
Oleh Fatris M.F.
Foto oleh Muhammad Fadli
Tujuh puluh kilometer di timur Kota Mataram, segaris pantai membentang dalam warna jambon layaknya spanduk di Hari Valentine. Di dasar lautnya, karang beraneka warna tumbuh dan menyediakan rumah bagi banyak satwa. Jauh di interior pulau, Rinjani bagai perempuan yang menopang dagu dengan kabut tipis melingkari lehernya.
Masyarakat di sini menyebutnya Pantai Pink, meski sejatinya ia bernama Pantai Tangsi. Untuk menjangkaunya, saya menghabiskan dua jam berkendara menyusuri jalan kecil yang kedua sisinya kerap rusak. Jalan ke surga memang tidak mudah. Di bagian barat Lombok, jalan-jalan jauh lebih mulus. Kehadiran resor-resor premium dan limpahan turis di sana telah memaksa lahirnya infrastruktur yang mumpuni. Kondisinya sangat kontras dibandingkan kawasan timur yang hanya dilirik segelintir pelancong dan pengusaha.

Perahu kecil melintas ke arah ujung tanjung yang hijau untuk menurunkan penumpang, lalu berputar dan ditambatkan kembali di pasir Tangsi. Sebenarnya hanya sebagian partikel pasir di sini yang berwarna merah muda. Namun, saat mentari membuka matanya dan hendak tertidur, warna itu terlihat dominan membalut pantai.
Gerimis turun tergesa dan sore pun menjemput malam. Para pemburu karang menyembul dari laut. Para pengunjung pantai beranjak. Tangsi mulai sepi, dan memang selalu sepi, layaknya tempat-tempat eksotis lainnya di belahan selatan dan timur Lombok. Tapi kondisi ini mungkin akan berubah dalam beberapa tahun lagi. Sejumlah investor berencana menyulap kawasan selatan dan timur menjadi destinasi luks yang diisi kompleks resor, taman rekreasi, bahkan sirkuit Formula 1—agenda yang dicanangkan usai kehadiran bandara internasional baru di Lombok Tengah.
Saya datang sebelum semua proyek mercusuar tersebut direalisasikan; sebelum pantai-pantai ajaib semacam Tangsi dibanjiri turis dari penjuru bumi. Eksplorasi saya di hari-hari berikutnya menjelaskan mengapa beberapa tempat indah sebaiknya dibiarkan minim struktur beton.
Kerbau-kerbau memenuhi sabana, padang rumput hijau kekuningan yang terbentang luas sejauh mata memandang. Kerbau-kerbau adalah pusaka Suku Sasak yang diwariskan dari generasi ke generasi, sebagaimana tradisi penggembala yang bertahan berabad-abad lamanya di sini. Tiap senja, ribuan kerbau merumput di padang Kaliantan. Kerbau-kerbau dengan genta yang terbuat dari kayu dan selalu berbunyi ketika pemakainya bergerak. Bunyinya khas, menyerupai nada rendah angklung di Jawa sana.

“Nyale sebentar lagi akan muncul,” kata Mardian, seorang penggembala. Kepalanya dibalut kain tenun khas Lombok. Garis-garis warna pada motif kain merefleksikan kelembutan lanskap sabana. “Apa itu nyale?” tanya saya menyalip diskusi. Mardian terdiam, menghela napas, lalu tersenyum ringan. “Di balik ujung bukit kecil itu, ada satu rumah persis di kelokan. Jangan sungkan datang ke sana,” ia memaksa kami untuk berkunjung ke rumahnya.
“Kapan pastinya nyale akan muncul?” saya mendesak minta kepastian. “Jika perhitungannya lengkap, bulan dan bintang tak berseteru dalam kalender kami, nyale akan keluar,” kata lelaki paruh baya itu sembari menukikkan pandangan ke ujung tanjung, di mana ombak selatan menghantam bebatuan dan mengirimkan gemuruh ke udara.
Dalam mitologi Sasak, nyale merupakan jelmaan Putri Mandalika, wanita yang cantiknya bukan alang kepalang. Di ujung usia remajanya, demikian kata si empunya cerita, Putri Mandalika meminta dipersunting. Tak peduli siapa orangnya asalkan gagah dan perkasa. Sang ayah, Sekar Kuning, penguasa tanah Lombok, kemudian mengadakan sayembara untuk mencari jodoh bagi putrinya. Singkat cerita, panitia berhasil menjaring tiga lelaki yang memenuhi kriteria.
Dihadapkan opsi sulit, sang putri cantik ragu. Ia tak sanggup memilih. Di tengah kebingungan, Mandalika lenyap, atau mungkin melenyapkan diri, dengan meninggalkan sebuah janji yang telanjur diucapkan: “Saya akan menjumpai kalian di pantai ini, dalam wujud lain.”

Semusim setelah janji diikrarkan, pada cuaca yang ganjil, ketika bulan berpendar merah dan angin berkesiur tak tenang, Kaliantan dipenuhi cacing yang menyembul begitu saja dari bawah pasir. Cacing, yang dalam bahasa setempat disebut nyale, dipercaya warga sebagai inkarnasi sang putri. Barangkali untuk merayakan mitologi itu, kaum lelaki dan perempuan Sasak berkerumun di Kaliantan tiap tanggal 10 bulan 10 dalam kalender Sasak. Hari itu akan tiba tiga minggu lagi. Hari yang akan menagih janji sang putri.
Di hari mistis itu, masyarakat datang untuk berebut nyale yang berserakan di sepanjang Kaliantan. Mereka yakin, cacing-cacing itu dapat membawa berkah bagi yang memakannya. Pasangan-pasangan akan langgeng dalam kasih dan cinta. Rezeki bakal berlimpah dan nasib baik terus menyertai. “Kau akan melihat gadis-gadis Lombok yang jarang tersengat matahari keluar dari dusun-dusun,” tutur Mardian.
Awalnya putri ultracantik yang labil dalam menentukan sandaran hati, Mandalika berubah menjadi simbol harapan. Mitos kerap tak lahir begitu saja dari kehampaan, melainkan sengaja diciptakan sebagai solusi atas problem kehidupan. Tak ada catatan sejarah yang valid atas Mandalika. Tapi warga tidak membutuhkannya. Mereka memelihara sang putri dalam tradisi yang dihidupkan tiap satu hari per tahun. Lombok, pulau yang didominasi penganut Islam, memiliki dimensi spiritual yang tidak bersumber semata dari langit ataupun kitab suci.

Mardian menghalau kawanan kerbau yang hendak menuju pantai. Kerbau-kerbau itu bergerombol dengan lenguhan yang bersahut-sahutan. Saya meninggalkan mereka, lalu melintasi karang terjal yang menjorok ke laut bagai untaian renda selendang gadis-gadis Sasak. Bagian atas karang ditutupi rerumputan hijau bergelombang, di mana puluhan kerbau merumput di bawah komando penggembala jemawa yang bersenjatakan tongkat dan cemeti.
Jauh di bawah jurang terjal yang berlapis-lapis, ombak selatan yang ganas menampar karang tanpa ampun. Suara hantamannya saling bersahutan dengan cericip burung di dahan-dahan pohon. Berada di tanjung paling ujung di selatan Lombok Timur, berhadapan langsung dengan Samudra India, saya seakan masuk ke dalam bait-bait puisi Huesca yang ditulis John Cornford pada 1940-an, ketika perang saudara berkobar di Spanyol. “Di batu penghabisan ke Huesca, pagar terakhir dari kebanggaan kita, kenanglah sayang, kau kubayangkan di sisiku ada.” Setelah itu, ia gugur diterjang peluru.
Di tubir Tanjung Ringgit, meriam tua mengarahkan moncong besarnya ke laut lepas. Meriam itu dari zaman Kolonial, mungkin peninggalan Jepang, atau kompeni dagang Hindia Belanda. Sebuah meriam berkarat yang diwariskan masa lalu.

Meriam besar sisa Perang Dunia II itu dikelilingi bunker-bunker yang terkubur tanah. Drama penjajahan tidak kalah semarak dalam hikayat Lombok. Patih Gajah Mada dengan pasukan perangnya yang kolosal lebih dulu menginvasi pulau ini. Lalu berturut-turut datang armada laut Portugis yang memburu rempah, kompeni Belanda yang bercokol berabad-abad lamanya, hingga serdadu Nippon yang menganeksasi dan memorak-porandakan pulau ini semasa Perang Pasifik.
Saya terus menelusuri bagian ujung Tanjung Ringgit. Batu-batu apung memenuhi ujung tanjung yang runcing menjorok ke laut ini. Barangkali batu-batu tersebut dikirim dari letusan Gunung Tambora berabad-abad silam—letusan yang menyemburkan jutaan ton abu vulkanis ke angkasa hingga menutupi mentari. Abu itu tidak hanya menggelapkan langit Nusantara, tapi juga langit Eropa—periode yang disebut “masa ketiadaan matahari” oleh para sejarawan. Gunung Tambora, yang siang ini tampak samar, hanya dipisahkan oleh Selat Alas dari tempat saya duduk.
“Ctessz….” Cemeti dipecut ke udara guna mengusir kerbau dari rerumputan di pinggir tebing terjal. Seorang penggembala tua yang baru saja tiba mendekati saya, lalu bercerita tentang riwayat puaknya sebagai penggembala. “Saya, ayah saya, kakek saya, bapak kakek saya, semuanya penggembala,” katanya dengan setengah tersenyum.

Dari ujung tanjung, jalan setapak terbentang menuju sebuah gua. Di mulutnya, stalaktit menjumbai bagai dekorasi pada atap panggung teater. Inilah gua yang dalam mitologi Sasak telah mengubah hidup masyarakat di Lombok Timur. Di perutnya bersemayam tujuh raksasa bengis berwarna hitam, yang ditumbangkan oleh seorang lelaki penggembala setengah dewa—Dayan Medaran. Berkatnya, para penggembala tak perlu cemas kerbau-kerbau mereka akan dimangsa monster yang konon hampir tiap purnama menuntut tumbal.
Saya kini berada di atas perahu bercadik milik Kunduk, lalu bertolak dari Resor Bumbangku yang menghadap Teluk Bumbang, menuju Gerupuk. Di antara bukit-bukit karang, Gili Golo mengapung sendirian. Sosoknya seperti kumparan benang, sesuai dengan namanya, “golo”, yang berarti kumparan dalam bahasa Sasak.
“Di sini, saya seperti berada di kampung halaman,” kata Glen Moriarty, seorang pembawa acara program perjalanan di sebuah stasiun televisi Australia. Wanita yang berasal dari Negara Bagian Victoria itu satu perahu dengan saya. “Lihat batu-batu itu,” ujarnya seraya menunjuk ke karang terjal di lepas Pantai Gerupuk. “Bentuknya sangat mirip dengan Twelve Apostles. Hanya saja di sini jumlahnya lebih sedikit.”

Glen hanyalah satu dari banyak peselancar yang terpikat oleh gelombang-gelombang di Gerupuk. Ombaknya, yang terdiri dari beberapa kategori, sangat cocok untuk semua jenis peselancar, baik pemula maupun kawakan. Tapi yang lebih istimewa dari Gerupuk adalah, para peselancar tidak perlu berebut ombak. Semua mendapat giliran masing-masing. “Di sini tidak ada kompetisi untuk mendapatkan ombak,” tegas Glen.
Di tepi sebuah pulau karang di Gerupuk, di musim tertentu, penyu-penyu berdatangan untuk bertelur di pantai. Pada musim yang lain, segerombolan rusa akan menyeberangi selat dangkal yang memisahkan pulau itu guna mencari padang rumput. Saya teringat gurauan seorang warga Sasak: “Tinggallah di sini beberapa bulan, maka kamu akan melihat bahwa semua makhluk di Lombok bisa berenang.”
Lombok berada di perbatasan biogeografis antara Indo-Melayu dan bagian timur Nusantara. Demarkasi itu disebut Garis Wallace, julukan yang diambil dari sang pencipta, Alfred Russel Wallace, seorang eksplorator yang mangkat persis 100 tahun silam. Ia dikenang dunia atas jasanya memetakan alam Indonesia sekaligus menginspirasi teori pamungkas Darwin. Satwa-satwa di Lombok menampakkan kekhasannya tersendiri yang memukau saya yang datang dari bagian barat Indonesia.
Wallace, Glen dari Australia, dan Bernie Ecclestone sang petinggi F1 mungkin akan sepakat, pesisir Lombok sebaiknya tidak diisi sirkuit balap.
Orang-orang Bugis punya peran penting di bandar-bandar pelelangan ikan di Nusa Tenggara Barat, termasuk di Lombok. Sebelum matahari muncul di ufuk timur, saat embun sedang bertengger di dedaunan, kaum yang menginspirasi istilah “Boogie Man” itu telah mengangkat pukat dan membawa beragam jenis ikan ke daratan.
Tanjung Luar merupakan semenanjung kecil di mana pelelangan ikan dikuasai perempuan. Laki-laki berprofesi sebagai nelayan, sementara pialang atau makelar ikan didominasi kaum Hawa. Mereka membentuk sebuah perserikatan dengan tugas yang jelas.
Nelayan hanya mengantar ikan hingga ke pinggir pantai, dan ketika perahu-perahu mereka belum benar-benar merapat, gerombolan perempuan menghampiri untuk merebut keranjang-keranjang ikan. Banyak dari mereka bahkan menyongsong perahu hingga beberapa meter ke dalam laut, hingga membuat seluruh pakaian mereka kuyup. Pantai di sini bagai sebuah tapal batas antara kekuasaan laki-laki dan serikat perempuan makelar ikan.

Ikan-ikan ditangkap di Samudra India dan Laut Flores. Jenisnya bervariasi, dari hiu hingga tuna. Kontroversi menyelimuti bisnis di sini. Sejumlah aktivis sudah lama memprotes penangkapan hewan yang berstatus dilindungi. Tapi teriakan mereka seolah tertelan angin yang meniup kapal-kapal nelayan.
Semua hasil tangkapan bermuara ke bandar di Tanjung Luar, tempat pelelangan ikan terbesar di Lombok, dan mungkin yang paling berisik di dunia. Para pialangnya adalah perempuan-perempuan yang mulutnya bagai mesin tempel pada kapal nelayan. Teriakan dan tawa mereka berkelindan memekakkan telinga.
“Mereka tidak pernah berkelahi sebagaimana laki-laki, walau tiap sebentar bertengkar karena permainan harga,” kata lelaki tua yang menyandarkan perahunya dan membiarkan perempuan-perempuan perkasa “merampok” tangkapannya, kemudian memberikan beberapa lembar rupiah seakan telah menyetujui harga. Dengan baskom warna-warni yang menampilkan nama pemiliknya dalam huruf patah-patah, infanteri perempuan itu mengangkut sumber hidup mereka ke balai pelelangan.
Dalam dua jam, pelabuhan yang tadi dipenuhi kaum ibu dan perempuan muda, berubah menjadi serakan jejak di pasir. Surya telah bertengger di atap, mengeluarkan semburat putih dan menyinari arakan awan yang berundak.

Di kompleks makam Selaparang, saya beristirahat sejenak usai setengah jam perjalanan dari Labuan Lombok. Makam-makam di sini dibuat dari batu yang disusun. Pohon kamboja dan bunga sedap malam menaungi dan mengeluarkan wewangian. Ada sekelompok peziarah dari Narmada, daerah kecil di Pulau Lombok. Namanya mengingatkan saya pada Sungai Narmada, satu dari tujuh sungai suci di India.
Ada enam makam yang statusnya menonjol di kompleks ini. Mereka diyakini warga sebagai makam para penghulu kerajaan. Pusara Raja Selaparang hanya berbentuk nisan kecil. Ada juga makam Gajah Mada dari jajaran batu bundar. Benarkah patih pemersatu Nusantara itu dimakamkan di sini? Sulit dipastikan, tapi demikianlah anggapan penduduk.
Masuknya Hindu memunculkan beberapa imperium di Lombok. Yang paling terkenal adalah Kerajaan Selaparang. Kerajaan tersebut ditundukkan Majapahit melalui ekspedisi Gajah Mada pada abad ke-14. Lalu, secara silih-berganti, Bumi Sasak mengalami peralihan kekuasaan hingga era Islam yang gilang-gemilang melahirkan Kerajaan Islam Selaparang. Saya menebak-nebak makam Raja Selaparang di hadapan saya. Apakah dari era Hindu atau Islam? Sekali lagi, dokumentasi sejarah Lombok sulit dilacak.

Tak jauh dari makam Raja Selaparang dan pengawal-pengawalnya, juga makam Gajah Mada yang teduh, terdapat makam Dewi Anjani, sang putri raja, yang dikelilingi sawah. “Beberapa peziarah ada yang melihat Dewi Anjani dalam wujud perempuan tua berambut panjang,” kata Lalu Nurjani, seorang pengamat sejarah.
Tak berapa lama, para peziarah dari Narmada membakar kemenyan yang mengeluarkan aroma wangi yang purba. Asap mengepul ke sela-sela kuburan. Mereka membaca beberapa ayat dari kitab suci Alquran bersama-sama. Suara magisnya merayapi dinding makam.
Di ujung sana, Gunung Rinjani hanya bisa dilihat sampai pinggangnya. Puncaknya lancip dan tertutup awan hitam yang menggumpal. Saya keluar dari kompleks makam, meninggalkan Lalu Nurjani di berugak, pondok kecil yang tak terpisahkan dari arsitektur tradisional masyarakat Sasak. Hujan deras mengantarkan saya ke dusun-dusun terpencil di kaki gunung.
Di ketinggian 1.400 meter, di antara kayu-kayu hutan yang ditumbuhi lumut, saya menyeruput kopi untuk menghalau dingin. Angin kering yang menusuk tulang, berembus dari balik bukit menuju Lembah Sembalun. “Rinjani tidak boleh didaki untuk tiga bulan ini,” seorang lelaki berkata tegas di depan warungnya. Akhirnya saya hanya berjalan mengitari Desa Sembalun. Rumah-rumah tersebar menghadap Rinjani.
Rinjani tak boleh didaki, saya mengulang dalam hati. Padahal saya telah memilihnya sebagai penutup trip usai berpindah-pindah dari tanjung ke tanjung. Di kaki gunung, hutan-hutan yang dibalut kabut mengurung saya dalam alam khayal tentang nirwana yang dipercikkan ke bumi Sasak.
PANDUAN
Rute
Sejak akhir 2011, bandara di Lombok telah dipindahkan dari Mataram ke Lombok Tengah. Penerbangan ke sini dilayani antara lain oleh Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com) dan Lion Air (lionair.co.id). Berhubung akses masih cukup terbatas, metode paling praktis untuk menjelajahi kawasan timur Lombok adalah menggunakan kendaraan sewaan. Tarif mobil sewaan mencakup sopir dan bahan bakar mulai dari Rp400.000 per hari. Kawasan timur Lombok sebetulnya bisa didatangi kapan saja, tapi waktu terbaik adalah musim kemarau, dari April hingga September. Di musim hujan, perjalanan ke kawasan pegunungan kemungkinan terhalang longsor, dan jalan tanah menuju Pantai Tangsi serta Tanjung Ringgit agak licin.
Penginapan
Karena industri pariwisata belum berkembang di kawasan timur dan selatan, pilihan penginapan sangat terbatas. Sekitar 20 menit dari bandara terdapat Novotel Lombok (Mandalika Resort, Pantai Putri Nyale, Pujut, Lombok Tengah; 0370/615-3333; novotel.com; doubles mulai dari Rp1.208.487), penginapan premium pertama dan satu-satunya di selatan Lombok, setidaknya sebelum kompleks Resor Mandalika rampung dibangun. Di sinilah para peselancar umumnya bermalam sebelum menjajal ombak-ombak yang dikirimkan Samudra India. Opsi lain adalah Bumbangku Lombok (Dusun Bumbang; 0370/620-833; 0819/0787-1311; bumbangkulombok.com; doubles mulai dari Rp350.000) di sisi tenggara pulau, persisnya di Teluk Bumbang—basis yang ideal untuk menjelajahi kawasan tenggara dan timur.
Aktivitas
Senantiasa diterjang gelombang, kawasan selatan merupakan destinasi selancar yang paling populer di Lombok. Kuta, Tanjung Aan, Gerupuk, dan Selong Belanak adalah beberapa pantai yang lazim didatangi kaum pemburu ombak internasional. Salah satu tempat di selatan Lombok yang menyediakan peralatan dan kelas selancar adalah KimenSurf (Jl. Raya Kuta-Mawun; 0370/655-064; kuta-lombok.net). Lombok juga memiliki sejumlah festival budaya. Dua yang terbesar adalah Bau Nyale di Februari dan Perang Topat di antara November dan Desember. Mereka yang berstamina prima bisa meneruskan petualangan dengan menyelam di perairan pulau-pulau kecil di timur, contohnya Gili Sulat dan Gili Pentangan, atau mendaki ikon langit Lombok, Gunung Rinjani, yang menjulang 3.726 meter. Jika ingin mendaki, hubungi Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (Jl. Arya Banjar Getas, Lingkar Selatan, Ampenan, Lombok Barat; 0370/660-8874; rinjaninationalpark.com).
Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret-April 2013 (“Bumi, Sasak, Manusia”).

