Bali Versi Paisi

Potret molek Pulau Dewata di mata Pascal Hierholz.

PenidaMerah Puri PuraUtara SawahBuwit Havana Galungan
Tanggal Merah di Pura Ped (Nusa Penida).

Oleh Cristian Rahadiansyah

Bicara seni lukis Bali, kita cenderung menengok ke belakang: menjenguk kembali para maestro asing yang dulu singgah dan berkarya di pulau ini. Tapi seni lukis Bali sebenarnya masih bergulir. Ia bukan prasasti yang membeku di masa silam. Sejumlah perupa muda, sebut saja Mahendra Yasa dan Wayan Arnata, aktif mengajukan bentuk segar yang memperkaya khazanah lokal. Tak kalah menarik, Bali juga masih memikat seniman asing. Walau belum berpengaruh signifikan seperti legiun maestro almarhum, karya mereka turut menghidupkan skena seni lokal.

Pascal Hierholz adalah bagian dari generasi kontemporer itu. Di Bali, pria kelahiran Prancis ini termasuk salah seorang artis yang paling aktif. Sejak mendarat di Indonesia pada 2010, dia sudah menggelar delapan pameran solo. Impressions of Indonesia, ekshibisi terakhirnya, dilangsungkan di Hotel Pullman Legian.

Pascal mengeksplorasi eksotisme budaya dan kemolekan alam Bali dengan pancaran suasana hati yang kuat. Dalam karya bertajuk Tanggal Merah di Pura Ped misalnya, dia menangkap angina sepoi-sepoi dari laut yang membuat sekujur pura seakan menari bahagia. Ekspresi serupa terlihat pada Pura di Bali Utara, di mana sang pelukis menciptakan bayangan dinding yang seolah menari mengikuti tembang dari para jemaah.

Hal lain yang juga menarik dicermati dari lukisannya adalah “daya jelajahnya.” Berbeda dari banyak artis yang mondok di satu daerah, Pascal melukis sembari berkelana. Layaknya fotografer yang berburu pemandangan, dia mengunjungi sudut-sudut pulau, dari Nusa Penida hingga Singaraja, demi mencari ilham dan subjek, lalu berkarya langsung di lokasi—en plein air. Pada kanvasnya kita melihat wajah Bali yang luas. “Saya mencoba melihat Bali dengan mata surrealist, tapi dengan gaya lirik,” jelasnya.

Pascal melukis paruh waktu. Dia bekerja di bidang periklanan. Lulus dari jurusan Seni Rupa Terapan di Paris, pria kelahiran 1961 ini hidup nomaden mengikuti peluang karier, termasuk ke Helsinki, Montreal, serta Beijing, di mana dia mendapatkan alias Paisi yang berarti “gelombang gagasan.” Tahun depan, sang artis berencana bermukim di Karangasem guna membuat buku tentang kabupaten di timur pulau ini. “Saya juga akan membuka galeri sendiri di Karangasem,” tambahnya. Kelak, Paisi mungkin akan berganti nama menjadi Nyoman.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2018 (“Bali Versi Paisi”).

Comments