Astana: Kota Paling Ajaib Sejagat

Seperti kota khayalan yang dibangun jin atau alien dalam waktu semalam.

Expo 2017 mengusung tema yang amat penting bagi nasib bumi: energi masa depan. Tapi yang tak kalah menyita perhatian adalah lokasi pergelarannya: Astana, kota paling aneh dan ajaib sejagat

Teks & Foto oleh Andrea Forlani

Alien bukan lagi cerita fiksi. Juni silam, kapal induk mereka telah mendarat di Astana, Ibu Kota Kazakhstan. Ukurannya kolosal, bentuknya bulat, tubuhnya tembus pandang dan bercahaya. Kapal ini sekarang terparkir di lahan Expo 2017, hanya beberapa kilometer dari pusat kota.

Expo, ajang turunan World Expo, adalah wadah bagi negara dan organisasi internasional untuk bersilaturahmi sekaligus beradu pintar dalam merumuskan solusi bagi persoalan-persoalan krusial dunia. Di tiap episodenya, tuan rumahnya dan temanya berbeda. Pada 2012 di Yeosu, Korea, panitia mengajukan tema “konservasi laut,” sementara kini di Astana mereka mengusung tema “energi masa depan.” Pertanyaan besar yang diajukan: bagaimana caranya menyediakan energi yang berkelanjutan bagi semua orang sembari di saat bersamaan mereduksi emisi CO2?

Kiri-kanan: Nur Alem, globe berdiameter 80 meter rancangan Adrian Smith; interior Nur Alem, paviliun milik Kazakhstan.

Kapal alien yang saya singgung di awal tulisan juga bertekad menjawab pertanyaan rumit tersebut. Bola yang menghipnotis mata ini sebenarnya paviliun milik Kazakhstan. Nama resminya Nur Alem (“Cahaya Dunia”). Saya menganalogikannya sebagai kapal alien karena sosoknya menyerupai Death Star dalam film Star Wars.

Nur Alem menjulang 100 meter dan memiliki diameter 80 meter, menjadikannya bola terbesar di dunia.  Globe gigantik ini didesain oleh Adrian Smith + Gordon Gill Architecture, firma yang memang terkenal akan karyanya yang fenomenal. Rampung mendesain Burj Khalifa, gedung terjangkung sejagat, Adrian Smith kini menggarap Jeddah Tower yang siap menorehkan rekor baru ketinggian gedung.

Instalasi yang dipasang di Nurzhol Boulevard guna memeriahkan Expo, ajang turunan World Expo.

Nur Alem bisa dimasuki. Menumpang elevator futuristik, pengunjung bisa singgah di delapan lantainya yang masing-masingnya menggelar pameran bertema energi alternatif, misalnya energi luar angkasa, kinetik, serta biomassa. Semuanya dijelaskan memakai teknologi interaktif dan multimedia. Mendarat di lantai puncak, suguhannya lebih mirip uji nyali: seutas jembatan beralaskan kaca. Beberapa orang tampak membatu akibat terserang akrofobia; sebagian menjerit panik dan berusaha mencari pegangan.

Expo 2017 diikuti oleh 22 organisasi dan 115 negara, termasuk empat negara anggota ASEAN: Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Sejak 10 Juni-10 September, seluruh partisipan memamerkan beragam gagasan dan terobosan yang sanggup mengatasi ketergantungan bumi pada minyak.  Tapi   Expo bukan semata soal ide.  Presentasi juga penting. Gengsi peserta dipertaruhkan. Di sekeliling Nur Alem, sebidang lahan dalam formasi setengah lingkaran dihuni paviliun negara-negara peserta, sementara lahan sisanya dikhususkan untuk panggung, pujasera, serta zona seni dan hiburan. Beberapa negara tampil dengan paviliun yang digarap serius, walau ada pula yang hadir setengah hati dengan tampilan yang banal.

Kiri-kanan: Gedung Garib, istana kepresidenan Ak orda; Nur-Astana, masjid terbesar ketiga di Asia Tengah.

Austria menyewa Johann Moser, arsitek BWM, untuk mengerek paviliun bergaya komikal.  Interiornya berisi aneka instalasi yang bisa diaktifkan memakai energi dari tubuh pengunjung. Tak kalah menarik, Inggris menamai paviliunnya “We Are Energy,” hasil kolaborasi apik antara arsitek Asif Khan dan musisi Brian Eno. Pujian juga patut diberikan kepada Rusia yang mengeksplorasi potensi energi dari wilayah Arktika. Dengan luas menembus 1.000 meter persegi, paviliun Rusia menampilkan permainan cahaya kutub dan sejumlah instalasi teatrikal, salah satunya bongkahan es Arktika setinggi empat meter.

Galibnya Expo, negara tuan rumah menjadikannya medium unjuk diri.  Kazakhstan, negara Asia Tengah pertama yang menanggap Expo, memanfaatkannya guna memperlihatkan kepada dunia keajaiban ibu kotanya.

Kazakhstan, negara landlocked terluas, merupakan salah satu produsen utama minyak dunia.  Pada 2013, ia masuk kelompok 10 negara eksportir minyak terbesar. Mengingat populasinya cuma 18 juta jiwa, tiap orang di sini sepatutnya berstatus jutawan, tapi nyatanya pendapatan per kapita negeri ini justru kalah dibandingkan Malaysia.  Ke mana semua devisa itu mengalir?

Seperti   negara-negara minyak di gurun, Kazakhstan mengidap semacam kekenesan untuk mengerek kota yang fantastis. Harapannya, orang akan tertarik datang dan membuka bisnis. Tujuannya apa lagi kalau bukan mencari sumber kas alternatif guna menyiasati ketergantungan pada petrodollar.



Comments

Related Posts

3942 Views

Book your hotel

Book your flight