, industri pariwisata tumbuh terlampau pesat dan arus turis menerpa terlalu  deras. Alhasil, Venesia pun terancam kehilangan khitahnya sebagai “wadah hidup,” tragedi yang pada akhirnya justru mengancam daya tariknya sebagai destinasi pelesir.

Pedagang toko suvenir di kawasan Piazza San Marco.

Salah satu kios suvenir di Calledella Mandorla.

Dampak negatif pariwisata terlihat gamblang, dan harga yang harus dibayar untuk itu kelewat mahal. Warga merasakan kesulitan hidup yang kian tak tertanggungkan. Kemacetan kian kronis. Harga rumah dan barang kebutuhan sehari-hari terus meroket. Volume limbah kian besar. Sebagian turis yang rutin berlibur ke Venesia pun mulai merasa gerah, bahkan mengaku tak mengenali lagi kota ini.



Comments

Related Posts

8461 Views

Book your hotel

Book your flight