Cawan Labirin

  • Pemuda setempat menyusuri lorong dengan sepedanya.

    Pemuda setempat menyusuri lorong dengan sepedanya.

  • Mural dan pelang restoran di salah satu sudut kota.

    Mural dan pelang restoran di salah satu sudut kota.

  • Panorama dari Beit el-Ajaib, struktur tertinggi di Stone Town.

    Panorama dari Beit el-Ajaib, struktur tertinggi di Stone Town.

Click image to view full size

Stone Town, tanah kelahiran Freddie Mercury dan bekas pelabuhan budak, menebarkan pesonanya lewat kombinasi antara budaya Afrika Timur dan situs-situs bersejarah.
OLEH LEE YU KIT

Stone Town. Membiarkan diri tersesat di jalan-jalan labirinnya lebih mudah ketimbang menahan pesonanya. Situs Warisan Dunia ini terletak di Unguja, Pulau Zanzibar. Awalnya, saya ragu untuk menjelajahinya, sebab semua jalan-jalannya terlihat mirip. Gang-gang terpancar ke segala arah dan gedung-gedung menyempil di kedua sisinya bagaikan dinding ngarai, hampir tanpa jeda kecuali bagi segaris langit biru di atas kepala. Meski begitu, setiap belokan dan sudut itu menyimpan teka-teki yang mendorong saya kian larut dalam pengelanaan: wanita-wanita yang menjajakan beragam rempah eksotis; jalur-jalur sunyi yang dihiasi pintu-pintu kayu berukir; kafe yang konsisten menebarkan aroma teh dan kopi.

Saya menyapa seorang warga dan menanyakan kabarnya pagi ini: “Habariyaasubuhi?” “Dzury!” jawabnya dalam bahasa Swahili. “Good!” tambahnya dalam bahasa Inggris yang lancar, “Where are you from?”

Mendengar bahasa Inggris cukup mengejutkan, tapi kota historis ini memang telah lama menjadi cawan akulturasi beragam budaya. Lahir sebagai permukiman nelayan, Unguja, Ibu Kota Zanzibar dan tempat Stone Town berada, secara konstan menerima pengaruh yang dibawa oleh angin timur Samudra India. Penjelajah asal Portugis, saudagar India, pedagang Persia, penjajah Jerman, duta kerajaan Inggris, juga warga Indonesia dari seberang samudra, semuanya singgah di gugusan pulau di lepas pantai Tanzania ini, dan semuanya meninggalkan jejak. Proses persilangan kultur di antara mereka masih berlangsung hingga kini. Saya menemui wanita India yang berbalut sari, orang Eropa yang telah lama menetap, perempuan Muslim dalam burkak, warga Afrika dengan jubah kemerahan, serta turis-turis pembawa kamera dari penjuru bumi.

Jika segala eksotisme itu dikesam-pingkan, hikayat Stone Town sebenarnya terbilang banal. Namanya terinspirasi dari para pelaut Portugis yang berlabuh di sini pada akhir abad ke-15, lalu mendirikan rumah dari batu coralline. Merekalah yang merintis kampung nelayan Shangani, yang selama ratusan tahun kemudian merekah menjadi kota kaos akibat para pendatang terus membangun tanpa sistem tata kota yang terencana maupun regulasi.

Pendatang Arab dan India memper-kenalkan pintu kayu berukir dengan ambang atas dan bingkai tiang, ornamen yang kini jamak di seantero kota. Paku kuningan yang menghiasi pintu merupakan warisan dari India di mana paku lazim digunakan untuk menangkal serangan gajah—walau hewan dari ordo Pachyderm sebenarnya terlalu gemuk untuk jalan-jalan cupet Stone Town.



Related Posts

4221 Views

Book your hotel

Book your flight