Aceh: 10 Tahun Setelah Tsunami

Satu dekade pascatsunami, Aceh berubah dan bergegas. Syariat diterapkan, tapi pariwisata tidak dibunuh. Konser hip hop digelar, peragaan busana diselenggarakan, titik-titik selam tetap menggoda.

Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi saksi bisu tragedi tsunami 2004.

Oleh Fatris MF
Foto oleh Muhammad Fadli

Dari Meulaboh yang porak-poranda, saya menyisir ke Calang yang telah rata. Masih di pesisir barat Aceh, saya meneruskan perjalanan ke Lamno yang mirip baju lusuh yang terkoyak. Ada kalanya saya terperangkap dalam baku tembak TNI versus GAM di dusun-dusun pedalaman yang selamat dari amukan gelombang ganas. Hampir lima jam dari situ, barulah Banda Aceh, yang dulu bernama Kuta Raja, terlihat.

Sosoknya berantakan bagai kapal habis dihantam torpedo. Itu pemandangan 10 tahun silam, usai tsunami menerjang, ketika saya mengabdi sebagai pelansir makanan bagi pengungsi. “Inilah ujung kesengsaraan itu, nak!” kata Rosni Idham, penyair terkenal Aceh, ketika saya menginap di rumahnya di Meulaboh. Rumahnya, yang tidak begitu luas, dijadikan tempat penampungan pengungsi. Selain di rumah Rosni, saya menginap di tenda-tenda pengungsian bersama ribuan korban dengan sorot mata kosong akibat kehilangan harapan. Tidur saya dipenuhi mimpi buruk.

“Mimpi buruk, di sini, adalah kenyataan itu sendiri,” kata kawan saya, Beni Tan Mattee. Apa yang bisa diharapkan dari negeri yang tengah dicabik-cabik bencana, Nyak Ros? Apa yang harus saya perbuat di tengah kehancuran dan letupan senjata, Ben? Namun, hanya tujuh bulan pascabencana, perang kontan berhenti. “Mungkin ini hikmah dari sebuah musibah,” kata Beni lagi yang saya temui beberapa tahun kemudian. Bumi Aceh dinyatakan damai. TNI dan TNA sepakat mengakhiri perseteruan sengit yang telah berlangsung puluhan tahun. Gelombang hitam lautan secara tidak langsung menciptakan perdamaian. Mata dunia tersedot ke Aceh. Bantuan tak habis-habisnya dipasok.

Benar kata penyair Rosni Idham: “kesengsaraan tentu ada ujungnya, penderitaan tentu ada batasnya.” Satu dasawarsa setelah itu, saya mengunjungi tanah yang sama. Ada apa di sana kini?

Papan penunjuk arah evakuasi tsunami yang dipasang pasca tragedi.

Saya datang ke Aceh via jalur darat. Bus yang saya tumpangi melesat di jalan mulus, melewati Gunung Seulawah, melintasi Hutan Bireuen, menerobos Sigli. Daerah-daerah itu, 10 tahun lalu, masih dilingkari warna hitam pada peta militer. Namun kini nyaris sudah tidak ada lagi pos-pos jaga yang dikerumuni pria sangar berbaju loreng dengan senjata terkokang.

Memasuki Ibu Kota Serambi Mekah pada waktu pagi di hari libur bagaikan memasuki sebuah kota tanpa polusi. Jalan sepi. Tak ada kendaraan melintas, selain kendaraan yang saya tumpangi. Mobil saya makin pelan saat melewati taman-taman kota yang rimbun. Sebuah kanal (atau krueng dalam bahasa Aceh) menghubungkan Kuta Raja dengan wilayah lain. Orang-orang menyebutnya Krueng Raya.

Pagi baru saja dimulai. Angin bertiup pelan. Hasan Tiro tersenyum dalam baliho, mengangkat tangan ke arah saya yang melintas, dan berucap dalam diam: “Selamat datang di Nanggroe!” Bendera Partai Aceh berkibar di mana-mana. Simbol dari pergerakan masa lalu yang penuh luka itu begitu jemawa.

Bendera yang dulu saya temui di kampung-kampung sepi—yang hanya dihuni anak-anak, ibu-ibu, dan lelaki yang telah uzur—kini mewarnai seisi kota. Gambar partai lain dan wajah-wajah sisa Pemilu 2014 tidak kalah banyak, mengerubuti tiang-tiang, tembok-tembok, hingga persimpangan jalan.

Kopi, minuman favorit di Aceh. Ada banyak warung kopi seperti ini di Serambi Mekkah.

Matahari baru muncul, padahal sudah pukul tujuh. Memang, Tuhan memulai pagi lebih lambat di sini ketimbang Jakarta. Saya berkeliling kota. Jalan-jalan rapi, pepohonan hijau, taman kota dipenuhi orang-orang yang berolahraga. Kadang jarak satu taman dengan taman lainnya hanya 100 meter. Menjelang siang, aroma kopi menguap dari kafe-kafe yang jumlahnya susah dihitung. Aroma kopi arabika dari pedalaman Gayo tersaji di meja-meja kafe di Banda Aceh. “Lebih dari seribu, mungkin dua ribu,” kata seorang penyeduh kopi tentang jumlah warung kopi. Aceh memang surga bagi pecandu kafein. Di pegunungan yang berlapis-lapis di Aceh Tengah, kopi arabika tumbuh subur. Di Indonesia, Dataran Tinggi Gayo di jantung Aceh merupakan salah satu penyuplai kopi arabika terbesar di dunia.

Saya mengelilingi Banda Aceh pada Minggu yang lengang, menyisir pantai-pantai berpasir putih dari Lhoknga, Lampuuk, Ulee Lheue, hingga pantai-pantai anonim. Orang-orang bersepeda mengisi hari libur, sementara beberapa mobil hijau “aparat” bergulir santai. Di tepi pantai, mobil-mobil berwarna suram itu terparkir; sebagian pemiliknya menyantap jajanan dan kelapa muda. Setiap kali melihat aparat di Aceh, ingatan saya selalu terlempar ke peristiwa satu dekade silam, ketika tentara bersiaga di setiap titik.

“Dulu memang. Saya pakai rompi anti peluru, dengan AK -47 terkokang di tangan,” kata seorang perwira polisi, AKP Taupik. “Sekarang Aceh telah aman buat siapa saja. Saya bahkan tidak tahu di mana senjata saya simpan.” Saya pun minum air kelapa, memandang hamparan Pantai Lampuuk bersama ratusan keluarga. Di ujung sebuah jalan bekas hantaman tsunami, saya berhenti. Seorang bapak membawa keluarganya ke pantai untuk memancing. Aceh telah aman, kata Taupik berulang-ulang. Tetapi tidak untuk pejalan kaki di jalan raya. “Jalan raya begitu berbahaya sekarang, itu salah satu masalah kami,” kata seorang Polantas yang saya temui. Menyeberang jalan di pusat Kota Banda Aceh jauh lebih mengancam ketimbang menerabas belukar. Anda mesti bersabar menunggu jalanan sepi. Entah kenapa, tak satu pun pengendara sudi memberi kesempatan pejalan kaki menyeberang.

Di pusat kota, jalan mulus terbentang, dipenuhi mobil yang mengilap, sementara polisi lalu lintas bersorak dengan pengeras suara di tengah kota, mengajak orang-orang untuk memperhatikan keselamatan, tidak ugal-ugalan, mengenakan helm, mematuhi rambu. “Orang-orang di sini lebih banyak yang tidak mengetahui caranya berkendara,” ujar seorang anggota Polantas. “Mereka bisa saja terlihat mematuhi lampu merah, namun serempak tancap gas ketika angka di lampu masih menunjukkan angka empat.

Suara azan zuhur merambat dari menara Masjid Raya Baiturrahman. Saya mengikuti arah si empunya suara, menyeberang jalan dengan rasa was-was. Di depan masjid, sebuah plakat penembakan Köhler didirikan. Dia perwira Belanda yang tewas dibunuh ketika hendak menaklukkan Aceh pada akhir abad ke-19. Masjid Baiturrahman dipenuhi orang yang duduk-duduk menghindari sengatan panas. Beberapa pelancong asal Malaysia berfoto-foto dengan latar menara yang mencucuk langit. Dengan serempak, mereka kemudian berkeliling kota dan menyatroni Museum Tsunami. Ketika senja, saya dan para wisatawan menyambangi pantai-pantai berpasir putih. Pada waktu malam, orang-orang akan tumpah-ruah di jalanan, menyerbu kafe-kafe. Orang Aceh banyak meluangkan waktu untuk menyeruput kopi. Warung-warung dipenuhi canda tawa. Tua dan muda, laki-laki dan perempuan, semua meringkuk di kafe. Beragam masakan siap dilahap. “Di Banda Aceh, hidup dimulai pada malam hari,” kata seorang pemilik kafe berseloroh.

Saya berkeliling, berpindah dari satu kafe ke kafe lain, dari satu cangkir kafein ke cangkir lainnya. Sekelompok pria mengajak kami bergabung, kemudian menyuguhi kami obrolan yang tanpa henti. “Dulu, kami mesti berada di rumah pukul delapan malam, tapi sekarang terserah,” kata Aldi. Jam di kafe telah menunjukkan pukul empat pagi. Jalan utama di depannya kosong. Hanya dengus dingin udara pagi yang sesekali melintas.

Para warga lokal di Museum Tsunami di Meulaboh.

Mungkin benar kata Taupik, Aceh telah aman. Di hari berikutnya, saya duduk di sebuah kafe di dekat Masjid Baiturrahman. Dua orang pemuda tegap duduk di hadapan saya. Salah satunya Ahmad, staf sekretariat partai. “Beginilah,” kata Ahmad membuka perbincangan seputar perjuangan masyarakat Aceh yang belum rampung. Tapi, perjuangan yang mana lagi? “Apa artinya damai, bila banyak dari kami yang masih menganggur?” teman Ahmad memotong. Dulu, Ahmad dan temannya tergabung dalam TNA (Teuntra Neugara Aceh, yang disebut Gerakan Aceh Merdeka oleh pemerintah). Ketika perjanjian damai tercipta, ribuan TNA turun gunung. Ahmad turut di dalamnya. “Pergilah ke desa-desa, kau akan tahu,” Ahmad tersenyum, kendati sorot matanya tajam menikam, entah hendak menyampaikan apa.

Orang Aceh kerap sulit diterka. Mereka seperti tak rela memperlihatkan gejolak perasaannya kepada orang lain. Dulu, setelah tsunami melanda, tidak sekalipun saya melihat orang dengan tangan tengadah memohon batuan, sekalipun mereka jelas-jelas sudah berhari-hari puasa makanan yang layak. Barangkali inilah watak-kultural orang Aceh: superioritas yang tidak kenal ampun dari sebuah provinsi di ujung utara Sumatera dengan riwayat perang sipil yang panjang.

Zikir massal di Masjid Raya Baiturrahman.

“Sumatera selalu rusuh,” kata Paul van’t Veer, penulis Belanda, setengah abad silam. JHR Köhler, seorang Mayor Jenderal Belanda, pernah menghimpun empat batalion tentara dari pulau Jawa demi menyerbu Aceh. Cita-cita Köhler sederhana: mendirikan benteng di muara sungai Aceh. Tapi dia tewas dalam mengejar ambisinya, persisnya saat hendak menguasai sebuah masjid yang semula dia anggap tempat sultan bertakhta.

Setelah itu, 13 ribu serdadu dikirim Belanda. Yang terjadi, 1.500 tewas dan 7.000-an luka parah, begitu tulis Paul dalam catatannya, De Atjeh-Oorlog (1969). Orang Aceh punya tatapan tajam, dan mungkin terlihat agak tertutup kepada orang asing. Puluhan tahun didera perang, warga Aceh kesulitan menghapus dendam. “Bagaimana bisa dengan mudah menghapuskan dendam dari anak-anak yang melihat orang tua mereka ditembaki, kakak perempuan mereka diperkosa?” kata Rozi di sebuah kafe. Saya diam, terhening, tapi warung kopi tetap riuh oleh obrolan. Segala perbincangan di Aceh memang disemai di warung kopi. >>

Comments