Budaya & Sepak Bola Spanyol Utara

Di Basque, sepak bola tak cuma bagian integral dalam kehidupan sosial, tapi juga menawarkan jendela untuk memahami kebudayaan lokal, mulai dari hasrat nasionalis, persaingan gender, hingga tradisi kuliner yang melegenda.

Kiri-kanan: Dijuluki master New Basque Cuisine, Juan Mari Arzak adalah koki restoran Arzak yang memiliki tiga bintang Michelin dan berlokasi di San Sebastian; kolam renang di pusat kebudayaan dan rekreasi Azkuna Zentroa rancangan Philippe Starck.

Sepak bola memang kerap terpaut dengan politik. Ada banyak contohnya. Di Austria, klub Hakoah bergerilya sebagai duta propaganda Yahudi di Eropa. Di Skotlandia, rivalitas Celtic dan Rangers mencerminkan perebutan hegemoni antara penganut Katolikdan Protestan. Kita juga ingat, timnas Korea Utara memanfaatkan sepak bola sebagai corong untuk mengagungkan pemimpin besar mereka. “Dia [Kim Jong-il] memberi pertahanan yang lebih hebat ketimbang 1.000 bek dan 10.000.000 kiper,” ujar Ri Myong-guk, penjaga gawang Korut dalam Piala Dunia 2010.

Apa yang dilakukan Real Sociedad dan Athletic pada 1976 bisa diletakkan dalam kerangka politik serupa. Di bawah rezim Franco, jangankan membawa Ikurrina, warga bahkan dilarang menuliskan nama berbahasa Basque dalam akta kelahiran mereka. Hanya lewat sepak bola mereka menemukan celah perlawanan. Stadion-stadion di sini laksana suaka terakhir bagi warga untuk menyalurkan aspirasi di ruang terbuka. “Klub Athletic Bilbao dan Real Sociedad,” tulis Franklin Foer dalam buku How Soccer Explains the World, “adalah wadah satu-satunya bagi penduduk Basque untuk mengekspresikan martabat budayanya tanpa harus berakhir di penjara.”

Kondisinya kini memang sudah jauh berubah. Franco telah lama mangkat dan Basque terbebas dari cengkeram penindasan. Saya sempat menonton derby Athletic versus Real Sociedad. Tak ada lagi yang perlu diselundupkan. Tak tercium bau ketakutan. Alih-alih, yel dan rapsodi Euskara berkumandang santer sepanjang pertandingan. Bendera Ikurrina tak cuma berkibar di tribune, tapi juga dijahit di tengkuk seragam tiap pemain.

Patung Maman kreasi Louise Bourgeois di pelataran Guggenheim Bilbao.

Selepas San Sebastian, saya mengunjungi Eibar. Di perjalanan, bus kembali melewati desa-desa fotogenik yang sukar dilafalkan namanya: Larrabetzu, Etxano, Muntsaratz, dan Bakixa. Sesampainya di tujuan, saya langsung menangkap kesimpulan Eibar sebenarnya lebih cocok disebut desa besar ketimbang kota kecil. Populasinya cuma 27.000 jiwa, setara satu kelurahan di Jakarta. Di sini hanya ada dua hotel, salah satunya baru diresmikan tiga bulan sebelum kedatangan saya.

Mula-mulanya saya singgah di Ipurua, markas klub SD Eibar. Stadion ini kelewat mungil untuk standar LaLiga. Kapasitasnya lebih sedikit dari mendiang Stadion Lebak Bulus. Atapnya begitu pendek sampai-sampai mereka yang menetap di apartemen sekitar bisa menonton gratis dari balkon. Kendati begitu, menurut lelucon lokal, ukuran kecil itu justru menyimpan berkah. Banyak fan klub besar rutin datang ke Ipurua demi menonton bintang pujaan dari jarak dekat, barangkali terlampau dekat. Jarak lapangan dari kursi baris terdepan hanya dua langkah. Saya bisa membayangkan bersin penonton menciprati wajah Lionel Messi atau Gareth Bale.

SD Eibar adalah klub muda yang baru merumput pada 1940. Galibnya klub berkocek pas-pasan, ia merangkak penuh keringat dari divisi terbawah. Pada 2014, ketika akhirnya menembus divisi utama, klub ini tak punya dana pokok yang disyaratkan pengurus La-Liga, hingga pemiliknya terpaksa meluncurkan kampanye urun dana. Sejak itu, SDEibar dimiliki oleh 11.000 pemegang saham yang tersebar di 69 negara. Lebih pas disebut paguyuban ketimbang klub sebenarnya.

Tapi meski sosoknya memprihatinkan, SD Eibar cukup dihormati. Musim 2017, klub kuda hitam ini bertengger di posisi kesembilan dalam klasemen akhir, mengangkangi dua tetangganya yang jauh lebih sugih, Athletic dan Real Sociedad. Prestasi itu jelas menggemparkan. SD Eibar telah membuktikan uang bukan segalanya di sepak bola. Lebih dari itu, klub ini juga turut membangkitkan isu kesetaraan gender. Di Spanyol, SD Eibar merupakan satu-satunya klub yang dipimpin oleh perempuan. Tak hanya presidennya, bahkan direktur eksekutif dan sekitar separuh pengurusnya juga perempuan.

Kiri-kanan: Martín Berasategui, koki asal San Sebastian yang mengoleksi bintang Michelin terbanyak di Spanyol; sukses membawa SD Eibar ke posisi sembilan pada musim 2017, CEO Patricia Rodriguez turut membangkitkan debat klasik tentang sistem sosial matriarkal di Basque.

Penting diketahui, orang Basque dicirikan oleh karakternya yang tangguh, pemberani, dan ceplas-ceplos—beberapa atribut yang memang khas masyarakat pesisir. “Saat membuat kesepakatan,” kata Mikel Barcena, seorang pengusaha lokal, “kami tidak perlu menulis perjanjian dan membubuhkan tanda tangan, melainkan cukup berjabat tangan. Kami berbeda dari orang selatan.”

Bukti-bukti keperkasaan orang Basque juga bisa ditemukan dalam arsip sejarah. Juan Sebastian, orang pertama yang mengelilingi dunia (dia kapten kapal ekspedisi Ferdinand Magellan yang berhasil pulang selamat), berasal dari Basque. Lirik dalam Eusko Gudariak, lagu nasional Basque, juga mencerminkan tabiat jantan serupa: “Kami pasukan Basque; akan membebaskan Basque Country; kami menyiapkan darah kami; demi mewujudkan misi itu.”

Uniknya, kontras dari kulturnya yang maskulin, Basque sebenarnya menganut sistem sosial matriarkal. Keputusan-keputusan strategis rumah tangga diambil oleh pihak istri dan ibu. Dalam konteks itu, SD Eibar bukan semata memberi contoh sempurna dari keunikan budaya Basque, tapi juga memperlihatkan pengembangannya di dunia modern. Perempuan tak hanya bisa berjaya di lingkup domestik, tapi juga andal di sektor yang didominasi pria. “Saat awal memulai, kondisinya berat. Kerap pendapat saya tidak didengar. Saya juga merasakan tekanan untuk membuktikan wanita bisa mengurus klub sepak bola,” kenang Patricia Rodriguez, Chief Executive SD Eibar. Koleganya yang bergerak di bidang komunikasi, Arrate Fernandez, kemudian dengan tegas menambahkan: “Tak usah dipertanyakan lagi tentang peran perempuan. Ini tanah matriarkal.”

Museum Cristobal Balenciaga di kota pesisir Getaria, tanah kelahiran Balenciaga.

Hari terakhir di Basque, saya melawat kota Vitoria-Gasteiz. Lokasinya di sisi tengah Basque, berbeda dari Bilbao yang melebar di tepi muara atau San Sebastian yang menatap laut. Tata kota Vitoria-Gasteiz juga lebih condong ke prinsip mandala khas warisan Abad Pertengahan. Di jantungnya menjulang sebuah katedral neogotik dengan jalan-jalan yang melingkar di sekitarnya seperti spiral.

Vitoria-Gasteiz berstatus Ibu Kota Basque. Jika kita belum pernah mendengar namanya, itu mungkin karena ia tak memiliki landmark yang mercusuar. Tapi bukan berarti kota ini menjemukan. Di sini ada banyak taman dan ruang publik. Jalur sepedanya membentang rapi dan bangku rehat tersebar hingga pelosok. Berkat komitmennya pada pengurangan emisi, Vitoria-Gasteiz pernah didaulat sebagai European Green Capital.

Sebagaimana para tetangganya, sepak bola merupakan agama tak resmi terbesar di Vitoria-Gasteiz. Klub lokalnya bernama Deportivo Alaves. Tak banyak yang bisa diceritakan darinya, kecuali bahwa Alaves merupakan klub medioker yang pernah hampir bangkrut akibat korupsi, hingga akhirnya diselamatkan oleh klub bola basket—sebuah anomali untuk standar Spanyol, di mana biasanya justru klub sepak bola yang menaungi klub bola basket.

Hari ini saya datang bukan untuk menggali kisah Alaves, melainkan semata menontonnya bertanding melawan sang raksasa Real Madrid, klub pujaan saya. Sebagaimana galibnya, tiap pertandingan diawali oleh pesta kuliner. Saat para atlet sibuk meregangkan otot, para penonton melakukan pemanasannya sendiri dengan melompat dari satu kedai ke kedai lain untuk menikmati pintxo, tapas khas lokal. Di sebuah restoran, saya menyantap piquillo (paprika merah), tortilla de patata (omelet kentang), serta pimiento verde (cabai hijau dengan minyak zaitun).

Menjelang magrib, saya memasuki Stadion Mendizorrotza bersama ribuan orang berkaus biru-putih khas Alaves. Pengurus LaLiga memberikan saya akses VIP, tapi ruangan VIP di sini berbentuk kotak kaca yang steril dari ingar-bingar penonton. Merasa seperti ikan di akuarium, saya pun memutuskan pindah ke barisan suporter fanatik yang berjejal di belakang Thibaut Courtois, kiper Real Madrid.

Warga lokal menikmati pantai di San Sebastian, salah satu kota termahal di Spanyol yang dulu menjadi destinasi liburan keluarga kerajaan Spanyol dan kini dihuni banyak pensiunan.

Wasit meniup peluit dan laga dimulai. Atmosfernya buncah dan meriah, sementara saya dihinggapi paranoid. Sepanjang pertandingan, saya mencoba menahan diri dari bertepuk tangan untuk Real Madrid, juga ekstra hati-hati ketika memotret Gareth Bale dan Luka Modric. Mendadak, seorang pendukung Alaves yang berbadan gempal menatap saya dengan paras murka seperti mendapati seorang mata-mata, lalu berteriak-teriak meminta saya ikut menyanyi.

Saya melihat sekeliling. Pendukung Alaves begitu kompak dan bergairah, terus melompat dan berdendang tanpa lelah. Mereka seperti umat yang tulus menyemangati para nabinya yang sedang berjibaku. Iman mereka begitu dalam, hingga pelan-pelan saya tergoda untuk menjadi mualaf dengan ikut mendukung Alaves. Pada detik-detik terakhir, doa mereka terkabul. Gol bersarang di gawang Courtois. Alaves menang. Saya pulang dengan lega karena berhasil memotret Bale dan Modric.

PANDUAN

Rute
Basque Country bersemayam di utara Spanyol, menatap Teluk Biscay, dan berbatasan dengan Prancis. Kota Bilbao, gerbang udaranya, dilayani antara lain oleh Air France (airfrance.com), KLM (klm.com), Lufthansa (lufthansa.com), dan Turkish Airlines (turkishairlines.com). 

Informasi
Hampir setiap kota (juga desa) di Basque memiliki klub sepak bola. Empat di antaranya yang paling terkenal ialah Athletic (athletic-club.eus), Real Sociedad (realsociedad.eus), Eibar (sdeibar.com), serta Deportivo Alaves (deportivoalaves.com). Klub-klub kaya memiliki stadion yang megah, sementara kunjungan ke klub-klub kecil membawa kita merasakan keakraban dan kesederhanaan. Informasi tentang jadwal pertandingan mereka terpajang di situs LaLiga (laliga.es), sementara untuk informasi lain seputar objek wisata, klik situs Dinas Pariwisata Basque (tourism.euskadi.eus).

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Maret 2019 (“Basque via Bola”).

Comments