Berpetualang di Halmahera Tengah

  • Warga Desa Sepo memperlihatkan kepiting rawa berukuran jumbo yang didapatnya.

    Warga Desa Sepo memperlihatkan kepiting rawa berukuran jumbo yang didapatnya.

  • Menuju Batu Lubang menggunakan ketinting membelah arus deras.

    Menuju Batu Lubang menggunakan ketinting membelah arus deras.

  • Bila sungai terlalu dangkal, perahu harus ditarik.

    Bila sungai terlalu dangkal, perahu harus ditarik.

  • Dinding gua yang dihiasi stalaktit dan stalagmit indah.

    Dinding gua yang dihiasi stalaktit dan stalagmit indah.

  • Stalagmit berbentuk mirip mahkluk Dementor yang dikenal penduduk lokal sebagai Batu Sembahyang.

    Stalagmit berbentuk mirip mahkluk Dementor yang dikenal penduduk lokal sebagai Batu Sembahyang.

  • Deretan perahu di Muara Sagea.

    Deretan perahu di Muara Sagea.

  • Penduduk menyeberangi Sungai Sagea menggunakan sampan tradisional.

    Penduduk menyeberangi Sungai Sagea menggunakan sampan tradisional.

  • Burung Kakaktua Merah Halmahera. Aktivitas birdwatching bisa menjadi opsi kegiatan seru.

    Burung Kakaktua Merah Halmahera. Aktivitas birdwatching bisa menjadi opsi kegiatan seru.

  • Sarang semut yang terbuat dari buah.

    Sarang semut yang terbuat dari buah.

  • Untuk menjangkau tempat tujuan dibutuhkan mobil berpenggerak empat roda karena jalannya yang buruk.

    Untuk menjangkau tempat tujuan dibutuhkan mobil berpenggerak empat roda karena jalannya yang buruk.

  • Senja di pesisir Desa Sepo.

    Senja di pesisir Desa Sepo.

  • Karang lunak yang melambai-lambai di sisi Pulau Tete.

    Karang lunak yang melambai-lambai di sisi Pulau Tete.

Click image to view full size

Konsep pariwisata baru dikenal dan turis sangat minim. Tapi mungkin karena itulah Halmahera Tengah menarik dijelajahi.

Teks & foto oleh R. Heru Hendarto

Bila sungai terlalu dangkal, perahu harus ditarik.

Kata-kata Taufik terus terngiang. Dia berbicara tentang gua yang interiornya dipercantik ornamen natural. “Kitorang main Batu Lubang saja ka? Bagus dia punya ornamen itu!” katanya. Untuk menjangkau gua, dia hendak meminjam ketinting, perahu kayu bermesin tempel. Dengan membonceng sepeda motor, saya meluncur ke Desa Sagea. Tubuh terus terguncang. Roda berjuang menapaki tanah keras yang kadang diselingi batu, kadang dikubur lumpur. Setengah jam kemudian, penderitaan itu berakhir, tapi ekspedisi masih jauh dari selesai. Sebuah ketinting telah menanti. Dua kru dan enam batang obor sudah disiapkan untuk etape kedua.

Malam harinya, saya hendak mencari tahu lebih banyak tentang Batu Lubang. Sayangnya, kabel internet belum tersambung ke tempat terpencil ini. Sumber informasi yang tersedia hanyalah cerita rakyat dan foto-foto pada kalender yang sudah dua tahun kedaluwarsa. Kata warga, perjalanan ke  atu Lubang akan membawa saya menyusuri sungai, menembus tebing, lalu memasuki mulut gua yang konon tak berujung. Petualangan seru tampaknya telah menanti.

Desa Sagea berada di tepian timur Kecamatan Weda, sebuah daerah yang terjepit di selangkangan pulau berbentuk huruf “K”—Halmahera. Di wilayah utara Nusantara ini, di mana sinyal GSM kerap samar dan kendaraan umum beroperasi hanya sekali sehari (jika tidak hujan), komunikasi verbal memegang peran utama dalam menyebarkan berita. Dari berita yang melompat mulut ke mulut itulah saya mengetahui Batu Lubang memiliki nama alias: Boki Moruru. Artinya kurang-lebih, “putri yang menghanyutkan diri.” Alkisah, di Sungai Sagea, seorang putri dari Kesultanan Tidore pernah mandi sambil menghanyutkan diri mengikuti arus sungai hingga ke hilir. Di Maluku Utara, legenda tak bisa lepas dari imperium-imperium Islam yang dulu menguasainya. >>



Comments

Related Posts

9810 Views

Book your hotel

Book your flight