Berburu Gili

Meno, Air, dan Trawangan masih populer. Tapi pesaing baru mulai bermunculan di barat daya Lombok.

Oleh Raden Haryo Suryadi
Aerial videography oleh Hamim Thohari

Lombok, pulau di tepi Garis Wallace, mengoleksi lebih dari 30 gili, istilah lokal untuk “pulau kecil.” Untuk saat ini, tiga yang paling kondang ialah Gili Meno, Air, dan Trawangan. Trio yang lazim disingkat Gili Matra ini telah lama tercantum dalam sirkuit turis. Mengunjunginya, juga snorkeling di antara ketiganya, merupakan paket excursion tour yang marak ditawarkan di Bali. 

Tapi beberapa gili lain kini mulai tertangkap radar turis, terutama mereka yang bertaburan di pesisir barat Lombok dan menghadap Bali. Gili Nanggu adalah contohnya. Pulau yang bersemayam di barat daya Lombok ini sudah memiliki penginapan yang membidik segmen keluarga. Gili Nanggu bisa dijangkau menaiki perahu kayu dari Pelabuhan Tawun dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.

Bertetangga dengan Gili Nanggu ialah Gili Sudak, pulau yang juga telah memiliki penginapan—Nirvana Resort. Restoran tepi pantai di resor ini merupakan persinggahan populer banyak pelancong berkat panoramanya yang fotogenik. Usai menyantap makan siang, tamu diundang bermain kano dan snorkeling.

Baca juga: Alasan Baru ke Karma Reef Gili Meno; Menjemput Senja di Gili Trawangan

gili trawangan
Turis menunggu senja di Gili Trawangan. (Foto: Kaur Martin)

Tur island hopping ke Gili Nanggu dan Sudak ditawarkan para operator perahu di Pelabuhan Tawang dengan tarif Rp270.000. Tur ini lazimnya digabung dengan lawatan singkat ke Gili Kedis, pulau mungil yang sebenarnya lebih mirip gosong (pulau pasir). Kecuali beberapa batang pohon di jantungnya, Gili Kedis tak berpenghuni. Kita bisa mengelilinginya dengan berjalan kaki dalam waktu singkat.

Selain trio Nanggu, Sudak, dan Kedis, kawasan barat daya Lombok masih menyimpan sejumlah gili lain dengan lanskap atraktif, contohnya Gili Layar, Asahan, dan Gede. Yang terakhir ini bahkan telah dihuni empat penginapan, salah satunya Via Vacare, resor elok yang memikat turis asing dengan motonya yang unik: “the art of doing nothing.”

Comments