Cerita Suram Tentang Sang Naga

Di balik suburnya bisnis pariwisata di Taman Nasional Komodo, perburuan liar masih berlangsung dan mengancam populasi komodo. Mungkinkah ekowisata menjadi solusi bagi konservasi?

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Putu Sayoga

Pantainya putih mulus bercampur jambon. Di interiornya yang hijau, puluhan rusa berpiknik di kaki pepohonan. Panorama Pulau Padar begitu menyihir mata. Tapi kita ingat, tempat ini sebenarnya menyimpan catatan kelam dalam sejarah konservasi di Indonesia. Mungkin yang paling kelam.

Sejak 1990-an, Padar rutin disatroni pemburu. Di malam hari, setelah generator listrik desa-desa sekitar dipadamkan, saat gulita mendekap pulau-pulau di barat Flores, kaum pemburu berkeliaran. Mereka mengendap-endap di hutan, menghunus senapan rakitan, membidik rusa-rusa liar yang merupakan sumber makanan komodo.

Acap kali, demi menggiring satwa, pemburu membakar hutan. Akibatnya fatal. Bayi-bayi komodo tak punya lagi serangga untuk dimakan.Tak ada lagi pohon untuk berlindung dari kanibalisme komodo dewasa. Hasil akhir dari semua itu menyayat dunia: komodo di Padar dinyatakan punah. Itu kesimpulan tahun 2000. Sembilan tahun sebelumnya, Taman Nasional Komodo distempel sebagai Situs Warisan Dunia.

Kawanan rusa tengah berteduh di bawah pohon di Pulau Padar, di pulau ini komodo sudah dinyatakan punah.

Di taman Jurassic ini, komodo memang menguasai piramida makanan. Tapi di tangan manusia, spesies yang telah bertahan hidup selama 40 juta tahun itu bisa dihapus dalam semalam.

Saya memasuki Padar dengan perasaan takjub sekaligus prihatin. Tiba di Pos Polisi Kehutanan, beberapa orang berbincang seraya menanti sajian makan siang. Pulau ini dijaga empat jagawana—hanya empat orang untuk pulau berbukit yang luasnya setara gabungan Gili Trawangan, Meno, dan Air. “Perburuan masih terjadi, tapi angkanya sudah jauh berkurang. Bisa satu hingga dua kali per bulan,” kata Abdul Hamid, Kepala Pos.

Kemiskinan sering dituding sebagai akar masalahnya. Banyak pihak mengklaim, pemburu merangsek dari kantong-kantong papa di timur Sumbawa. Kita pun menangkap pesan penting: Taman Nasional Komodo bukanlah kawasan yang sepenuhnya terisolasi. Permasalahan di luar pagar zona suaka bisa dengan mudah merembes dan berimbas.

Tapi perburuan tak bisa dilihat dari sisi yang tunggal. Menjadikan ketimpangan pembangunan sebagai penjelasan final berpotensi mengaburkan masalah. Desa-desa di taman nasional juga dijangkiti kemiskinan, namun warganya tak lantas jadi pemburu. Jagawana sebenarnya telah lama mencium keberadaan organisasi hitam yang mengendalikan perburuan. Orang-orang sibuk menghitung rusa yang ditembak, tapi lupa bertanya ke mana daging mengalir dan oleh siapa peluru dipasok.

“Saya tidak percaya 100 persen masalahnya cuma kemiskinan,” kata Abdul Hamid lagi. “Perburuan terorganisasi rapi. Satu ekor rusa dijual antara Rp2-3 juta per ekor. Ini bisnis besar. Ada penadahnya. Mereka juga punya senjata.”

Padar kini telah pulih. Rumput kembali melapisi bukit. Rusa berkembang biak. Setahun silam, seekor komodo merayap di pantainya. Kata Balai Taman Nasional, komodo itu datang dari pulau tetangga, Rinca, yang hanya terpisahkan oleh sebuah selat sempit. Bau bangkai rusa mungkin terbawa angin ke sana dan terendus sang predator. Jika argumen itu akurat, dugaan komodo mampu berenang terbukti sahih.

Bagaimanapun, kepunahan komodo di Padar masih menyisakan pertanyaan.Secara geografis, pulau ini harusnya paling mudah diawasi, paling aman. Padar terjepit dua pulau utama—Rinca dan Komodo. Lokasinya persis di jantung taman nasional. Sangat beralasan jika banyak pihak cemas tragedi di sini terulang di pulau lain.

“Pada 1990-an, pemburu membawa anjing. Sejak 2000-an, anjing tak lagi dipakai, sehingga gerakan mereka kian sulit dideteksi,” ujar Yusuf, jagawana di Labuan Bajo. Dan pemburu bukan cuma piawai menyelinap, tapi juga sangat beringas. Kontak senjata dengan petugas beberapa kali terjadi. Yusuf masih ingat peristiwa 1996. Suatu pagi, dia menghampiri sebuah perahu nelayan yang mencurigakan. Perahu itu langsung kabur sembari menembaki petugas.

Kiri-kanan: Polisi hutan di Pulau Komodo yang siap menghalau pemburu rusa; pantai di Gili Motang.

Di titik inilah sejumlah kalangan mempertanyakan eksistensi Taman Nasional Komodo. Apa gunanya memiliki zona perlindungan jika tak ada perlindungan? Pertanyaan yang lebih klasik lagi: di manakah peran negara? Adakah oknum yang bermain dalam bisnis daging rusa? Pertanyaan-pertanyaan terus terlontar. Protes berkelindan dengan prasangka. Dan kita dibiarkan menebak-nebak kebenaran dalam gelap, karena perburuan kerap tak diusut tuntas.

Di pulau-pulau yang jauh dari pantauan, kekhawatiran akan gencarnya perburuan kian kuat. Menaiki kapal kayu Komodo Indah, saya meluncur ke zona selatan taman nasional. Yusuf, jagawana taman nasional, mendampingi saya dalam ekspedisi di sarang Smaug ini. Selain dia, ada nakhoda dan empat ABK.

Di sebuah selat cupet, arus kencang menghadang. Nakhoda memacu mesin, tapi perahu masih terdiam. Rasanya seperti sedang treadmill: berlari, tapi tak melaju. Saya datang di pertengahan Maret, periode pancaroba di mana arus sulit diprediksi. Bulan depan, rumput mulai menguning, lalu menjadi cokelat digoreng matahari. Bukit-bukit yang hari ini mirip lahan bermain Teletubbies akan berubah jadi Middle Earth. Saat suhu di puncak kemarahannya itu, kita akan berjalan—meminjam kata-kata Yusuf—“dengan punggung membawa api.”

Dua jam berselang, Komodo Indah mendekati pelataran Pulau Nusa Kode. Kapal pinisi milik operator diving Seven Seas terlihat sedang terparkir.Memang cuma penyelam yang sudi berkelana sejauh ini. Di Nusa Kode, tak ada pos jagawana, tak ada rute trekking, dan sinyal telepon raib sepenuhnya. Pulau ini berada di luar radar mayoritas turis, tapi masih tercantum dalam peta pemburu.

Mengutip data pemerintah, Nusa Kode dihuni 99 ekor komodo. Saya hendak trekking, tapi perahu gagal merapat akibat air dangkal. Tak ada yang bisa dilakukan selain menanti komodo lewat di pantai. Sebuah penantian yang dibalut kedamaian.

Di belahan selatan taman nasional, bumi seolah terlelap. Alam begitu senyap, layaknya selembar foto yang tak mewakili seribu kata kecuali kesunyian. Sesekali terdengar lantunan tokek hutan. Suaranya memantul-mantul di lereng yang membentang bagai benteng jemawa. Barangkali lelah tersiksa oleh keheningan, nakhoda memutar lagu-lagu berbahasa Bajawa. Liriknya berbicara tentang kasih tak sampai dan kerinduan pada kampung halaman. Orang Flores, kendati parasnya bisa membuat bayi menangis, sebenarnya punya hati yang melankolis. Mendekati tengah malam, lampu kapal dimatikan dan saya kembali dipeluk sepi. Bintang-bintang terlihat lebih terang, bersaing dengan plankton yang berserakan di laut.

Pagi datang dan komodo belum juga tampak. Menurut Irvi, mantan dive master Seven Seas, komodo dulu selalu berkerumun di pantai saat mencium kehadiran kapal. Di mana mereka kini?

Gagal melihat komodo, saya ke Gili Motang, pulau paling selatan dalam gugusan taman nasional. Kapal meniti tepian Selat Sumba, melewati pantai-pantai yang jarang diinjak pelancong. Mendekati Gili Motang, terlihat empat perahu berlabuh. Selang 200 meter, ada tiga perahu lagi. Nelayan atau pemburu? Sulit dipastikan. Kawanan lumba-lumba yang timbul-tenggelam di permukaan laut mengalihkan perhatian saya. Bagi mereka, pagi ini lebih layak dirayakan ketimbang diisi kecurigaan.

Kapal melempar sauh di muka pesisir berbatu. Saya berjalan tertatih ke pulau dengan dada berisi harap dan debar. Sebelum trip ini, saya sempat mendengar kisah komodo di Gili Motang yang gemar berkeliaran di pantai untuk menyantap sampah-sampah sisa makanan penyelam. Namun hari ini pantai sedang tak berpenghuni. Satu-satunya tanda kehidupan adalah jejak panjang yang saya temukan di pantai: kombinasi garis tipis bergelombang dan empat cakaran kaki. Seekor komodo sepertinya baru menghabiskan pagi dengan berjemur di atas pasir, lalu mudik ke hutan.“Komodo muda, umurnya dua tahun,” jelas Yusuf, jagawana dengan pengalaman hampir tiga dekade.

Membuntuti jejak komodo bukan pilihan bijak. Vegetasi hutan cukup rapat. Ilalang dan semak berduri berjejalan di lantainya. Hanya mengenakan celana renang dan sandal jepit, saya tak berani menembus rahim pulau. “Kami datang ke sini terakhir Oktober 2013,” kenang Yusuf. “Tim kami pasang tujuh umpan dan camera trap, tapi tak ada komodo yang terlihat.”

taman nasional yang berbatasan dengan Selat Sumba.

Gili Motang berada di posisi yang paling rentan, teronggok di sudut terjauh taman nasional. Pemburu bisa mengaksesnya tanpa terdeteksi dari banyak arah.“Ukuran populasi komodo di Gili Motang sangat kecil, namun saya tidak dapat menyatakan kondisinya kritis atau tidak,” ujar Dr. Evy Arida, peneliti herpetologi LIPI. Merujuk statistik resmi, komodo di sini memang susut kronis: dari 131 ekor di 2008 menjadi hanya 63 di 2012. Hantu kepunahan di Padar kembali bergentayangan.

Dihadapkan pada ancaman perburuan yang akut, pemerintah sebenarnya tak cuma pasrah. Pada 1996, mereka mengundang The Nature Conservancy. Bersama Balai Taman Nasional, LSM kakap asal Amerika itu mengerek sebuah rezim galak yang memberangus perikanan dan perburuan ilegal. Patroli digiatkan. Celah-celah kejahatan dipersempit.

Mereka juga mendirikan Putri Naga Komodo, perusahaan yang mengendalikan bisnis ekowisata dan segala turunannya. Mimpinya luhur: mengubah taman nasional menjadi ekosistem ekonomi yang mandiri. Dana-dana dari turisme dimanfaatkan untuk mencetak pemandu, menggaji intelijen, dan melatih perajin suvenir. Anggarannya mencapai $10 juta dolar, separuhnya disetor oleh Bank Dunia.

“Waktu itu, aturan ketat sekali, seperti zaman penjajahan,” ujar Patricius Nijjy, nakhoda Komodo Indah, yang pernah menjadi nelayan. “Tiap perahu diperiksa. Saya bahkan pernah sekali dihukum kerja paksa menyusun batu di pos jaga karena lupa melapor saat mencari ikan.” Tapi Patricius bukan hendak mengeluh.Dia melihat berkah positif dari ketatnya aturan. “Memang harus begitu agar taman nasional tetap terjaga.”

Di atas kertas, gebrakan The Nature Conservancy menorehkan catatan gemilang. Nelayan-nelayan pengguna dinamit dan potasium ditangkap. Dua gembong pemburu, Haji Karim dan Musa, disergap. Pada 2012, Balai Taman Nasional menulis laporannya dengan tinta emas: pencurian hasil laut berkurang drastis; perburuan liar absen sejak 2008; populasi komodo, kecuali di Gili Motang, berlipat dalam kurun empat tahun.

Statistik wangi itu ditanggapi beragam. Fakta lapangan tak selalu sejalan. Semua orang yang saya temui yakin, perburuan rusa masih berlangsung. Hingga hari ini, menurut lembaga IUCN, komodo belum beranjak dari status “rapuh.”

Comments