Alasan Baru Mengunjungi Belitung

  • Mendaki gunung menjadi opsi aktivitas baru di Belitung.

    Mendaki gunung menjadi opsi aktivitas baru di Belitung.

  • Kedai legendaris Kong Djie melestarikan teknik tradisional peracikan kopi.

    Kedai legendaris Kong Djie melestarikan teknik tradisional peracikan kopi.

  • Danau Kaolin, bekas situs tambang yang telah disulap menjadi objek wisata alam dan sejarah.

    Danau Kaolin, bekas situs tambang yang telah disulap menjadi objek wisata alam dan sejarah.

  • Pantai indah di kompleks penginapan Arumdalu.

    Pantai indah di kompleks penginapan Arumdalu.

  • Kepiting segar yang bisa dibeli dari nelayan lokal.

    Kepiting segar yang bisa dibeli dari nelayan lokal.

  • Laguna Kubing berlokasi di sisi selatan pulau dan menjadi objek wisata alternatif di Belitung selain pantai dan pulau.

    Laguna Kubing berlokasi di sisi selatan pulau dan menjadi objek wisata alternatif di Belitung selain pantai dan pulau.

  • Dermaga tempat kapal-kapal nelayan berlabuh.

    Dermaga tempat kapal-kapal nelayan berlabuh.

  • Bertemu dengan satwa liar dalam perjalanan ke Laguna Kubing.

    Bertemu dengan satwa liar dalam perjalanan ke Laguna Kubing.

  • Pantai tetap menjadi daya tarik utama Belitung.

    Pantai tetap menjadi daya tarik utama Belitung.

Click image to view full size

Demam Laskar Pelangi memang sudah reda, tapi Belitung tak mau begitu saja dilupakan. Magnet-magnet wisata baru diciptakan agar turis sudi kembali.

Oleh Reza Idris
Foto oleh Evan Praditya

Laguna Kubing berlokasi di sisi selatan pulau dan menjadi objek wisata alternatif di Belitung selain pantai dan pulau.

Laguna Kubing berlokasi di sisi selatan pulau dan menjadi objek wisata alternatif di Belitung selain pantai dan pulau.

Andai saya berada di kaki Rinjani, tawaran Wahyu mungkin terdengar wajar: mendaki gunung, lalu berendam di laguna. Tapi saya sedang berada di Belitung. Saya lebih mengenal Belitung sebagai pulau yang menyuguhkan pantai-pantai elok, pulau yang menghasilkan timah, pulau yang menyentuh kita lewat kisah anak-anak miskinnya yang haus pendidikan, juga menghebohkan kita lewat putra daerahnya yang menjadi gubernur paling vokal di Indonesia. Di Belitung, gunung dan laguna tidak pernah tercantum dalam daftar objek wisata.

Bagaimanapun, kejutan selalu menyenangkan dalam setiap trip. Jadi saya pun menyambut tawaran Wahyu. “Saya pindah ke sini karena Laskar Pelangi,” Wahyu menuturkan kisahnya saat kami menyusuri sisi selatan pulau. Wahyu, seorang pendatang dan pencinta benda antik, kini memimpin Billiton Hotel, penginapan yang menjadi saksi sejarah pertambangan timah. Bangunan hotel ini pernah ditempati kantor PT. Timah hingga 1992. Billiton, yang dibuka pada 2008, berusaha merawat memori bangunan dengan mempertahankan fasadnya.

Mobil kini melintasi jalan aspal mulus, melewati rumah-rumah panggung, serta perkebunan lada dan sawit. Jalan sangat lengang. Kata Wahyu, jalan ini populer sebagai jalur touring klub sepeda dan sepeda motor.

Angin panas Mei berkesiur, membawa aroma laut dari Selat Gaspar yang memisahkan Belitung dari Bangka. Memasuki kawasan Membalong, upacara syukuran Maras Taun sedang digelar di Desa Padang Kandis. Warga menciprati air ke kendaraan dan jalan guna menolak bala sekaligus mendatangkan berkah. Mereka juga menyuguhkan sesajen yang terdiri dari beras ketan, gula jawa, kayu manis, dan kemangi. Setelah itu, semua orang menikmati tradisi makan bersama yang disebut Bedulang. Ritual semacam ini hanya diketahui oleh segelintir wisatawan. Saya beruntung bisa menyaksikannya, juga ikut diundang dalam jamuannya.

Mobil kini berbelok ke trek sempit yang dipagari semak, lalu berhenti di depan padang ilalang. “Jalan terlalu sempit, kita harus berjalan kaki,” ujar Tomo, staf hotel sekaligus pemandu saya. Di bawah terik, kami meniti jalan setapak, lalu menerjang rute berbatu. Kubing, gunung yang hendak kami taklukkan, tingginya hanya sekitar 300 meter, tapi medannya menguras stamina. Tiba di kaki gunung, batu-batu bersusun membentuk tangga alami menuju puncak. Saya mengatur napas, lalu mulai mendaki. Selang 20 menit, gemericik air mulai terdengar.

Laguna Kubing tampak steril dari sentuhan manusia. Tidak ada pondokan istirahat, restoran, maupun toilet umum. Tempat ini ditemukan pada 2006 oleh sekelompok pencinta alam. “Mayoritas pendaki bermalam dan kamping di sini,” ujar Tomo.

Air sedingin es mengalir dari puncak bukit. Datang di April, kata Tomo, kucuran airnya lebih deras. Saya membuka pakaian, lalu menceburkan diri, berupaya menghapus lelah dan peluh usai mendaki.



Comments

Related Posts

7885 Views

Book your hotel

Book your flight