Debut Altitude Grill

Mural khas Salt Grill yang masih tetap ada.

Ditinggalkan oleh Luke Mangan, restoran Salt Grill gulung tikar dan kini lahir kembali dengan nama dan konsep yang baru.

Teks dan foto oleh Yohanes Sandy

Di pengujung 2013, Luke Mangan, koki top asal Australia memulai debut bisnisnya di Indonesia. Menggandeng investor lokal, Luke membuka cabang Salt Grill pertamanya di Indonesia—cabang lainnya ada di Singapura dan Tokyo. Restoran yang bertengger di lantai 46 gedung The Plaza tersebut menuai banyak pujian serta melahirkan penggemar loyal.

Di pertengahan 2017, Luke Mangan mengakhiri kontraknya di Indonesia setelah nyaris tiga tahun menghadirkan hidangan-hidangan kelas dunia. Namun jangan khawatir. PT Intercontinental Culinary, partner lokal Luke, telah menyiapkan restoran pengganti yang tak kalah memikat, Altitude Grill.

Kiri-kanan: Interior Altitude Grill tak banyak mengalami perubahan; pemandangan kota Jakarta dilihat dari lantai 46 gedung The Plaza.

Seperti pendahulunya, Altitude Grill masih bersemayam di lantai 46 gedung The Plaza. Interiornya tak banyak berubah. Mural raksasa bergambar kawanan banteng dengan latar merah masih tersemat di salah satu dindingnya. Perubahan cukup signifikan terjadi di menu serta tim kulinernya.

Menghadirkan konsep kuliner anyar, Gary Eng ditunjuk sebagai Executive Chef. Sebelum bergabung dengan Altitude Grill, pria asal Singapura tersebut pernah bertanggung jawab di dapur The American Club Singapore. Untuk Altitude Grill, Gary fokus pada hidangan bakar yang didominasi oleh daging sapi berkualitas prima.

Kiri-kanan: Selada semangka bakar sebagai hidangan pemanasan; udang rebus yang disajikan dengan mayones Jepang serta irisan mangga dan apel.

Saya datang saat makan malam. Lampu gedung-gedung pusat kota Jakarta terlihat indah di balik kaca. Untuk pembuka, Gary menyajikan beberapa pilihan hidangan, namun yang menjadi favorit saya adalah apple mango and prawn cocktail, udang rebus yang disajikan dengan tobiko, mayones Jepang, dan peterseli dengan sentuhan potongan buah apel dan mangga di atasnya. Cita rasanya gurih berpadu dengan manis dan segar yang datang dari irisan apel dan mangga. Menu pembuka kedua yang saya suka adalah grilled watermelon salad, semangka bakar yang dihidangkan dengan keju feta, aragula, dan cuka balsamic berusia 25 tahun.

Untuk hidangan utama, pilihan jatuh pada steik porterhouse, yakni daging sher wagyu MBS 8/9 shortloin. Porsinya melimpah—satu porsi kira-kira 500 gram—dan terdiri atas potongan striploin dan tenderloin. Steik yang cocok untuk berbagi ini diiris dan disajikan langsung oleh koki di dekat meja. Dagingnya empuk, lumer di mulut, dengan hiasan lemak di tepiannya. Bagi mereka yang tidak terlalu suka dengan lemak, Gary menyarankan untuk mencoba steik picanha yang masuk kategori menu Individual Cuts. (Picanha merupakan daging bagian rump cap). Untuk menu ini, Gary menggunakan daging sher wagyu MBS 9+ yang diimpor dari Negara Bagian Victoria, Australia. Dagingnya sangat lembut dengan kandungan lemak yang minim. Sebagai hidangan pendamping, Altitude Grill menawarkan menu tambahan mulai dari jagung mentega, kacang polong tumis, hingga kentang goreng bertabur jamur truffle.

Guna menutup sesi makan, alih-alih menawarkan menu pencuci mulut, Altitude Grill mempersembahkan Dessert Corner, di mana tamu dapat menikmati hidangan penutup seperti kue dan es krim sepuasnya dengan harga Rp150.000++ per orang termasuk pilihan kopi atau teh. Menariknya, Dessert Corner ini juga terbuka untuk sesi afternoon tea maupun kunjungan biasa.

Menggantikan warisan pamor yang ditinggalkan oleh Luke Mangan lewat Salt Grill memang bukan perkara gampang. Namun PT Intercontinental Culinary bersama Gary Eng berhasil menghadirkan pengalaman kuliner yang berbeda—dan tentunya—memiliki kualitas tak kalah dengan apa yang telah dipersembahkan oleh Luke di Jakarta beberapa tahun belakangan ini. Altitude at The Plaza, lantai 46, Jl. M. H. Thamrin Kav. 28-30, Jakarta; 021/2992-2448; altitudegrill.com.



Comments

Related Posts

1477 Views

Book your hotel

Book your flight