Destinasi Paling Bersinar di Jawa Timur

Tepian timur Jawa, kawasan yang dulu dikuasai Kerajaan Blambangan, mengoleksi beragam medan untuk beragam selera, mulai dari sabana, hutan keramat, kawah magis, hingga pantai-pantai terpencil. Sebagian mulai populer di kalangan turis. Beberapa baru tertulis di peta wisata.

Pantai Wedi Ireng yang berair tenang dengan latar pulau-pulau cadas di selatan Banyuwangi.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Johannes P. Christo

Meniti jalan tanah di Alas Purwo, dahan dan daun saling sengkarut, malang melintang, membentuk kanopi dan membendung sinar mentari. Mengintip lewat celah di antara pohon, hanya ada bayangan yang bertindihan. Di rimba purba yang tak tepermanai ini, siang memang tak bersinonim dengan terang.

“Ada orang yang sudah 16 tahun menetap di hutan ini. Saya pernah melihatnya sekali,” ujar Gosia, wanita asal Polandia yang duduk mengenakan bikini di jok belakang mobil. Bersama pasangannya, dia sudah lebih dari seminggu berlibur di Alas Purwo, mengisi hari-harinya dengan berselancar di tepian hutan. “Bayangkan, selama itu, orang itu hanya bermeditasi,” katanya lagi dengan raut terkesima.

“Benar itu, Mas. Orang itu cuma bertapa,” timpal Heru, sopir kami. Gosia memakai kata meditasi, Heru menyebutnya bertapa. Dua laku zuhud yang sama-sama menuntut ketenangan batin, tapi dengan niat berbeda. “Kapan orang itu akan keluar hutan, Pak?” tanya saya. “Ya.. kalau sudah dapat ‘perintah’ keluar,” jawabnya.

Mobil merandai rute sarat gelombang dan kubangan. Tubuh saya naik turun layaknya peselancar mengendarai ombak. Mobil saya, Daihatsu Hiline renta hasil karoseri, berada di perbatasan antara kendaraan safari dan rongsokan. Tidak pakai jendela. Tidak pakai dashboard. Dan mungkin juga tidak pakai suspensi. Rasanya seperti berada dalam cocktail shaker.

Ini hari kedua saya di Alas Purwo. Taman nasional ini berada di tenggara Banyuwangi. Di peta, bentuknya mirip kepala hiu yang menjulur jauh ke laut, menusuk Selat Bali, persis di bawah Jembrana. Jam di telepon genggam saya kadang berpindah zona dari WIB ke WITA.

Gosia dan pria misterius yang ditemuinya mewakili dua tamu reguler Alas Purwo: peselancar dan petapa. Yang pertama datang untuk mencicipi ombak-ombak tinggi yang mengempas Teluk Grajagan, pesisir bulan sabit yang populer dengan nama G-Land. Sementara yang kedua datang lantaran percaya Alas Purwo adalah petilasan keramat yang membuka sesi konsultasi dengan alam gaib. Tak banyak tempat di dunia di mana pemburu ombak dan pencinta kemenyan rukun berdampingan.

Kiri-kanan: Pantai Lampon, salah satu pantai berpasir hitam di selatan Banyuwangi yang rutin dijadikan medan latihan batalion elite Intai Amfibi; Land Rover Discovery melintasi belantara lebat Alas Purwo, taman nasional yang berada di pojok tenggara Banyuwangi.

Tiba di area parkir, saya berpindah mobil. Alas Purwo merupakan pemberhentian pertama saya dalam ekspedisi darat selama enam hari menjelajahi tepian timur Jawa, kawasan tapal kuda yang dulu dikuasai Kerajaan Blambangan dan kini dihuni Kabupaten Banyuwangi dan Situbondo. Di etape berikutnya, saya akan menyisir pesisir selatan yang berujung di taman nasional lainnya, Meru Betiri.

Mobil saya, kali ini dilengkapi suspensi senyaman pegas King Koil, melahap tangkas jalan-jalan langsing yang membelah perkampungan. Di balik jendela, kampung-kampung berkelebat dengan paras senada: guyub dan bersahaja. Banyuwangi dulu tersohor sebagai produsen pisang, tapi predikat ini sepertinya telah bergeser. Banyak orang kini keranjingan buah naga. Pohonnya berbaris di banyak pekarangan, kebun, dan pelataran perkantoran. Saya bahkan melihat sebuah tugu buah naga di pinggir jalan.

Ini lawatan kedua saya ke Banyuwangi. Dalam kunjungan pertama, awal 2017, saya hanya menetap dua hari di sebuah desa tak jauh dari Pelabuhan Ketapang. Semenjak itu, Banyuwangi memperlihatkan progres yang signifikan di sektor pariwisata. Dalam aspek inisiatif untuk memikat turis, ia merupakan yang paling aktif di Indonesia setelah Bali dan Bintan.

Selain giat mempromosikan objek wisatanya, Banyuwangi menciptakan lebih dari 70 festival, kira-kira enam festival per bulan. Kabupaten ini ingin memastikan kita selalu punya alasan baru untuk kembali datang. Situs resmi pariwisatanya juga rapi dan informatif—sesuatu yang luar biasa untuk standar Indonesia. Setidaknya wajah bupati tidak dipajang di laman pertama. Tipe huruf yang dipakai juga ramah mata, sebuah pertanda perancangnya memahami beda antara situs dan spanduk.

Setelah 90 menit, saya memasuki Pantai Lampon. Mobil melewati pos Marinir dan parkir di bibir pantai. Lampon bukan objek wisata dalam definisi umum. Pantai ini sebenarnya sentra latihan batalion Intai Amfibi. Tapi panoramanya mengagumkan. Pantai pasir hitam ini membentang panjang. Sudut kirinya dikangkangi kubah batu. Sudut kanannya dipenuhi perahu. Maskulin dan fotogenik.

Kiri-kanan: atmosfer pagi Pantai Pulau Merah, objek wisata populer di Banyuwangi; Land Rover Discovery generasi kelima melintasi persawahan di Desa Kluncing.

Berhubung bukan objek wisata, Lampon pun steril turis. Saya keluyuran sembari sesekali memantau sekitar demi memastikan saya tak diusir aparat. Coba mendekati barisan perahu nelayan, jalan ditutup portal. Seorang kakek menuntun sepeda motornya saat melewati pos tentara, lalu menstarter mesin setelah lewat kira-kira dua meter. Sudah lama saya tak melihat rasa segan dan hormat semacam itu. Saya ingat, sewaktu kecil, semua pengendara wajib berhenti tatkala pasukan ABRI sedang menggelar upacara. Jika nekat menerobos, siap-siap ditampar atau disuruh push-up.

Atmosfer hening Lampon berbalik drastis ketika berpindah ke Pantai Pulau Merah, 15 kilometer ke arah barat. Ibarat Kuta versi Banyuwangi, tempat ini ramai oleh turis dan peselancar. Pantainya landai, panjang, melengkung sempurna seperti Oreo yang digigit separuh. Saya meletakkan tas di penginapan, lalu kembali ke pantai untuk menikmati senja. Belasan pelancong asing memunguti sampah. Puluhan turis lokal berfoto, bernyanyi, mengukir kalimat picisan di pasir. Di pangkal pantai, para anggota penyelamat wisata tirta—terjemahan resmi “lifeguard”—bermain voli.

Matahari kian miring dan laut kian surut. Pantai melebar hingga sekitar 300 meter. Pulau Merah, ikon tempat ini, sekarang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Pulau ini sebenarnya tidak berwarna merah. Tubuhnya dibalut pepohonan lebat. “Yang merah itu tanahnya. Nanti di musim kemarau kelihatan,” jelas seorang nelayan yang sedang memasang lampu di perahunya, bersiap berburu lobster di malam hari.

Dibandingkan G-Land, Pantai Pulau Merah lebih mudah diakses dan lebih jinak ombaknya. Popularitasnya melambung usai beberapa kali dijadikan tuan rumah ajang selancar. Satu kekurangan tempat ini barangkali variasi penginapannya. Meski air dan listrik mengalir lancar, di sini cuma ada motel dan homestay. “Susah mau bikin resor,” ujar Yuli, salah seorang pemilik penginapan. “Tanahnya milik Perhutani.”

Magrib menjelang dan surya menembakkan jingga. Atmosfer pantai kian melankolis. Tak ada pasangan, saya mengisi waktu dengan iseng membaca nama-nama perahu. Bahtera laut galibnya menyandang nama yang berwibawa atau romantis, sebut saja Dewaruci dan Felicia. Tapi nelayan di sini agaknya punya referensi nomenklatur yang berbeda. Saya coba menebaknya. Lorena? Mungkin dari bus malam. Sri Maju Jaya? Toko bangunan. Dua Saudara? Warung Padang. FC Barcelona? Selera yang buruk.

Pagi-pagi sekali, saya menyusuri Pantai Pulau Merah yang berujung di Desa Pancer. Menyewa perahu bermesin tempel, saya mengitari sebuah tanjung, memasuki teluk mungil, lalu merapat ke Wedi Ireng, pantai terpencil yang baru dua tahun terakhir tertulis di peta wisata.

Comments