Di Balik Selembar Foto Orca

Berkat selembar foto paus pembunuh di Lamalera, Oscar Siagian mengaku menemukan semangat baru dalam berkarya. Dia mengisahkan drama di balik proses pemotretannya.

Seekor paus pembunuh sedang teilhat berusaha melompat di perairan laut sawu, Nusa Tenggara Timur.

Oleh Cristian Rahadiansyah

“Foto ini didapat dalam kunjungan pertama saya ke Lamalera,” ujar Oscar Siagian tentang foto paus pembunuh (orca) karyanya. Saat itu, pada 2010, Oscar sedang merintis proyek fotografi bertema pesisir, dan Lamalera, sebuah desa di Nusa Tenggara Timur, menawarkan tema yang sangat menarik: perburuan paus memakai metode tradisional.

Foto itu didapatnya secara kebetulan. Suatu pagi, saat Oscar tengah melaut bersama nelayan setempat, seekor orca tiba-tiba melintas. Seorang lemafa, juru tikam paus, berhasil menancapkan satu mata kail ke orca tersebut, tapi sang buruan berontak dan menarik perahu. “Perasaan saya campur aduk saat itu,” kenang Oscar. “Sebelumnya saya mendengar cerita tentang perahu yang tenggelam akibat ditarik paus.”

Drama di laut itu berlangsung cukup lama. Orca terus berupaya kabur, termasuk dengan meloncat. “Pada momen itulah saya memotret dengan latar belakang Tanjung Atadei,” lanjut Oscar. Tapi kisahnya tak berhenti di situ. Seekor orca lain mendadak muncul, mendekati rekannya yang terluka, dan sepertinya berusaha menyemangatinya agar tak menyerah. Tak lama, tali yang terkait ke tubuh orca terputus dan para nelayan pun kehilangan buruannya.

“Foto orca ini merupakan salah satu karya terbaik saya,” jelas Oscar, yang pernah berkontribusi untuk Redux dan Australian Associated Press. “Berkatnya pula, saya terdorong untuk terus berkarya. Saya yakin setiap fotografer memiliki jalan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dari setiap perjalanannya.”

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi  Januari/Maret 2018 (“Restrospect: Paus Penyintas”).

Tags : Foto Esai
Comments