Bali Diet Kantong Plastik

Problem sampah kian kronis di Bali. Melati Wijsen, salah seorang pendiri organisasi Bye Bye Plastic Bags (BBPB), mengajukan solusinya.

Melati Wijsen, salah seorang pendiri organisasi Bye Bye Plastic Bags (BBPB). (Foto: Johannes P. Christo)

Wawancara oleh Yohanes Sandy

Proses merintis BBPB?
Awalnya di 2013. Saat itu saya berusia 12 dan Isabel [adik] 10 tahun. Awalnya kami terinspirasi tokoh-tokoh perubahan seperti Nelson Mandela, Martin Luther King, dan Putri Diana. Apa yang bisa kami lakukan untuk dunia? Kami tergerak usai melihat lingkungan sekitar kami dan pantai-pantai di Bali yang tercemar sampah kantong plastik.

Fokusnya kantong plastik?
Kantong plastik merupakan benda yang paling sering didistribusikan setiap hari, padahal sejatinya tidak begitu diperlukan. Di beberapa negara, kantong plastik sudah dilarang, dan sebenarnya kita bisa bilang “tidak” saat penjual menawarkannya. Jadi kami pikir, kantong plastik bisa jadi awal yang baik untuk program ini.

Tentang program desa tanpa kantong plastik?
Program ini bagian dari BBPB. Kami memulainya empat tahun silam di Desa Pererenan dengan membagikan tas-tas pengganti keresek. Saat ini kami punya proyek di tiga desa. Di Desa Cemagi, kami menggiatkan para pelajar untuk memasang alat penjaring sampah di sungai. Di Desa Wanagiri Kauh, kami melahirkan Mountain Mama, program kolaborasi dengan para wanita lokal untuk membuat tas dari bahan daur ulang.

Agenda berikutnya dari BBPB?
Berbarengan dengan Hari Lingkungan Hidup dan Hari Laut Sedunia, kami akan menggelar plastic attack di mana kami meminta para pembeli yang berbelanja di supermarket atau toko untuk memereteli plastik-plastik pembungkus tak penting dan meninggalkannya di toko. Misinya sebagai pengingat bagi para pelaku industri untuk mengurangi penggunaan plastik. Lalu ada juga human chain di mana kami akan mengumpulkan orang sebanyak-banyaknya, kemudian berdiri bergandengan tangan menghadap laut sebagai bentuk kampanye.

Melati dan Isabel Wijsen memulai BBPB sejak 2013, saat masih berusia 12 dan 10 tahun.

Kisah sukses acara bersih-bersih pantai terbesar?
Awalnya ini kampanye pemberian stiker. Kami mengunjungi restoran, toko, dan hotel yang mulai mengurangi penggunaan kantong plastik. Kami tempel stikernya di pintu depan atau di kasir, kemudian kami potret dan unggah di media sosial. Pada 2015, kampanye ini mendapat sambutan positif, lalu kami gelar konferensi yang mempertemukan organisasi nirlaba dan pemerintah. Selanjutnya kami terus berkampanye hingga akhirnya pada 2017 lahirlah gerakan bersih-bersih terbesar di Bali di bawah nama One Island One Voice yang melibatkan 20 ribu orang.

Perlukah menutup Bali sementara dari turis, seperti di Boracay?
Kalau pemerintah bisa mengusahakannya, itu hal yang bagus. Saya sebenarnya setuju kalau bisa terealisasi agar alam bisa detoks dari sampah, dan periode penutupan tersebut dimanfaatkan untuk membenahi kebijakan dan manajemen sampah. Tapi kehidupan di Bali sangat tergantung pada pariwisata. Saya khawatir efeknya malah hanya mengganggu perekonomian warga. Yang terpenting sebenarnya adalah mengurangi produksi kantong plastik dan focus pada pencegahan penggunaannya.

Cara terbaik diet kantong plastik?
Tidak ada cara tunggal untuk menyelesaikan masalah ini. Diperlukan tindakan bertahap untuk mengedukasi publik. Cara terfavorit kami adalah memberikan seminar di sekolah dan menggelar lokakarya. Cara lainnya adalah edukasi lewat sosial media. Coba cek tagar #NoExcuseForSingleUse.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/September 2018 (“Sapu Bersih”).

Comments