Checking In: Myamo Beach Lodge

Mobil VW Kombi yang dipakai Myamo untuk mengantar tamu.

Properti jaringan internasional pertama telah hadir di Sumbawa Barat. Lokasinya di dekat titik selancar paling ekstrem di Selat Alas.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Putu Sayoga

—Lokasi
Myamo Beach Lodge diluncurkan pada pertengahan November 2016, tapi riwayatnya sebenarnya bisa ditarik hingga menembus satu dekade. Properti ini mengambil alih bangunan peninggalan Scar Reef, properti senior yang beroperasi pada awal 2000-an. Myamo bersarang di Desa Jelengah, pesisir barat Sumbawa Barat. Ada dua metode untuk menjang kaunya. Metode yang praktis: terbang ke Sumbawa Besar, kemudian berkendara selama tiga jam. Metode yang lebih menarik: terbang ke Lombok, berkendara selama dua jam ke Pelabuhan Kayangan, menaiki feri menuju Pelabuhan Benete sembari menikmati panorama gili yang berserakan di antara Sumbawa dan Lombok, lalu berkendara 30 menit ke resor.

Kiri-kanan: Interior di lobi yang didominasi warna putih dan pirus; fasad hotel yang berbentuk modern.

—Desain
Bangunannya didominasi cat putih dengan sentuhan pirus. Desainnya menyerupai hasil kawin silang antara rumah bergaya Mediterania dan pondok selancar khas daerah tropis. Tampilan tersebut melebur harmonis dengan lanskapnya: sebuah teluk yang dibingkai pantai kecokelatan.

Myamo dikelola oleh Private Sanctuary, grup asal Hong Kong dengan portofolio yang membentang hingga Filipina dan Kamboja. Bagi Sumbawa Barat, kehadirannya bagaikan suntikan protein untuk sektor pariwisata. Daerah ini mengoleksi banyak surf lodge, tapi semuanya berstatus properti independen.

Interior kamarnya sederhana namun berkarakter. (Foto: Myamo Beach Lodge)

—Kamar
Seluruh kamarnya ditata simpel. Air panas mengalir nonstop dari shower. Pendingin udara tersedia, begitu pula koneksi internet. Sentuhan menarik di kamar dihadirkan oleh bohlam yang disisipi speaker dan bisa dioperasikan dari telepon genggam. Kamar terbaik bertengger di lantai dua—tempat ideal untuk menyerap panorama Selat Alas. Tahun ini, pemilik properti berniat menambah fasilitas kolam renang dan area bermain anak. “Kami ingin menangkap pula segmen non-surfer, terutama turis keluarga,” ujar Key Amelia, General Manager Private Sanctuary untuk Nusa Tenggara Barat.

Kiri-kanan: Area bersantai di tepi pantai; Muhsan, pemandu selancar lokal.

—Aktivitas
Di musim ombak Juli hingga Agustus, titik-titik selancar di Sumbawa Barat selalu dikerumuni turis—terkecuali Scar Reef. Area yang berjarak sekitar 100 meter di lepas pantai Myamo ini kelewat mencemaskan bagi pemula: lautnya dangkal dan karang-karangnya lancip. Nama Scar Reef bahkan terinspirasi fakta bahwa mereka yang berselancar di sini hampir pasti mendapatkan oleh-oleh berupa sobek kulit. “Scar Reef cocok untuk yang berpengalaman. Kelly Slater dan Marlon Gerber pernah berselancar di sini,” ujar Muhsan, pemandu selancar. Di luar selancar, sejalan dengan niat membidik turis keluarga, Myamo telah memetakan sejumlah kegiatan alternatif, contohnya trekking, snorkeling, dan bermain golf.

Desa Jelengah, Sumbawa Barat; 0811-3908-006; myamolodge.com; mulai dari Rp900.000.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei/Juni 2017 (“Suaka Selancar”).



Comments

Related Posts

2705 Views

Book your hotel

Book your flight