Citra Baru Ao Dai

Seorang gadis yang mengenakan ao dai.

Kalah bersaing dengan busana modern, ao dai terus kehilangan penggemar. Guna menyelamatkannya, sejumlah desainer menempuh terobosan kreatif, mulai dari memadukannya dengan gaya kontemporer hingga mendirikan museum ao dai.

Teks & foto oleh Jennifer Lie

Ao dai tergolong budaya yang hilang,” jelas Victoria Vo, wanita Vietnam yang bekerja sebagai psikolog. “Gaun panjang ini sekadar simbol. Hanya perempuan yang bekerja di sektor pariwisata yang diwajibkan mengenakannya setiap hari.”

Ao dai, gaun ketat dengan bawahan yang menjuntai longgar, merupakan busana nasional Vietnam. Ibarat kebaya di Indonesia atau cheongsam di Tiongkok, ao dai memiliki reputasi mulia sebagai bagian dari identitas bangsa, karena itulah kaum perempuan mengenakannya dengan bangga.

Sayangnya, pamor ao dai kini telah jauh menyusut. Seperti diutarakan Victoria, gaun ini hanya diapresiasi dalam lingkup yang terbatas, dalam waktu yang terbatas, oleh kalangan yang terbatas pula. “Generasi sekarang memiliki perspektif yang berbeda terhadap ao dai,” tambah Victoria.

Salah satu penyebab memudarnya kejayaan ao dai adalah modernisasi. Seiring kian terbukanya Vietnam, tren mode global merangsek dengan leluasa. Bermodalkan strategi pemasaran yang canggih, merek-merek asing menggeser selera publik, memperkenalkan gaya hidup baru, membentuk nilai-nilai baru tentang apa yang menarik dan tidak.

Kiri-kanan: Ao dai kreasi Le Mur yang berhasil diselamatkan dan kini dipajang di Museum Ao Dai, Ho Chi Minh
City; Si Hoang, perancang busana, memperlihatkan karya pemenang lomba kreativitas ao dai yang diikuti anak-anak.

Tapi tak sepenuhnya salah modernisasi sebenarnya. Dibandingkan pakaian modern, ao dai memang kalah praktis dan modis. Dengan potongan yang erat membalut tubuh, dengan kain yang menjuntai hingga tumit dan bahannya yang memicu gerah, ao dai kesulitan mengimbangi ritme kehidupan modern yang dinamis. “Tidak mudah mengenakannya,” keluh Uyen Pham, seorang guru yoga. “Saat berjalan harus berhati-hati supaya tidak menginjak ujung kain. Saya pernah terjatuh hingga terguling di jalan.”

Ao dai kalah bersaing dan kian ditinggalkan. Digerus zaman, gaun ini menyusut menjadi simbol. Tapi harapan belum sepenuhnya padam. Sepanjang sejarahnya, gaun ini dikenal memiliki keluwesan untuk beradaptasi dengan perubahan. Alih-alih artefak yang membatu di suatu masa, ao dai sejatinya bagian dari kebudayaan yang bergerak.

Ao dai yang sekarang dikenal khalayak merupakan buah dari evolusi yang bergulir sejak abad ke-18. Desainnya terus diperbarui mengikuti pergantian kekuasaan, pertumbuhan ekonomi, pergeseran budaya, dan meningkatnya kesadaran gender.

Salah satu bentuk transformasi itu terlihat pada 1930 saat Cat Tuong, seorang pelukis asal Hanoi, bereksperimen dengan memadukan dua konsep pakaian dari dua budaya dan kelas ekonomi yang berbeda: Vietnam dan Prancis. Kreasinya disambut pasar. Pria yang lazim disapa Le Mur itu sukses menaikkan “derajat” pakaian keseharian perempuan lokal. Awalnya berwarna gelap dan longgar, ao dai bermetamorfosis menjadi gaun yang elok, cerah, dengan pola kain yang menarik.

Busana racikan Le Mur itu bertahan sekitar empat tahun. Akibat Perang Dunia II, cara pandang warga Vietnam berubah, termasuk dalam urusan sandang. Banyak orang kala itu melihat pakaian bergaya Barat sebagai bagian dari penjajahan. Bahkan kabarnya Le Mur ditangkap dan tidak pernah diketahui lagi keberadaannya. Kendati demikian, ao dai tidak sepenuhnya ditinggalkan. Di tengah antipasti terhadap model warisan Le Mur, seorang pelukis bernama Le Pho memodifikasi ao dai dengan menghilangkan nuansa Eropanya. Dia memperketat balutan kain pada area dada, serta memanjangkan kainnya hingga ke tumit. Desainnya bertahan sekitar 30 tahun, dan terus berpengaruh pada gaya ao dai yang sekarang dikenal publik.

Kiri-kanan: Contoh ao dai yang memadukan warna cerah; seorang penjahit di Ho Chi Minh City membentangkan kain
yang akan diolahnya menjadi ao dai melalui proses kerja selama satu hingga dua minggu, tergantung kerumitan desainnya.

Persepsi terhadap ao dai kembali berubah pada masa Perang Dingin. Kala itu, Vietnam terbelah dua dan sikap terhadap ao dai pun turut terbelah. Di Vietnam Utara yang berhaluan komunis, ao dai dianggap sebagai ornament kaum borjuis. Pada masa itu, insiden pembakaran ao dai terjadi berulang kali. Kondisi sebaliknya terlihat di Vietnam Selatan. Di Saigon misalnya, ao dai sangat populer. Perempuan mengenakannya saat keluar rumah. Bahkan ketika budaya hippie merangsek pada 1968, ao dai mampu melebur dalam tren dengan gaya yang lebih cerah dan modis, misalnya dengan dipadankan kacamata hitam.

Kini, di abad ke-21, ao dai menghadapi tantangan yang sepenuhnya berbeda. Perang sudah lewat dan ancaman terbesar terhadap ao dai bukan lagi penjajahan atau konflik ideologi, melainkan pergeseran selera. Menyadari fenomena itu, sejumlah orang mengambil inisiatif untuk memulihkan kejayaan ao dai.

Diego Cortizas, pria Spanyol yang menetap di Vietnam, menangkap celah bisnis untuk memperkaya desain ao dai: mengombinasikan langgam tradisional dengan sentuhan grafis, warna, motif, dan siluet yang kontras dan modern. Koleksinya kini dijajakan di butiknya yang berlokasi di Hanoi. “Kami mencoba mempertahankan esensi ao dai dalam setiap desain kami,” jelas Diego. “Visi kami adalah menjaga keseimbangan antara aspek modernitas dan tradisionalitas. Kami ingin dalam setiap ao dai tersirat cerita, puisi, dan lagu yang personal bagi klien.”

Eksperimen lainnya dipraktikkan oleh Si Hoang. Dosen seni yang beralih menjadi perancang busana ini mengusung moto yang cerdas: empati. Selama ini, ao dai dilihat sebagai lambang perempuan yang sehat. Gaun berbahan sutra, satin, dan pual ini ketat membalut tubuh, menonjolkan hampir tiap lekuk badan pemakainya, karena itulah Cuma perempuan bertubuh proporsional saja yang berani memakainya. Tapi, bagi Si Hoang, semua pakem itu tidaklah kaku. Agar bisa dikenakan lebih banyak orang, ao dai justru harus lebih fleksibel. Demi melayani kliennya yang mayoritas berusia 40-60 tahun dan sungkan mengenakan pakaian ketat, Si Hoang menciptakan ao dai tailor-made yang disesuaikan dengan postur pengguna. Sang perancang memang tidak terjebak pada aturan baku tentang ukuran panjang dan lebar pakaian. Dia lebih melihat ao dai secara filosofis: pakaian yang merepresentasikan kecantikan internal perempuan Vietnam yang ditandai oleh karakter kalem dan berbudi.

Kiri-kanan: seorang siswi di HCMC mengenakan seragam aoi dai putih; seorang gadis mengenakan ao dai berwarna cerah.

Di Vietnam, Si Hoang kini tersohor akan sepak terjangnya memasyarakatkan ao dai. Pencapaian monumentalnya adalah pendirian Ao Dai Museum di Ho Chi Minh City. Tempat ini memajang puluhan helai ao dai dari berbagai masa, termasuk ao dai ciptaan Si Hoang. Koleksinya yang terkenal ialah “ao dai ASEAN,” yakni 10 buah ao dai yang terinspirasi oleh busana tradisional dari 10 negara ASEAN, termasuk kebaya Indonesia.

Si Hoang juga bergerilya membentuk citra baru ao dai sebagai karya seni modern. Saban tahun, dia menanggap lomba melukis desain ao dai. Karya para pemenangnya kemudian dituangkan ke kain, lalu dibawa ke pergelaran-pergelaran busana. “Lomba ini sudah saya gelar di berbagai negara, seperti Jepang, Korea, Prancis, dan Amerika,” jelasnya.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November-Desember (“Evolusi Ao Dai”).



Comments

Related Posts

2440 Views

Book your hotel

Book your flight