Budaya & Sepak Bola Spanyol Utara

Di Basque, sepak bola tak cuma bagian integral dalam kehidupan sosial, tapi juga menawarkan jendela untuk memahami kebudayaan lokal, mulai dari hasrat nasionalis, persaingan gender, hingga tradisi kuliner yang melegenda.

Stadion Ipurua, markas SD Eibar, yang dipotret dari apartemen di dekatnya.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Markel Redondo

Bilbao, kota terbesar di Basque Country, tersohor sebagai destinasi kuliner. Kota ini mengoleksi sembilan restoran berbintang Michelin, statistik yang impresif mengingat populasinya hanya 340.000 jiwa. Sebagai testimoni akan reputasinya, pada 2018 Bilbao terpilih sebagai tuan rumah malam penghargaan World’s Best 50 Restaurants, semacam Piala Oscar di dunia restoran.

Tapi wisata kuliner di Bilbao tidak berarti harus menyambangi satu demi satu restorannya. Anda cukup datang ke Stadion San Mames. Di sini, setiap kali klub sepak bola Athletic bertanding, penonton bisa mencicipi aneka kreasi dari koki-koki restoran Michelin setempat. Saat saya datang, juru masak yang bertugas ialah Josean Alija dari restoran Nerua. Masakannya bisa disantap gratis, sepuasnya, asalkan memegang tiket VIP yang harganya setara UMR Jakarta.

Ini lawatan pertama saya ke Basque. Saya datang Oktober silam atas undangan pengurus LaLiga. Bagi pembaca yang awam, LaLiga adalah liga sepak bola Spanyol. Dua klub kondang Real Madrid dan FC Barcelona berlagadi dalamnya—dan tujuan LaLiga mengundang saya ialah mempromosikan klub-klub lain di luar kedua klub perkasa itu. “Agar LaLiga lebih populer di dunia, maka publik mesti mengenal klub-klub lain di luar Real Madrid dan FC Barcelona,” jelas Chief Communications Officer LaLiga, Joris Evers, pria berdarah Bandung-Belanda.

Harapan Joris tentu saja tidak saya penuhi karena dua alasan. Pertama, saya bekerja untuk majalah wisata, bukan tabloid olahraga. Kedua, saya penggemar berat Real Madrid. Demi memastikan Joris—yang sudah susah payah berbahasa Indonesia—tidak kecewa, saya mengajukan solusi kompromi. Saya akan berkelana di Basque bukan untuk memahami klub sepak bolanya, melainkan bagaimana klub sepak bolanya membantu saya memahami Basque.

Kiri-kanan: Ipurua, stadion kecil berkapasitas 6.285 penonton yang menjadi markas SD Eibar, klub muda yang dimiliki oleh 11.000 pemegang saham di 69 negara; sempat dilarang di zaman Francisco Franco, Ikurrina, bendera nasional Basque, kini berkibar bebas, bahkan dijahit di punggung seragam pemain sepak bola.

Basque Country, jika Anda belum pernah mendengarnya, berbeda dari Spanyol yang kita kenal. Ia melintang di utara, berbatasan dengan Prancis. Dulu, Basque sejatinya sebuah bangsa yang mencakup pula kawasan di Negara tetangganya itu. Dari sinilah nama French Basque Country berasal. Didier Deschamps, manajer timnas sepak bola Prancis, merupakan salah satu produk ekspor terbaiknya.

Basque luasnya sekitar 10 kali Jakarta, tapi populasinya cuma 2,2 juta jiwa. Warganya berbicara dengan bahasanya sendiri yang dinamai Euskara. Ini bukan varian dari bahasa Spanyol. Euskara adalah rumpun yang sepenuhnya berbeda. Sebagai contoh: “muralla,” bahasa Spanyol untuk “tembok,” ditulis “harresia” dalam bahasa Basque. Contoh lainnya: “salida” (keluar) menjadi “isteera.”

Ada kalanya terjemahan itu membingungkan, terutama jika diterapkan pada nama orang atau tempat. Pada sehelai baliho Museum Guggenheim Bilbao misalnya tertulis judul pameran “Van Goghetik Picassora,” artinya “Van Gogh to Picasso.” Bahkan kata “Basque” dalam bahasa lokal juga sebenarnya ditulis berbeda: Euskadi.

Segala perbedaan distingtif itulah yang dulu memicu hasrat memisahkan diri. Di ujung abad ke-19 berdiri partai nasionalis PNV yang mengusung agenda otonomi. Organisasi yang lebih keras, ETA, mengampanyekan separatis melewat aksi kekerasan. Setidaknya 800 nyawa melayang akibat teror ETA, dan saya datang hanya enam bulan setelah mereka mengumumkan meletakkan senjata.

Eksplorasi saya dimulai di Bilbao, gerbang udara Basque. Dulu, kota tepi sungai ini berperan sebagai pusat galangan kapal dan pabrik baja. “Sewaktu saya kecil, langit Bilbao tidak pernah gelap di kala malam, tapi selalu jingga akibat nyala api dari pabrik-pabrik baja,” kenang Santiago, pria lokal kelahiran 1974. “Polusi udara di sini dulu sangat parah.”

Di ujung abad ke-20, sebagaimana kota industri tua lainnya di Eropa, Bilbao kehilangan daya saingnya akibat menjamurnya pabrik bertenaga murah di Dunia Ketiga. Perlahan, kota ini beralih peran menjadi jantung finansial dan perdagangan. Tapi ada satu hal yang unik dari transformasinya itu, yakni besarnya peran arsitek. Bilbao bisa dibilang adalah kota yang diselamatkan oleh desain.

Kiri-kanan: Zubizuri (“jembatan putih”) rancangan Santiago Calatrava yang melintang di atas Sungai Nervion, Bilbao; salah satu camilan pintxo, tapas khas lokal, di kedai A Fuego Negro, San Sebastian.

Mereka yang datang via jalur udara akan mendarat di terminal yang dirancang oleh arsitek kenamaan Santiago Calatrava. Jika naikkereta, penumpang akan keluar dari cangkang kaca garapan Norman Foster. Menyusuri Sungai Nervión, kita akan menemukan pulau yang sedang dibangun oleh firma ZahaHadid. Sementara di dekat hotel saya terdapat pusat kebudayaan yang didesain oleh desainer terpandang Philippe Starck.

Dari semua proyek itu, satu yang berdampak paling signifikan ialah Museum Guggenheim Bilbao. Diresmikan pada 1997, museum rancangan Frank Gehry ini berjasa vital membalik nasib Bilbao yang sedang terpuruk. Pakar tata kota menyebutnya “Bilbao Effect,” yakni proses di mana institusi budaya mengembalikan pamor kota sekaligus menarik investasi dan turis. Kasus Bilbao jugalah yang mendorong banyak kota mengambil inisiatif serupa, contohnya Abu Dhabi yang juga mewaralaba Guggenheim.

Uniknya, jika model pembangunan kotanya berorientasi ke depan, tradisi sepak bola Bilbao setia menengok ke masa silam. Athletic, klub kebanggaan kota ini, memandang dirinya sebagai garda bagi kemurnian identitas Basque. Sejak diresmikan 120 tahun silam, Athletic konsisten memakai hanya pemain lokal. Aturan ini awalnya didefinisikan ketat untuk pemain kelahiran Basque. Belakangan, aplikasinya lebih luwes dengan mencakup pula alumni akademi sepak bola lokal.

Model rekrutmen berbasis kedaerahan itu adalah kasus langka, terutama di zaman ketika tiap klub bersaing menggaet bakat hebat dari penjuru bumi demi mengejar laba dan piala. Selain Athletic, mungkin hanya Chivas de Guadalajara di Meksiko yang menerapkannya.  “Con cantera y afición, no hace falta importación,” begitu moto yang dianut Athletic. Terjemahan bebasnya: “Bermodalkan bakatdan dukungan lokal, kami tak butuh impor.”

Menurut pakar politik Dr. Jiří Zákravský, sikap primordial Athletic tidak bisa dilepaskan dari riwayatnya. Identitas nasional Basque tumbuh bersamaan dengan dimulainya demam sepak bola, dan partai nasionalis PNV sengaja menunggangi sepak bola sebagai wadah untuk menjaring simpatisan. Tiga anggota PNV bahkan pernah menjabat presiden Athletic. “Klub sepak bola lokal, khususnya Athletic, merupakan medium yang fungsional untuk menyebarkan identitas Basque,” tulis Zákravský dalam makalah bertajuk Basque National Football Team as a Political Tool.

Baca juga: Menikmati Burano, Venesia Versi Sepi; 3 Tempat Wisata Unik di Ibu Kota Kroasia

Pantai La Concha di kota San Sebastian, markas klub Real Sociedad.

Kolusi struktural antara partai dan klub kemudian memang dilarang, namun ikatan politisnya masih lestari. Kebijakan rekrutmen Athletic masih berlaku. Walau tidak tertulis dalam anggaran dasar klub, tak seorang pun berani melanggar aturan itu, dan sepertinya memang belum ada alasan kuat untuk melakukannya. Athletic, bersama Barcelona dan Real Madrid, belum pernah turun kelas dari divisi utama. “Tiga tahun lalu kami mengadakan survei, dan 95 persen anggota klub lebih suka terdegradasi ketimbang merevisi kebijakan rekrutmen,” jelas Borja Gonzalez, Stadium Business Manager Athletic.

Meninggalkan Bilbao, saya meluncur ke kota San Sebastian di sisi timur. Ini rute yang populer dalam sirkuit turis berkat panoramanya yang fotogenik. Selama 70 menit, bus saya melewati perbukitan cadas, rumah-rumah petani yang menyendiri di pundak bukit, serta desa-desa sunyi yang meringkuk di dasar lembah. Mendekati tujuan, bus menyusuri pesisir dan melewati Getaria, kampong halaman Cristobal Balenciaga.

San Sebastian, atau Donostia dalam bahasa Basque, adalah kota pesisir yang cantik dan kalem. Di sini tidak ada keramaian. Pagi dimulai dini dan malam ditutup lekas, karena memang tidak ada kelab malam. Di tepi kota membentang pantai cantik berbentuk bulan sabit. Saat saya datang, beberapa wanita sedang berjemur dengan bertelanjang dada dan seorang pria berjalan bugil di pasir cokelat susu. Terdengar seksi memang, walau dari jumlah lipatan di tubuh mereka, saya bisa menebak usia mereka di atas 60 tahun. Merujuk statistik, lebih dari seperempat warga San Sebastian berstatus pensiunan.

Di peta wisata, pamor San Sebastian baru merekah selepas Olimpiade Barcelona 1992. Menurut gosip lokal, penyebabnya adalah solidaritas warga Barcelona pada agenda separatis Basque. Merekalah yang giat merekomendasikan para penonton Olimpiade untuk mengunjungi San Sebastian. Sebelum itu, kota ini lebih dikenal sebagai tempat liburan keluarga kerajaan Spanyol—salah satu alasan kenapa harga properti di sini sangat mahal, bahkan mungkin yang termahal di seantero negeri. Kata Thomas, seorang pemandu lokal, satu rumah sederhana di sini dibanderol minimum €4 juta.

Gerbang stasiun metro Bilbao yang dirancang oleh Norman Foster.

Seperti Bilbao, San Sebastian memiliki klub sepak bola yang berkompetisi di divisi utama LaLiga—Real Sociedad. Saya sempat mampir ke pusat latihannya. Sebuah pengalaman yang berharga tentunya, berhubung di sinilah kita bisa melihat para selebriti dari jarak dekat, kadang berbincang basa-basi dengan mereka. Pagi ini, Illarramendi lewat di depan saya. Setelah itu, muncul Sandro Ramirez. Saya juga menanti Adnan Januzaj, bintang asal Belgia, tapi dia ternyata dibekap cedera.

Real Sociedad sempat menerapkan model rekrutmen yang serupa dengan Athletic. Pada 1989, kebijakan itu dianulir ketika mereka mengontrak striker John Aldridge asal Liverpool. Alasan perubahan itu ialah kian ketatnya persaingan memikat pemain lokal. Basque mengoleksi puluhan klub, dan beberapa rutin masuk di divisi utama. “Kami sekarang memiliki 10 pemain asing,” jelas Roberto Olabe, Football Director Real Sociedad. “Tapi secara total 85 persen pemain masih berasal dari Basque.”

Dalam konstelasi sosial LaLiga, jika Athletic dipandang mewakili kelas buruh, Real Sociedad merepresentasikan golongan elite. (Terminologi Real berarti “Royal,” menandakan klub ini dinobatkan oleh keluarga ningrat.) Derby Basque, julukan untuk duel yang mempertemukan Athletic dan Real Sociedad, senantiasa sengit. Kendati begitu, pertalian genealogis sebagai duta Basque membuat keduanya tak pernah benar-benar bermusuhan. Bahkan pernah suatu kali para pemainnya berkongsi dalam aksi politik melawan penindasan rezim.

Alkisah, menjelang Derby Basque pada 5 Desember 1976, gelandang tengah Josean Uranga nekat menyelundupkan Ikurrina, bendera nasional Basque, ke ruang ganti Real Sociedad. Dia berniat mempertontonkannya di lapangan. Kelar perundingan internal yang mendebarkan, teman-temannya sepakat mendukung aksinya, lalu mereka mengajak pemain Athletic untuk terlibat. Beberapa menit kemudian, kedua kapten klub memasuki lapangan dengan membentangkan Ikurrina. Segenap penonton pun terperanjat, sebagian bertepuk tangan dan menangis histeris. Melihat kondisi itu, polisi bergeming. Sebulan kemudian, pemerintah Spanyol melegalkan Ikurrina, dan sejarah baru pun tercipta dari lapangan hijau.

Kisah itu saya kutip dari Football & Identities in the Basque Country, buku karangan Alejandro Quiroga. Untuk menghadirkan konteks bagi pembaca, di masa kekuasaan diktator Francisco Franco, semacam Soeharto versi Spanyol, Ikurrina dilarang. Membawanya ke stadion sama bahayanya dengan membawa bendera GAM ke pertandingan Persiraja Banda Aceh di zaman Orde Baru.

Comments