Beach Club Pertama di Sanur

Tempat baru di tepi pantai yang menatap Gunung Agung.

DestinAsian Indonesia
Arsitektur berbahan bambu dan kayu kreasi Penjor Bali Mandiri, firma yang pernah menggarap Finns Beach Club.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto Johannes P. Christo

Untuk standar Sanur, sosoknya seperti alien. Kontras dari gerai-gerai tetangganya yang berbentuk rumah tua yang guyub, Artotel Beach Club (ABC) tampil bugar dengan desain yang energik dan trendi. Kompleks seluas 7.000 meter persegi ini dihuni bangunan bambu dua lantai, kolam renang dua tingkat berbentuk laguna, serta sebuah stan DJ yang dinaungi atap berbentuk daun. Pramusaji muda dengan seragam bertema nautikal berseliweran. Musik senantiasa berdentum dari pengeras suara.

DestinAsian Indonesia
Kiri-kanan: Patung baja berjudul Bloom buatan seniman Pintor Sirait; patung-patung tupai yang menjadi ciri khas Artotel Beach Club.

Di Sanur, sebuah destinasi yang didominasi turis manula, ABC bagaikan sebuah mesin waktu yang menawarkan nostalgia. Restoran milik Grup Artotel ini menempati lahan peninggalan Sanur Beach Grove. Memasukinya dari Jalan Tamblingan, kita akan melewati sebuah taman bermain anak-anak, lalu mendarat di area drop off yang dihiasi sebuah patung baja berjudul Bloom buatan Pintor Sirait, seniman yang memang cukup diminati oleh pengusaha hotel di Bali. Karya Pintor lainnya terpajang misalnya di Hotel Alaya Kuta dan Artotel Sanur, sekitar 25 menit jalan kaki dari ABC.

Jantung ABC menampung Tree Bar yang ditembus dua batang pohon besar, zona makan utama, serta area multifungsi di lantai dua. Daybed dan sun lounger bertaburan dari tepi area utama ini menuju pantai yang menatap Gunung Agung di kejauhan. Berbeda dari properti lain Artotel, ABC tidak dilapisi mural, tapi ada sejumlah suguhan artistik berbahan bambu kreasi sang arsitek, Penjor Bali Mandiri, firma yang pernah menggarap proyek Finns Beach Club. Di lobi misalnya, mereka menciptakan sebuah kandil bambu dengan untaian rantai dan tudung lampu berbentuk cangkang kerang.

DestinAsian Indonesia
Daybed dan sun lounger di pantai yang menatap Gunung Agung.

Buku menu ABC cukup tebal dengan konten yang cukup inovatif, contohnya kalio betis kambing dan kecombrang martini. Konsep hidangannya, yang dinamai tropical comfort cuisine, diciptakan oleh Executive Chef Manuel Effendi, alumni restoran Mama San. Harga menunya sedikit di atas standar pasaran Sanur.

Sejak diresmikan Desember silam, ABC mulai merekah jadi wadah komunal baru. Tempat ini diminati kalangan remaja, pasangan baru, dan keluarga muda—segmen yang luput dari restoran klasik semacam Cafe Batujimbar. “Hampir tiap hari ada tiga hingga empat grup arisan datang ke sini,” tambah Catherine Julia, Marketing & Events Manager.

DestinAsian Indonesia
Kiri-kanan: Staf Artotel Beach Club dengan latar Tree Bar; menu grilled yellow fin tuna kreasi koki Manuel Effendi.

ABC juga aktif memikat publik lewat sejumlah acara. Pada 25 Februari silam, tempat ini meluncurkan jilid perdana Pasar Minggu Bazaar, ajang bulanan yang menjajakan camilan hingga aksesori busana. Tiap Rabu, ada pentas akustik, disusul empat hari berselang oleh pentas DJ yang memutar tembang era 80 dan 90-an. Sesuai standar Sanur, musik berhenti pukul 21:30. Tak peduli gayanya tua atau muda, semua tempat di kawasan ini memang diwajibkan tidur lebih cepat. Jl. Danau Tamblingan 35, Sanur, Bali; 0361/4491-888; artotelbeachclub.com; setiap hari dari pukul 08:00-22:00.

Comments